CIAMIS, deJurnal,– Sebanyak 374 siswa Sekolah Dasar (SD) dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SD tingkat Kabupaten Ciamis, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis tersebut berlangsung di SDN 1 Cijeungjing. Para siswa mengikuti sejumlah mata lomba yang mengangkat kemampuan berbahasa dan bersastra Sunda.
FTBI tidak hanya menjadi ajang untuk mencari siswa terbaik. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Disdik Ciamis mengenalkan, menjaga dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu serta budaya daerah.
374 Siswa Adu Kemampuan
Koordinator Kegiatan FTBI Kabupaten Ciamis, Mamat Adimat, mengatakan tahun ini terdapat sekitar 374 siswa yang ambil bagian dalam FTBI tingkat kabupaten.
“Pesertanya kurang lebih 374 siswa,” kata Mamat.
Menurutnya, peserta mengikuti tujuh mata lomba. Beberapa di antaranya carpon, dongeng, aksara Sunda, pupuh dan sisindiran.
Beragam cabang tersebut memberikan ruang kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan masing-masing, baik dalam penguasaan bahasa, sastra maupun aksara Sunda.
Mamat menilai kemampuan peserta yang mengikuti FTBI tahun ini cukup baik. Ia berharap potensi tersebut dapat membawa hasil positif bagi Kabupaten Ciamis pada ajang tingkat provinsi.
“Insyaallah semuanya bisa dilihat, mungkin beberapa juara. Untuk sekarang ini memang bagus,” tuturnya.
Disdik Ciamis Tekankan Makna FTBI
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Erwan Darmawan, mengatakan FTBI tidak semata-mata harus dilihat sebagai perlombaan untuk menentukan juara.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi siswa untuk membangun pertemanan dan mempererat silaturahmi dengan peserta dari sekolah maupun wilayah lain.
“Sehingga kita kelihatan inklusinya. Kegiatan ini bukan hanya sekadar lomba. Itu yang harus ditanamkan di setiap diri, baik itu di anak maupun di guru pendamping. Kegiatan ini untuk mempererat tali silaturahmi antara satu sama lain,” ujar Erwan.
Ia mendorong para siswa memanfaatkan momentum FTBI untuk saling mengenal. Erwan bahkan memiliki kebiasaan meminta setiap anak yang mengikuti kegiatan untuk mengenal sedikitnya lima peserta lainnya.
“Biasanya saya kalau melepas kontingen ke mana-mana mewajibkan satu anak itu mengenal lima anak lainnya dari kontingennya masing-masing. Tujuannya untuk mempererat silaturahmi,” katanya.
Menurut Erwan, pertemanan yang dibangun sejak usia sekolah dapat menjadi pengalaman yang berharga. Bisa saja, kata dia, hubungan tersebut kembali terjalin ketika para peserta sudah dewasa.
“Kalau usia segini kita berkenalan, kalau ada nomor kontaknya nanti ketemu lagi. Begitu kita sudah dewasa, akan ada cerita yang dirindukan dari kegiatan ini,” ujarnya.
Juri Diminta Profesional dan Adil
Dalam pelaksanaan perlombaan, Erwan juga meminta dewan juri menjalankan tugas secara profesional dan memberikan penilaian secara objektif.
Ia mengakui penilaian dalam FTBI memiliki tantangan tersendiri karena tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis peserta.
“Saya yakin dewan juri yang dipilih adalah dewan juri yang profesional dan menguasai materi. Saya berharap dewan juri seadil mungkin, karena FTBI ini termasuk perlombaan yang susah untuk menilainya,” jelasnya.
Menurut Erwan, juri juga membutuhkan kepekaan dalam melihat kemampuan dan penampilan masing-masing peserta agar proses penilaian dapat berjalan secara adil.
Menjaga Bahasa Sunda sebagai Bahasa Ibu
Di balik kompetisi yang berlangsung, FTBI juga membawa pesan penting mengenai keberlangsungan bahasa daerah.
Erwan mengatakan anak-anak memiliki peran penting dalam menjaga bahasa ibu agar tetap digunakan dan tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.
“Kepada anak-anak, ini merupakan perlindungan terhadap bahasa ibu. Anak-anak adalah penerus kami untuk melindungi bahasa ibu,” ujarnya.
Ia menilai bahasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Karena itu, menjaga bahasa Sunda berarti ikut menjaga salah satu bagian dari identitas budaya daerah.
“Diyakini kalau suatu bangsa itu hancur ditandai dengan hancurnya budayanya. Hancurnya budaya juga ditandai oleh hancurnya bahasanya,” kata Erwan.
Ia pun mengajak para siswa tidak berhenti menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan FTBI saja. Bahasa ibu tersebut diharapkan tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dikenalkan kepada teman-teman lainnya.
“Kepada anak-anak bukan cuma untuk diri pribadi, tapi sebarkan ke teman-teman yang lain,” ucapnya.
14 Siswa Dipersiapkan ke Tingkat Provinsi
Mamat menambahkan, siswa yang berhasil menunjukkan prestasi terbaik di tingkat Kabupaten Ciamis akan dipersiapkan untuk mengikuti FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Untuk tingkat kabupaten, insyaallah kita maju ke tingkat provinsi. Perwakilan kita yang berangkat ke sana sekitar 14 orang,” jelas Mamat.
Ia berharap para siswa terpilih dapat mempersiapkan diri dengan baik sehingga mampu memberikan hasil terbaik dan membawa nama Kabupaten Ciamis di tingkat Jawa Barat.
“Harapannya tentunya kegiatan ini lebih maju lagi, kemudian ada hasil yang sangat memuaskan,” katanya.
Mamat juga berharap FTBI tidak hanya melahirkan siswa berprestasi dalam perlombaan, tetapi turut mendorong semakin banyak anak menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
“Intinya kepada anak-anak, penggunaan bahasa Sunda ini supaya lebih kita gunakan sebagai bahasa ibu,” pungkasnya.
Guru Diminta Pastikan Peserta Kembali dengan Aman
Selain mendorong pelestarian bahasa dan budaya, Erwan mengingatkan guru pendamping untuk tetap memperhatikan keamanan seluruh peserta selama kegiatan berlangsung.
Ia meminta setiap pendamping memastikan siswa yang mengikuti FTBI dapat kembali ke rumah dengan aman dan jumlahnya tetap lengkap.
“Yakinkan bahwa anak hari ini datang dan kembali jumlahnya utuh, tidak bertambah, tidak berkurang. Pastikan sampai di rumah anaknya masing-masing,” pungkas Erwan.
Melalui FTBI, Disdik Ciamis berharap kemampuan siswa dalam berbahasa dan bersastra Sunda terus berkembang.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membuat bahasa Sunda tetap digunakan, dikenal dan diwariskan oleh generasi muda Ciamis. (Nay Sunarti)
















