Dejurnal.com, CIAMIS. Secangkir kopi yang diracik peserta pelatihan vokasi barista Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Ciamis bukan sekadar sajian bagi pengunjung. Di baliknya, ada keterampilan yang tengah dipersiapkan menjadi bekal memasuki dunia kerja.
Kemampuan tersebut diperlihatkan melalui stand kopi Disnaker Ciamis pada Festival Literasi Kabupaten Ciamis 2026 yang digelar di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Ciamis, Selasa (22/9/2026).
Stand kopi menjadi ruang praktik sekaligus etalase hasil pelatihan. Para peserta secara langsung melayani pengunjung, mulai dari menyiapkan bahan, menentukan takaran, meracik hingga menyajikan kopi.
Aktivitas tersebut sejalan dengan semangat Disnaker Ciamis dalam menyiapkan masyarakat yang memiliki keterampilan dan siap kerja.
Peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan selama pelatihan, tetapi juga diberi ruang untuk menguji kemampuan dalam situasi yang mendekati lingkungan kerja sebenarnya.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Ciamis saat ini adalah Dase Fadlil Yusdy Mubarak, SH., M.Pd. mengatakan, hasil pelatihan menunjukkan para peserta telah memiliki bekal untuk mulai memasuki dunia kerja.
“Jadi hasil daripada yang dilatih, saya kira sudah siap kerja,” ujar Dase.
Sebanyak 18 peserta mengikuti pelatihan barista tersebut. Sebagian besar sebelumnya merupakan masyarakat umum yang belum memiliki keterampilan khusus di bidang peracikan kopi.
Setelah mengikuti pelatihan, mereka diharapkan mampu menjadikan kompetensi barista sebagai modal untuk mencari pekerjaan maupun membuka usaha secara mandiri.
Kesiapan peserta juga mendapat respons positif dari pengunjung stand kopi Disnaker.
Bagi Disnaker, respons pengunjung menjadi salah satu gambaran bahwa keterampilan peserta mulai dapat diterapkan dalam pelayanan nyata. Pengunjung tidak hanya menjadi konsumen, tetapi turut memberikan pengalaman bagi peserta dalam menguji kualitas produk sekaligus pelayanan.
Dase menilai pengalaman praktik langsung seperti itu penting untuk membangun kesiapan peserta. Dunia kerja, kata dia, tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga ketelitian, kedisiplinan, komunikasi serta kemampuan memberikan pelayanan kepada konsumen.
Karena itu, predikat “Siap Kerja” yang didorong Disnaker Ciamis tidak dimaknai sebatas selesai mengikuti pelatihan. Peserta diharapkan mampu membawa kompetensi tersebut ke tempat kerja sekaligus terus mengembangkannya.
“Harapannya bisa terjun ke dunia kerja, jangan lupa kompetensinya dan tentunya bisa berkembang,” kata Dase.
Ia juga membuka peluang bagi peserta untuk tidak hanya mengincar pekerjaan sebagai barista. Keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi usaha kopi, baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan pelaku usaha lainnya.
Menurut Dase, kemampuan menciptakan peluang usaha menjadi bagian penting dari tujuan pelatihan vokasi. Dengan begitu, peserta tidak semata menunggu lowongan pekerjaan, tetapi memiliki pilihan untuk menciptakan sumber penghasilan sendiri.
Pelatihan barista tersebut merupakan bagian dari program pelatihan vokasi melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung dengan dukungan Kementerian Ketenagakerjaan melalui anggaran APBN.
Dukungan tersebut dinilai penting bagi Kabupaten Ciamis untuk memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pelatihan keterampilan, terutama di tengah keterbatasan kemampuan anggaran daerah.
“Ini program dari APBN, dari Kementerian Ketenagakerjaan. Ini salah satu hal yang sangat luar biasa dalam kondisi kemampuan APBD. Jadi kita harus mencari ruang-ruang program seperti ini,” ungkap Dase.
Menurutnya, sinergi dengan pemerintah pusat perlu terus dimanfaatkan agar program peningkatan kompetensi masyarakat dapat berjalan lebih luas. Setiap pelatihan diharapkan menghasilkan peserta yang benar-benar mampu menggunakan keterampilannya setelah kembali ke masyarakat.
Dase juga mengingatkan peserta dan alumni agar tidak berhenti meningkatkan kemampuan setelah program berakhir. Kompetensi harus terus diasah agar dapat mengikuti perkembangan kebutuhan dunia usaha dan industri.
“Harapannya para peserta dan alumni bisa terjun ke dunia kerja, meningkatkan kompetensi, dan tidak hanya mengandalkan program atau anggaran pemerintah,” tuturnya.
Melalui Festival Literasi Ciamis 2026, stand kopi Disnaker akhirnya bukan hanya menjadi tempat menikmati secangkir kopi.
Stand tersebut menjadi gambaran proses “Siap Kerja” yang dibangun Disnaker Ciamis masyarakat dilatih, diberi kesempatan mempraktikkan keterampilan, kemudian didorong untuk bekerja atau menciptakan usaha sendiri.
Dari tangan peserta yang meracik kopi, keterampilan itu mulai menemukan bentuknya. Bukan lagi sekadar materi pelatihan, melainkan kemampuan yang diuji langsung di hadapan masyarakat dan memiliki nilai ekonomi.
Penilaian pengunjung pun menjadi penguat. Salah satu pengunjung Nasta menyebut racikan peserta sudah memiliki standar rasa dan takaran yang membuatnya layak dipasarkan.
“Menurut saya racikannya sudah pas, takarannya juga tepat. Kalau untuk dijual sudah layak. Rasanya juga bisa disandingkan dengan kopi yang dibuat barista di kafe,” ujar Nasta. (Nay Sunarti)




















