• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Jumat, November 6, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in deNews

Motif Batik Cakra Galuh, Menerjemahkan Filosofi Galuh ke Era Kini

bydejurnalcom
Sabtu, 8 Agustus 2026
Reading Time: 4 mins read
Motif Batik Cakra Galuh, Menerjemahkan Filosofi Galuh ke Era Kini
ShareTweetSend

CIAMIS, deJurnal – Upaya mengenalkan kembali nilai dan identitas Galuh terus dilakukan melalui berbagai karya.

Salah satunya lewat Batik Cakra Galuh, motif yang dikembangkan pendiri Prameswari Galuh sekaligus owner Arimbi Wedding Panawangan, Mia Sumiari Dewi.

Batik Cakra Galuh diperkenalkan dalam momentum prosesi pengistrenan Raden Rafiq Hakim Radinal sebagai Wawakil Kerajaan Galuh di Keraton Selagangga, Ciamis, Sabtu (8/8/2026).

BacaJuga :

Polisi Amankan Terduga Pelaku Penusukan yang Tewaskan Pemuda di Cibalong Garut

Syarikat Islam Garut Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah, Perkuat Pelayanan Umat hingga Pemberdayaan Masyarakat

Polres Garut Perkuat Sinergi dengan Masyarakat melalui Jumat Keliling di Masjid Besar Tarogong

Bagi Mia, Cakra Galuh bukan sekadar desain dekoratif yang ditempelkan pada selembar kain.

Motif tersebut merupakan upaya menerjemahkan kembali nilai filosofis peninggalan Galuh ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Inspirasi utamanya berasal dari kembang Cakra Rahayu Kancana, simbol yang memiliki keterkaitan dengan identitas Galuh dan disebut dalam Prasasti Kawali

Dari sanalah Mia mencoba membaca kembali makna yang terkandung di dalamnya.

“Kalau kita ingin sejahtera, ada tiga hal yang harus seimbang, yaitu hubungan manusia dengan Sang Pencipta, hubungan manusia dengan sesama dan hubungan manusia dengan alam,” kata Mia saat menjelaskan filosofi Batik Cakra Galuh.

Bukan Sekadar Motif, tetapi Amanat Leluhur

Menurut Mia, pemaknaan terhadap Cakra Rahayu Kancana tidak semestinya berhenti pada simbol kerajaan atau pemerintahan.

Nilai yang terkandung di dalamnya justru dapat dibaca lebih luas dan relevan dengan kehidupan setiap orang.

Ia mengaitkannya dengan tiga ranah kehidupan, yakni karesian, karatuan dan karamaan

Karesian berkaitan dengan dimensi spiritual dan bagaimana manusia membangun hubungan dengan Sang Pencipta.

Karatuan menyentuh ranah sosial, yakni bagaimana manusia memperlakukan sesama. Sementara hubungan dengan alam mengingatkan manusia bahwa kehidupan tidak dapat dilepaskan dari lingkungan tempat ia berpijak.

“Jadi bukan hanya untuk pemimpin. Nilainya bisa diterapkan mulai dari lingkup pemerintahan, masyarakat, keluarga, sampai kepada diri pribadi,” ujarnya.

Pemikiran tersebut kemudian dituangkan Mia ke dalam motif Cakra Galuh.

Ia ingin pesan leluhur yang mungkin tidak mudah dipahami generasi sekarang dapat disampaikan melalui medium yang sederhana kain yang dikenakan sehari-hari.

“Jadi ini bukan sekadar berkain. Ada amanat yang ingin saya sebarkan,” katanya.

Dari Simbol Menjadi Bahasa Visual

Motif Cakra Galuh disusun dari sejumlah unsur visual yang masing-masing memiliki makna.

Ada unsur lingkaran, garis, tunas dan bunga yang mekar. Keseluruhan elemen tersebut dirangkai menjadi satu kesatuan yang menggambarkan keselarasan kehidupan.

Lingkaran dimaknai sebagai simbol keagungan spiritual yang tidak terbatas. Sementara tunas dan bunga yang tumbuh menggambarkan dinamika alam serta kehidupan yang terus berkembang dan beresonansi dengan energi ilahi.

Dengan pendekatan itu, Cakra Galuh tidak hanya menawarkan keindahan visual. Motif tersebut sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan gagasan mengenai keseimbangan hidup.

Mia pun berharap motif tersebut tidak hanya dikenal di Kabupaten Ciamis.

