Dejurnal.com, Cianjur — Pemerintah Kabupaten Cianjur mencatat penurunan jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) sebanyak 11.000 anak dalam satu tahun terakhir. Dari sebelumnya sekitar 52.000 anak, kini jumlah ATS di Kabupaten Cianjur tercatat menjadi 41.000 anak.
Capaian tersebut menjadi salah satu upaya Kabupaten Cianjur dalam mendukung target Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mewujudkan Zero Anak Tidak Sekolah (Zero ATS) pada 2029–2030.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, H. Ruhli Solehudin, mengatakan bahwa penanganan ATS di daerahnya telah memiliki landasan hukum melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. Kebijakan tersebut mencakup tiga kategori, yakni Anak Putus Sekolah (APS), Anak Putus Belajar (APB), dan Anak Belum Pernah Masuk Sekolah (ABMS).
“Betul, kemarin kita menerima undangan rapat koordinasi pencegahan dan penanganan ATS. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan target Zero ATS pada 2029–2030, dan pemerintah kabupaten/kota sepakat untuk bergerak bersama menuntaskannya,” ujar Ruhli kepada wartawan, Rabu (21/10/2026).
Menurut Ruhli, salah satu langkah yang kini dilakukan adalah memperkuat pendataan anak tidak sekolah hingga tingkat desa. Langkah ini melibatkan camat dan kepala desa untuk mengidentifikasi anak-anak yang belum mengakses pendidikan maupun mereka yang terpaksa berhenti sekolah.
“Kita sudah berkoordinasi dengan seluruh camat dan kepala desa untuk mengidentifikasi permasalahan ATS secara langsung. Seluruh data tercatat berdasarkan nama dan alamat, bisa dilacak siapa, di mana, dan apa kendalanya. Tidak ada lagi yang tersembunyi di balik angka besar,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, penurunan jumlah ATS tersebut didukung oleh dua program strategis, yakni Desa Cantik (Desa Cinta Statistik) yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk meningkatkan akurasi pendataan, serta program Kamus yang diarahkan untuk memperluas akses pendidikan secara inklusif.
Ruhli menegaskan, meski jumlah ATS berhasil ditekan dari 52.000 menjadi 41.000 anak, upaya penanganan masih harus terus diperkuat. Pasalnya, puluhan ribu anak yang belum mengakses pendidikan secara semestinya masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah.
“Alhamdulillah, berkat kolaborasi semua pihak, angka ATS turun dari 52.000 menjadi 41.000 anak tahun ini. Tapi ini baru awal. Sebanyak 41.000 anak masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama sebelum tahun 2030,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Cianjur diharapkan terus memperkuat koordinasi lintas sektor, memperbarui data secara berkala, serta memastikan anak-anak yang masuk dalam pendataan ATS memperoleh kesempatan kembali mengenyam pendidikan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Dengan langkah tersebut, target Zero ATS pada 2030 diharapkan dapat dicapai melalui kerja sama pemerintah, satuan pendidikan, pemerintah desa, dan masyarakat.***Beni



















