• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Jumat, Oktober 2, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in deNews

Hari Batik Nasional, Mia Sumiari Gerakkan Pelajar dan Ibu-Ibu Gali Kearifan Lokal

bydejurnalcom
Jumat, 2 Oktober 2026
Reading Time: 3 mins read
Hari Batik Nasional, Mia Sumiari Gerakkan Pelajar dan Ibu-Ibu Gali Kearifan Lokal
ShareTweetSend

Dejurnal.com, CIAMIS. Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026 dimaknai berbeda oleh Mia Sumiari Dewi. Pegiat batik asal Ciamis itu tidak ingin peringatan hanya berhenti pada ajakan mengenakan batik.

Bersama Prameswari Galuh, Mia justru mendorong lahirnya karya baru dengan mengajak dua kelompok sekaligus, yakni pelajar SMA dan kader PKK di Kecamatan Panawangan.

Keduanya memiliki pendekatan berbeda, tetapi membawa pesan yang sama menghidupkan batik melalui kreativitas sekaligus menggali kearifan lokal daerah.

BacaJuga :

Rumah Azis di Rancah Nyaris Tak Layak Huni, Bupati Herdiat Bergerak Salurkan Bantuan

SMK Hepweti Bukan Sekadar Sekolah, Aktivis: Ini Alarm bagi Pemerintah

Muhammad Rizal Abdillah Maju di Pilkades Sukamanah

Bagi Mia, batik bukan sebatas kain bermotif. Setiap motif dapat menjadi media untuk menyampaikan cerita mengenai suatu daerah, mulai dari alam, sejarah, tradisi hingga potensi masyarakat.

“Batik itu bukan hanya soal kain. Ada cerita, ada identitas dan ada kearifan lokal yang bisa kita angkat melalui sebuah motif,” ujar Mia Jumat (02/10/2026).

Pelajar Diajak Tidak Sekadar Memakai Batik

Salah satu kegiatan yang disiapkan Mia adalah lomba desain motif batik bagi kalangan pelajar SMA.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenal batik dari sisi yang lebih kreatif. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai pengguna, tetapi diberi kesempatan menjadi pencipta gagasan melalui desain motif.

Mia menilai regenerasi menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keberlangsungan batik. Sebab, batik akan terus hidup apabila generasi muda ikut memahami proses kreatif dan nilai budaya yang ada di baliknya.

Melalui lomba tersebut, pelajar diharapkan mampu menuangkan gagasan mengenai daerahnya ke dalam sebuah desain yang memiliki karakter dan cerita.

Ibu-Ibu PKK Ikut Membatik dari Cerita Daerah

Gerakan kedua menyasar kader PKK Kecamatan Panawangan.

TP PKK Kecamatan Panawangan berkolaborasi dengan Prameswari Galuh menggelar lomba desain motif batik bertajuk “PKK Kecamatan Panawangan dalam Ragam Cita Prameswari”.

Tema yang diangkat adalah “Mengangkat Kearifan Lokal Daerahku”.

Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada kader PKK dari setiap desa untuk menggali potensi di wilayahnya masing-masing, kemudian mengolahnya menjadi gagasan motif batik.

Setiap desa dapat mengirimkan maksimal lima peserta. Setiap peserta hanya diperbolehkan membuat satu karya.

Menariknya, karya harus dibuat secara manual menggunakan tangan. Peserta menggunakan kertas gambar A4 sebagai media, dengan pilihan pensil warna, krayon, pensil pastel, spidol warna atau media kering lainnya.

Penggunaan aplikasi desain digital, hasil cetak, fotokopi maupun AI dilarang dalam pembuatan karya.

Ketentuan itu bukan tanpa alasan. Mia ingin setiap motif benar-benar lahir dari ide dan kreativitas penciptanya sendiri.

Selain desain, peserta juga diwajibkan menyertakan judul motif, nama pencipta, alamat, nomor kontak serta uraian filosofi atau makna motif sepanjang 50-100 kata.

Dengan begitu, setiap karya tidak hanya memiliki bentuk visual, tetapi juga mempunyai cerita yang menjelaskan alasan di balik penciptaannya.

Dimulai di Hari Batik, Berlanjut Sampai Kurasi

Rangkaian lomba desain motif batik tersebut dimulai bertepatan dengan momentum Hari Batik Nasional.

Pendaftaran peserta dibuka 2-9 Oktober 2026. Selama masa tersebut, perwakilan desa dapat didaftarkan melalui koordinator desa.

Peserta kemudian mengerjakan desain di rumah masing-masing. Karya asli dalam bentuk fisik dikumpulkan secara kolektif oleh koordinator desa ke Kantor Kecamatan Panawangan.

Batas akhir pengumpulan karya ditetapkan 9 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB.

Selanjutnya, karya akan masuk tahap penilaian dan kurasi pada 10-11 Oktober 2026.

Tim juri akan melihat sejumlah aspek, antara lain orisinalitas dan keaslian karya, kesesuaian dengan tema kearifan lokal, keindahan serta komposisi motif, hingga kedalaman filosofi yang terkandung di dalamnya.

Peserta terbaik akan memperoleh piala, sertifikat pencipta karya dan hadiah. Sementara juara harapan juga mendapatkan sertifikat serta apresiasi. Namun bagi Mia, hadiah bukanlah tujuan akhir.

