CIAMIS, deJurnal,- Kemampuan berhitung anak tidak selalu harus dibangun melalui perangkat digital. Di tengah kebiasaan anak menggunakan gawai, metode jarimatika menjadi salah satu cara yang masih dipilih orang tua untuk melatih kemampuan berhitung sekaligus membangun kemandirian berpikir sejak usia dini.
Semangat itu terlihat dalam keikutsertaan 18 peserta dari Rumah Les Privat Mama Kaka Sana Ciamis, yang dikenal sebagai Rumah Les Cantik, pada Lomba Matematika Agustus Match Medan 2026 tingkat nasional kategori jarimatika, Minggu (23/8/2026).
Para peserta yang dikirim Rumah Les Cantik berasal dari kelompok usia mulai 3 tahun hingga siswa sekolah dasar (SD). Mereka mengikuti perlombaan setelah mendapatkan pembinaan dan latihan jarimatika di Rumah Les Cantik.
Pemilik sekaligus pengajar Rumah Les Cantik, Astini Ramadiani, S.H., mengatakan keikutsertaan anak-anak dalam lomba bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan. Kompetisi juga menjadi sarana untuk mengukur kemampuan anak setelah mendapatkan pembelajaran jarimatika.
Menurutnya, setiap anak memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda. Karena itu, proses pembinaan dilakukan dengan memperhatikan kesiapan dan minat masing-masing anak.
Jarimatika Jadi Alternatif di Tengah Era Digital
Salah satu orang tua peserta, Salam, warga Cisaga, Kabupaten Ciamis, mengaku tertarik mengikutsertakan putrinya, Sarah yang duduk di kelas 2 SD, setelah melihat adanya potensi dalam kemampuan berhitung.
Sarah baru sekitar dua minggu mengikuti latihan. Namun, menurut Salam, putrinya relatif cepat menangkap materi yang diberikan pembimbing.
“Awalnya tertarik saja karena saya memang mencari tempat untuk menambah kemampuan matematika anak. Setelah mengikuti latihan, ternyata anak bisa mengikuti dan diarahkan untuk menganalisis cara menghitung,” ujar Salam.
Ia mengakui penggunaan gawai menjadi salah satu tantangan orang tua dalam membiasakan anak belajar. Karena itu, kegiatan les diharapkan dapat menjadi alternatif agar waktu anak tidak sepenuhnya tersita oleh telepon seluler.
“Kalau kegiatan di rumah kebanyakan anak pegang HP. Tantangannya bagaimana mengurangi penggunaan HP dan mengarahkannya untuk belajar,” katanya.
Bagi Salam, metode jarimatika masih relevan meskipun anak-anak saat ini hidup di tengah perkembangan teknologi digital.
Ia menilai kemampuan berhitung secara manual penting agar anak terbiasa menggunakan kemampuan berpikirnya sendiri dan tidak selalu bergantung pada kalkulator maupun perangkat elektronik.
“Menurut kami sangat penting karena anak tidak tergantung pada digital. Dia terbiasa berpikir dan menghasilkan dari pikirannya sendiri,” ujarnya.
Orang Tua Dorong Anak Berani Mengikuti Kompetisi
Semangat yang sama juga datang dari orang tua peserta lainnya, termasuk orang tua Nizam dan Arsyifa. Mereka mengaku pada awalnya dorongan untuk mengikuti les datang dari orang tua.
Namun, setelah menjalani proses pembelajaran, anak justru menunjukkan ketertarikan terhadap matematika.
Orang tua Arsyifa mengatakan kemampuan anak dalam berhitung mulai berkembang setelah mengikuti pembelajaran di Rumah Les Cantik.
“Awalnya kemauan orang tua. Tapi ternyata anaknya suka, terutama matematika,” ungkapnya.
Menurut dia, metode pembelajaran yang diberikan membuat matematika terasa lebih mudah bagi anak. Hal itu terlihat dari antusiasme anak ketika mendapatkan soal latihan.
Bahkan, ketika diberikan sejumlah soal, anak justru meminta tambahan soal untuk dikerjakan.
Dukungan orang tua dan suasana belajar yang nyaman juga dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga semangat anak.
Tak Memaksa Anak untuk Ikut Lomba
Sementara itu, orang tua Almeera menuturkan bahwa putrinya tidak hanya memiliki ketertarikan pada jarimatika, tetapi juga mulai belajar kemampuan lain, termasuk bahasa Inggris.
Meski baru mengikuti beberapa kali pertemuan, Almeera dinilai memiliki kemauan belajar yang cukup baik. Karena itu, ketika mendapat kesempatan mengikuti lomba, orang tua memberikan pilihan kepada anak tanpa memaksanya.
“Kalau lomba, saya tidak memaksakan anak. Kalau anaknya mau, boleh. Kasihan juga, di sekolah sudah banyak pelajaran dan tekanan. Menurut saya, anak perlu berani dulu,” tuturnya.
Bagi orang tua, keberanian tampil dan mengikuti kompetisi menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Hasil perlombaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Peserta Datang dari Banjar untuk Belajar Jarimatika
Ketertarikan terhadap metode jarimatika di Rumah Les Cantik juga datang dari luar wilayah Ciamis.
Susi, orang tua Cheyla, bahkan rela datang dari Banjar untuk mengikutsertakan anaknya belajar di Rumah Les Cantik.
Ia tertarik dengan metode jarimatika yang dinilai dapat membantu anak memahami konsep berhitung dengan cara yang lebih praktis.
Keikutsertaan Cheyla menunjukkan bahwa minat terhadap pembelajaran jarimatika tidak hanya datang dari keluarga di sekitar lokasi tempat les, tetapi juga dari daerah lain.
Lomba Jadi Pengalaman bagi Anak
Keikutsertaan 18 peserta Rumah Les Cantik dalam Lomba Matematika Agustus Match Medan 2026 menjadi pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Mereka tidak hanya diuji dari sisi kemampuan berhitung, tetapi juga belajar mempersiapkan diri, berkonsentrasi dan berani tampil dalam kompetisi tingkat nasional.
Bagi para orang tua, hasil lomba tentu tetap diharapkan. Namun yang tidak kalah penting adalah pengalaman yang diperoleh anak selama mengikuti proses latihan hingga hari perlombaan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya Rumah Les Cantik untuk mengenalkan matematika kepada anak sejak usia dini melalui metode yang sederhana, menyenangkan dan tidak selalu bergantung pada perangkat digital.
Dengan mengirimkan 18 peserta dari usia 3 tahun hingga tingkat SD, Rumah Les Cantik Ciamis berharap pengalaman mengikuti kompetisi dapat menjadi pijakan bagi anak-anak untuk terus mengembangkan kemampuan berhitung dan kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang. (Nay Sunarti)