“Harapan saya, ini bisa menjadi identitas Galuh. Bukan hanya dikenal di Ciamis, tetapi suatu saat bisa dikenal lebih luas, bahkan sampai dunia,” tuturnya.

Lima Pengrajin Mulai Dibina

Gagasan tersebut perlahan diarahkan menjadi kegiatan ekonomi kreatif.

Pada tahap awal, Mia telah mendapatkan dukungan pembinaan pemerintah untuk lima pengrajin yang terlibat dalam pengembangan produk.

Menurutnya, pengembangan motif Cakra Galuh tidak boleh berhenti pada peluncuran. Semakin banyak masyarakat yang mengenal dan menggunakan motif tersebut, semakin terbuka pula peluang untuk mengembangkan ekosistem usaha di sekitarnya.

“Tujuan saya bukan hanya menjual kain. Yang paling penting bagaimana filosofi ini bisa tersebar dan dikenal masyarakat luas,” katanya.

Saat ini produk Cakra Galuh dikembangkan melalui sejumlah teknik.

Untuk kain batik, tersedia produk dengan teknik batik cap. Sementara untuk kain bermotif batik tersedia teknik printing dan printing prada.

Batik tulis juga direncanakan dikembangkan, terutama untuk kebutuhan khusus dan pesanan tertentu.

Namun, Mia memilih tidak menjadikan harga tinggi sebagai orientasi utama pengembangan motif.

Menurut dia, penyebaran nilai filosofis menjadi pertimbangan penting agar produk Cakra Galuh dapat dijangkau lebih banyak kalangan.

Harga Mulai Rp80 Ribu

Dari sisi produk, kain printing dengan kualitas kain primis berukuran 2 meter x 110 sentimeter dipasarkan sekitar Rp200 ribu per lembar.

Kain dengan teknik printing prada menggunakan bahan yang sama dengan ukuran 2 meter x 110 sentimeter dibanderol sekitar Rp250 ribu.

Sementara kain motif untuk ukuran 1 meter tersedia mulai Rp80 ribu.

Untuk kebutuhan premium, tersedia pula produk dengan bahan katun satin yang dipasarkan sekitar Rp400 ribu untuk ukuran yang sama.

Mia juga memastikan setiap produk tidak hanya membawa motif.

Di dalam kemasan produk disertakan informasi mengenai filosofi Cakra Galuh. Bahkan, ia menyiapkan buku kecil agar pembeli tidak berhenti pada mengenakan kain, tetapi memahami cerita di balik motif yang dipakainya.

Menjadikan Galuh Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari

Bagi Mia, perjalanan Cakra Galuh masih panjang. Ia tidak ingin motif tersebut hanya muncul dalam satu kegiatan atau menjadi tren sesaat. Yang ingin dibangun adalah sebuah identitas yang tumbuh bersama masyarakat.

Karena itu, pengembangan produk akan dilakukan secara bertahap, termasuk memperluas jenis kain, teknik produksi dan keterlibatan pengrajin.

Di balik semua itu, ada satu tujuan yang terus dipegang Mia membuat nilai-nilai Galuh kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau orang memakai kain ini, saya berharap bukan hanya melihat motifnya indah. Tapi kemudian tahu bahwa di dalamnya ada pesan tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam,” ujarnya.

BP2D: Bisa Menjadi Identitas Wisata Budaya

Upaya tersebut mendapat perhatian dari Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis.

Ketua BP2D Kabupaten Ciamis, Endang Haris Juandana, melihat Batik Cakra Galuh memiliki nilai lebih karena mempertemukan tiga unsur sekaligus, yakni budaya, ekonomi kreatif dan promosi pariwisata.

Menurut Endang, produk budaya seperti batik dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang melihat destinasi, tetapi juga membawa pulang cerita dan identitas daerah melalui produk yang mereka beli.

“Batik Cakra Galuh ini memiliki potensi untuk menjadi bagian dari identitas wisata budaya Ciamis. Yang dijual bukan hanya kainnya, tetapi juga cerita, filosofi dan nilai-nilai Galuh yang ada di balik motif tersebut,” ujar Endang.

Ia menilai pengembangan produk seperti Cakra Galuh perlu terus didorong melalui kolaborasi antara pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, komunitas budaya dan sektor pariwisata.

“Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Ciamis sekaligus media promosi pariwisata. Orang mengenakan motifnya, kemudian bertanya tentang ceritanya. Dari situ identitas daerah ikut dikenalkan,” katanya.

