Dejurnal.com, CIAMIS. Batik Cakra Galuh karya Mia Sumiari Dewi berpeluang menjadi salah satu produk unggulan yang memperkaya sektor pariwisata Kabupaten Ciamis.
Tidak hanya menawarkan keunikan motif, batik yang mengangkat filosofi bunga cakra dan sejarah Galuh tersebut juga memiliki nilai budaya yang dapat menjadi daya tarik sekaligus buah tangan bagi wisatawan.
Potensi itu dilihat oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D) Kabupaten Ciamis. Sejak awal diperkenalkan, BP2D turut mendukung dan membersamai pengembangan Batik Cakra Galuh agar semakin dikenal serta memiliki ruang lebih luas dalam promosi pariwisata daerah.
Ketua BP2D Kabupaten Ciamis, Drs. H. Endang Haris Juandana, M.M., mengatakan, oleh-oleh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengalaman wisata.
Wisatawan biasanya tidak hanya ingin menikmati destinasi, tetapi juga mencari buah tangan yang unik dan memiliki ciri khas dari daerah yang dikunjungi.
“Orang berwisata itu selain melihat dan menikmati tempat wisata, biasanya juga ingin membawa oleh-oleh. Mereka mencari sesuatu yang unik, yang tidak ditemukan di tempat lain. Nah, Batik Cakra Galuh ini punya peluang untuk menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Ciamis,” ujar Endang saat di wawancra Kamis (29/10/2026)
Menurutnya, Batik Cakra Galuh memiliki kelebihan karena tidak sekadar menghadirkan produk kerajinan, tetapi juga membawa cerita tentang sejarah dan budaya lokal.
Motif bunga cakra yang dikembangkan Mia menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kembali identitas Galuh kepada masyarakat luas.
Bahkan, batik tersebut dapat menjadi media pembelajaran sejarah bagi peserta didik maupun masyarakat. Melalui motif yang dikenakan, orang dapat mengenal cerita Kerajaan Galuh, Prasasti Kawali, serta peninggalan sejarah lainnya yang menjadi bagian dari perjalanan Kabupaten Ciamis.
“Ini bukan hanya produk batik. Ada nilai edukasi dan sejarah yang bisa disampaikan. Ketika orang melihat motifnya lalu bertanya tentang bunga cakra, dari situ kita bisa mengenalkan sejarah Galuh. Jadi, batik ini juga bisa menjadi media pembelajaran bagi peserta didik maupun masyarakat,” jelasnya.
Dukungan terhadap pengembangan Batik Cakra Galuh juga datang langsung dari Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, diketahui telah memesan sebanyak 200 potong batik tersebut untuk dijadikan pakaian sekaligus suvenir bagi para tamu dari luar daerah yang berkunjung ke Ciamis. Jumlah pesanan itu pun berpeluang bertambah sesuai kebutuhan.
Endang menilai, dukungan Bupati menjadi langkah nyata dalam memperkenalkan produk lokal.
Tidak berhenti pada dukungan tersebut, BP2D juga menyiapkan langkah promosi dengan memperkenalkan Batik Cakra Galuh di sejumlah hotel dan tempat wisata di Kabupaten Ciamis. Sampel batik direncanakan ditempatkan di lokasi-lokasi tersebut agar wisatawan dapat melihat langsung motif dan keunikannya.
Dengan cara itu, batik tidak hanya diperkenalkan melalui pemberitaan atau kegiatan promosi, tetapi juga hadir lebih dekat dengan wisatawan yang datang ke Ciamis.
“Dengan strategi itu, ketertarikan pengunjung melihat sampel dapat berkembang menjadi keinginan untuk memiliki produk tersebut sebagai buah tangan,” ungkapnya.
Endang mengapresiasi kesiapan Mia yang menyatakan sanggup menyediakan stok batik untuk mendukung rencana promosi tersebut.
“Kami berencana menyimpan sampel Batik Cakra Galuh di hotel-hotel dan tempat wisata agar wisatawan bisa melihat langsung produknya. Kami juga mengapresiasi Bu Mia karena sudah menyatakan kesanggupannya menyediakan stok. Jadi, ketika ada wisatawan yang tertarik, ketersediaan produknya bisa mendukung promosi,” kata Endang.
Selain melalui hotel dan tempat wisata, Endang juga berharap penggunaan Batik Cakra Galuh semakin meluas di lingkungan pemerintahan.
Salah satu gagasan yang ingin didorong ke depan adalah adanya kebijakan agar ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis mengenakan batik tersebut setiap hari Kamis.
Menurutnya, penggunaan batik secara rutin dapat menjadi sarana memperkenalkan karya lokal sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
“Rencana kedepan ada aturan atau kebijakan agar setiap hari Kamis ASN menggunakan Batik Cakra Galuh. Kalau penggunaannya semakin luas, masyarakat juga akan semakin mengenal batik ini. Selain mendukung karya lokal, ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas daerah,” tuturnya.
Endang juga melihat peluang Batik Cakra Galuh untuk dikenal lebih luas sebagaimana motif batik yang telah menjadi identitas daerah lain, salah satunya Batik Mega Mendung dari Cirebon. Hal tersebut membutuhkan konsistensi dalam pengembangan motif serta dukungan berbagai pihak.
BP2D sendiri terus menjalin komunikasi dengan Mia, baik secara langsung maupun melalui berbagai kesempatan, agar motif bernuansa bunga cakra tetap dikembangkan dan memiliki karakter yang kuat.
“Kalau ingin menjadi ciri khas, tentu harus konsisten. Kami terus berkomunikasi dan mendukung agar motif bernuansa bunga cakra ini terus dikembangkan. Harapannya, suatu saat Batik Cakra Galuh benar-benar dikenal sebagai salah satu identitas Ciamis,” katanya.
Bagi Endang, perpaduan antara batik, pendidikan, sejarah, dan pariwisata menjadi kekuatan tersendiri dari inovasi Mia.
Terlebih, karya tersebut tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga membawa misi mengenalkan sejarah Galuh dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Ini luar biasa ada dua sisi yang menonjol dari Mia yaitu sebagai kreator dan inovator,” imbuhnya.
Ia berharap kiprah Mia dalam ajang ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 dapat terus berlanjut ke tahapan berikutnya.
Namun, lebih dari capaian dalam kompetisi, Endang berharap Batik Cakra Galuh dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (Nay Sunarti)




