Karya Tidak Berhenti Setelah Pengumuman Juara

Ada bagian lain yang justru menjadi perhatian Prameswari Galuh.

Karya yang lolos kurasi akan dihimpun dalam katalog resmi “Ragam Cita Prameswari”. Nama pencipta tetap dicantumkan sehingga karya tersebut memiliki identitas dan dokumentasi yang jelas.

Motif yang terpilih juga berkesempatan dikembangkan menjadi kain batik yang memiliki nilai ekonomi kreatif.

Mia berharap proses tersebut dapat membuka jalan agar kearifan lokal tidak hanya menjadi cerita yang disimpan, tetapi bisa diwujudkan menjadi produk budaya yang memiliki nilai.

“Jangan sampai setelah lomba selesai, karya juga selesai. Kami ingin karya yang bagus tetap punya perjalanan. Bisa didokumentasikan, dikembangkan dan kalau memungkinkan menjadi produk batik,” katanya.

Dari Panawangan untuk Menjaga Cerita Ciamis

Mia melihat setiap desa memiliki kekayaan cerita yang berbeda. Karena itu, ia ingin masyarakat tidak selalu mencari inspirasi jauh-jauh ketika membuat sebuah motif.

Lingkungan sekitar justru dapat menjadi sumber ide. Sejarah desa, alam, tradisi, kesenian, tanaman, pangan lokal hingga simbol-simbol yang hidup di tengah masyarakat dapat diterjemahkan menjadi motif yang mempunyai karakter.

Menurut Mia, ketika masyarakat mulai menggali cerita di daerahnya sendiri, pada saat yang sama mereka sedang ikut menjaga identitas budaya.

“Kalau kita mau menggali, sebenarnya banyak sekali cerita dan potensi lokal yang bisa dijadikan inspirasi. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi sebuah karya,” ujarnya.

Melalui dua kegiatan tersebut, Mia ingin Hari Batik Nasional 2026 tidak berhenti sebagai peringatan satu hari.

Pelajar diberikan ruang untuk berkreasi. Ibu-ibu PKK diajak menggali identitas daerah. Sementara karya-karya yang lahir diharapkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi dan pengembangan batik berbasis kearifan lokal.

Sebab bagi Mia, melestarikan batik bukan hanya dengan terus memakainya.

Batik juga harus terus diciptakan, diceritakan dan diwariskan. (Nay Sunarti)

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Tantan Sulthon Resmi Dilantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031

Next Post

Ketum PWI Pusat Lantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031

Related Posts

Gubernur Jabar KDM Soroti Tantangan Besar yang Dihadapi Media di Era Digital
deNews

Gubernur Jabar KDM Soroti Tantangan Besar yang Dihadapi Media di Era Digital

Jumat, 2 Oktober 2026
Ketum PWI Pusat Lantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031
deNews

Ketum PWI Pusat Lantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031

Jumat, 2 Oktober 2026
Tantan Sulthon Resmi Dilantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031
deHumaniti

Tantan Sulthon Resmi Dilantik Ketua PWI Jabar Periode 2026-2031

Jumat, 2 Oktober 2026
Rumah Azis di Rancah Nyaris Tak Layak Huni, Bupati Herdiat Bergerak Salurkan Bantuan
deNews

Rumah Azis di Rancah Nyaris Tak Layak Huni, Bupati Herdiat Bergerak Salurkan Bantuan

Jumat, 2 Oktober 2026
SMK Hepweti Bukan Sekadar Sekolah, Aktivis: Ini Alarm bagi Pemerintah
deNews

SMK Hepweti Bukan Sekadar Sekolah, Aktivis: Ini Alarm bagi Pemerintah

Jumat, 2 Oktober 2026
Muhammad Rizal Abdillah Maju di Pilkades Sukamanah
GerbangDesa

Muhammad Rizal Abdillah Maju di Pilkades Sukamanah

Jumat, 2 Oktober 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Kolase : Pasir warna merah yang dipenetrasikan dalam pembangunan irigasi Cipalasari menuai perhatian.

Pakai Pasir Warna Merah, Proyek Irigasi Cipalasari Senilai Rp 725 Juta Tuai Perhatian

Jumat, 27 Agustus 2021

Terkait CSR Peternakan Ayam Manggis, Tak Seorang Pun Mengaku Terima Signifikan

Sabtu, 9 November 2019

KabarDaerah

Garut Bersiap Gelar Pilkades Serentak di 82 Desa, Ini Tanggal Mainnya

Senin, 26 Desember 2022

Terkait Banjir Leles, Bupati Garut Gelar Dengar Pendapat

Minggu, 23 Juni 2019

Kemenpan RB Beharap SL Melati Kabupaten Bandung Bisa Jadi Pilot Project Sekolah Lansia

Rabu, 5 November 2025

Ormas Grib Jaya dan Ketua PPKH Sinergis Mendampingi Penanganan Masalah KPM Kecamatan Cisompet

Minggu, 6 Februari 2022

Polsek Jatiluhur Evakuasi Orang Yang Diduga Mengalami Gangguan jiwa Ke Rumah sakit

Minggu, 3 Mei 2020

KRAK Minta Kejati Jabar Tuntaskan Kasus Pasar Leles Sampai Sentuh Bupati Garut

Jumat, 9 April 2021

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste