Dejurnal.com, CIAMIS. Karya yang berangkat dari sejarah lokal membawa guru sejarah SMAN 1 Panawangan, Mia Sumiari Dewi, S.Pd., Gr., masuk dalam jajaran 10 besar Best Employee pada Seleksi Penghargaan ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026.
Mia menjadi salah satu peserta yang lolos Seleksi Tahap I. Dalam daftar 10 besar kategori Best Employee, namanya tercantum mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Salah satu inovasi yang dibawanya dalam ajang tersebut adalah “Motif Batik Cakra Galuh Transformasi Kearifan Lokal sebagai Media Penyampai Filosofi Kebaikan Universal dan Penyemaian Karakter Pancawaluya.”
Inovasi tersebut lahir dari kegelisahan Mia melihat sejarah lokal yang sering kali hanya berhenti sebagai materi pembelajaran. Melalui Prameswari Galuh, ia mencoba menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni melalui kain batik.
“Awalnya saya melihat bagaimana sejarah lokal ini bisa disampaikan dengan cara yang lebih menarik. Jangan sampai sejarah hanya dipahami sebagai hafalan, tetapi nilai dan filosofinya juga bisa dirasakan dalam kehidupan,” ujar Mia saat di hubungi Jumat (18/09/2026)
Batik Cakra Galuh mengambil inspirasi dari ornamen Kembang Cakra atau Cakra Rahayu Kancana yang terdapat pada Prasasti Astana Gede Kawali.
Bagi Mia, simbol tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah dan estetika. Di dalamnya terdapat gagasan dan filosofi yang dapat diterjemahkan menjadi pesan kebaikan yang relevan dengan kehidupan masa kini.
Karena itu, ia tidak sekadar memindahkan bentuk ornamen ke atas kain. Motif tersebut dikembangkan menjadi karya seni fungsional atau wearable art yang dapat dikenakan sekaligus menjadi media untuk mengenalkan kembali kekayaan sejarah Galuh.
Bukan Sekadar Motif Batik
Mia menjelaskan, salah satu bagian penting dari inovasi Batik Cakra Galuh adalah Philosophical Narrative Sheet yang menyertai setiap kain.
Lembar tersebut berisi narasi mengenai filosofi motif sehingga orang yang mengenakan atau melihat kain tidak hanya menikmati bentuk visualnya, tetapi juga dapat mengetahui makna yang terkandung di baliknya.
“Jadi bukan hanya motifnya yang kita tampilkan. Ada narasi filosofinya. Harapannya orang yang melihat bisa memahami bahwa di balik motif itu ada sejarah, ada nilai kebaikan dan ada karakter yang ingin kita tanamkan,” jelasnya.
Menurut Mia, pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjembatani sejarah lokal dengan generasi muda.
Sejarah yang sebelumnya dianggap jauh dan penuh hafalan dapat hadir melalui sesuatu yang dekat dengan keseharian.
Kain batik, misalnya, dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan sekaligus menjadi sarana percakapan mengenai sejarah dan budaya daerah.
Dari sisi pendidikan, inovasi ini juga diarahkan untuk membantu menanamkan karakter Pancawaluya. Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam pesan yang dapat dipahami masyarakat melalui pendekatan budaya.
Berawal dari Kajian Kembang Cakra
Proses menciptakan Batik Cakra Galuh tidak dilakukan secara instan. Mia terlebih dahulu melakukan kajian terhadap literatur yang berkaitan dengan sejarah dan prasasti, kemudian menerjemahkannya ke dalam konsep visual.
Dalam rancangan motif, sejumlah unsur dikembangkan, antara lain titik, lingkaran, garis, tunas, bunga mekar dan Kembang Cakra.
Dari rancangan tersebut kemudian dilakukan pengembangan pola digital hingga uji coba produksi menggunakan canting cap.
Teknik pembuatannya juga tidak hanya menggunakan satu metode. Batik cap tradisional dikombinasikan dengan printing dan sentuhan prada emas agar produk dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Yang kami pikirkan bukan hanya bagaimana membuat motifnya, tetapi bagaimana motif ini bisa diterima masyarakat luas. Karena itu teknik produksinya juga kami sesuaikan,” kata Mia.
Karya tersebut kemudian dikembangkan menjadi busana budaya. Dalam proses berikutnya, Batik Cakra Galuh juga telah mendapatkan perlindungan hukum melalui Sertifikat Hak Cipta dari DJKI Kemenkumham.
Menghubungkan Budaya dan Ekonomi Kreatif
Bagi Mia, pelestarian budaya tidak harus ditempatkan berhadapan dengan perkembangan zaman. Justru, budaya dapat menjadi sumber kreativitas sekaligus membuka peluang ekonomi.
Melalui Prameswari Galuh, Batik Cakra Galuh diarahkan tidak hanya sebagai karya budaya, tetapi juga dapat melibatkan pelaku UMKM dalam pengembangannya.
“Melalui batik ini tentu bukan hanya budaya yang kita kenalkan. Ada masyarakat dan pelaku UMKM yang bisa ikut bergerak. Jadi ada nilai pendidikan, kebudayaan sekaligus pemberdayaan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ia melihat karya tersebut juga berpotensi menjadi bagian dari diplomasi budaya daerah. Identitas Galuh yang dituangkan dalam motif batik dapat menjadi medium untuk memperkenalkan Ciamis dan sejarah Galuh kepada masyarakat di luar daerah.
Karena itu, pengembangan Batik Cakra Galuh telah disusun secara bertahap.
Dalam jangka pendek, Mia menargetkan penguatan identitas dan sosialisasi di tingkat Kabupaten Ciamis. Tahap berikutnya diarahkan pada perluasan kemitraan dengan UMKM serta pengenalan di tingkat Jawa Barat.
Untuk jangka panjang, ia mempunyai target Batik Cakra Galuh agar berkembang sebagai produk unggulan diplomasi budaya, membawa identitas Tanah Galuh ke tingkat nasional hingga internasional.
Masuk 10 Besar Jadi Ruang Berbagi Gagasan
Bagi Mia, keberhasilannya masuk 10 besar Best Employee ASN Berprestasi Jawa Barat bukan sekadar pencapaian pribadi.
Tahapan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gagasan yang selama ini dikembangkan melalui pendidikan dan kebudayaan.
“Masuk 10 besar tentu menjadi sebuah kebanggaan, tetapi yang paling penting bagi saya adalah kesempatan untuk menyampaikan gagasan ini. Semoga apa yang saya lakukan bisa memberi manfaat dan menginspirasi, terutama dalam menjaga sejarah dan budaya lokal,” tuturnya.
Sebagai guru sejarah, Mia berharap pembelajaran sejarah tidak berhenti di ruang kelas. Menurutnya, sejarah akan lebih mudah hidup ketika masyarakat dapat melihat hubungan antara masa lalu, identitas budaya dan kehidupan mereka hari ini.
Batik Cakra Galuh menjadi salah satu cara yang ia pilih untuk menjembatani hal tersebut.
Dari ornamen Kembang Cakra di Astana Gede Kawali, Mia mencoba menghadirkan kembali jejak sejarah Galuh dalam bentuk yang dapat dikenakan, dipahami, sekaligus menjadi pengingat nilai kebaikan dan karakter bagi generasi masa kini. (Nay Sunarti)

