Endang menambahkan, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik pariwisata Ciamis. Terlebih, Ciamis memiliki kekayaan sejarah dan budaya Galuh yang dapat terus dikembangkan menjadi produk kreatif.

BP2D sendiri selama ini mendorong promosi pariwisata Ciamis melalui berbagai kegiatan dan jejaring, termasuk dengan mengangkat potensi ekonomi kreatif serta produk unggulan daerah.

Dengan cara itu, Cakra Galuh tidak berhenti sebagai ornamen.

Ia menjadi sebuah bahasa baru untuk menceritakan Galuh melalui kain, melalui karya, sekaligus melalui aktivitas ekonomi kreatif masyarakat.

Dan dari sebuah rumah produksi di Panawangan, pesan tentang Galuh itu perlahan mulai dibawa keluar, dari satu kain ke kain lainnya. (Nay Sunarti)

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Diberi Amanah Jadi Wawakil Galuh, Raden Rafiq Bicara Kanyaah dan Persatuan

Next Post

Ozil Ukir Prestasi di Asian BMX Championship 2026, Selisih 0,82 Detik dari Juara Dunia

Related Posts

Ngikis Karangkamulyan, Kang Yat Ungkap Makna Budaya dan Kearifan Leluhur
deNews

Ngikis Karangkamulyan, Kang Yat Ungkap Makna Budaya dan Kearifan Leluhur

Jumat, 6 November 2026
Ngikis Karangkamulyan, Jejak Leluhur Galuh yang Terus Dirawat
deNews

Ngikis Karangkamulyan, Jejak Leluhur Galuh yang Terus Dirawat

Jumat, 6 November 2026
Raih 227 Suara, Galih Hendrawan Pimpin APDESI Kabupaten Bandung Periode 2026–2031
deNews

Raih 227 Suara, Galih Hendrawan Pimpin APDESI Kabupaten Bandung Periode 2026–2031

Jumat, 6 November 2026
Polisi Amankan Terduga Pelaku Penusukan yang Tewaskan Pemuda di Cibalong Garut
deNews

Polisi Amankan Terduga Pelaku Penusukan yang Tewaskan Pemuda di Cibalong Garut

Jumat, 6 November 2026
Syarikat Islam Garut Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah, Perkuat Pelayanan Umat hingga Pemberdayaan Masyarakat
deNews

Syarikat Islam Garut Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah, Perkuat Pelayanan Umat hingga Pemberdayaan Masyarakat

Jumat, 6 November 2026
Polres Garut Perkuat Sinergi dengan Masyarakat melalui Jumat Keliling di Masjid Besar Tarogong
deNews

Polres Garut Perkuat Sinergi dengan Masyarakat melalui Jumat Keliling di Masjid Besar Tarogong

Jumat, 6 November 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Dinas PU dan Pemborong Sepakat Pekerjaan Pakai Pasir Merah Dibongkar Serta Dibangun Ulang

Kamis, 2 September 2021
Andrianto (kiri) saat bersama Siti Mamduhah, Ketua DKKG Kang Jiwan dan salah satu legislator Garut Syamsudin saat berziarah ke makam Raden Tumenggung Ardikusumah di Astana Kalong, bebebrapa waktu lalu.

Kini, Makam Raden Tumenggung Ardikusumah di Astana Kalong Garut Banyak Diziarahi Tokoh Masyarakat

Sabtu, 22 Juli 2023

KabarDaerah

Victor Jhon Rantung Berharap FPK Jadi Rumah Nusantara bagi Masyarakat Etnis, Suku dan Budaya

Rabu, 12 Maret 2025

Patroli KRYD dan Operasi Pekat, Polsek Pasirwangi Sita Ratusan Butir Obat Terlarang dan Miras

Minggu, 14 Desember 2025
Ketua DPRD Subang, H. Narca Sukanda

Ketua DPRD Subang : Mari Kita Sukseskan Pilkades Serentak 2021

Senin, 6 Desember 2021

Sinergi Pemerintah dan PMI Wujudkan Budaya Kemanusiaan di Pamulihan Lewat Donor Darah

Rabu, 26 November 2025

Seluas Bumi Setinggi Langit, Harapan Manfaat Dari Pohon Kawung

Minggu, 10 Mei 2020

Ingat! 13 Agustus 2024, Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Garut Hasil Pileg 2024

Minggu, 4 Agustus 2024

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste