Dejurnal.com, CIAMIS. Inovasi penanganan stunting berbasis kepedulian masyarakat mengantarkan Lurah Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, Derry Insan Akhira Yusman, S.STP., M.M., mengikuti seleksi tahap III Penghargaan ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 kategori Jabatan Pengawas. Kamis (29/10/2026).
Tim penilai terdiri dari tiga akademisi, yakni Prof. Dr. H. Agus Ahmad Safei, M.Ag., Prof. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., serta Dr. Ferry Hadiyanto, S.E., M.A.
Visitasi menjadi kesempatan bagi tim penilai untuk melihat langsung pelaksanaan inovasi KEKASIH HATI (Keluarga Asuh Balita Stunting) yang dikembangkan di Kelurahan Sindangrasa.

Penilaiannya tidak hanya berfokus pada konsep dan administrasi program. Tim penilai juga menggali bagaimana inovasi dijalankan, keterlibatan masyarakat, hingga manfaat yang dirasakan warga.
KEKASIH HATI merupakan program yang mengedepankan kepedulian dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung keluarga yang memiliki balita stunting.
Seiring perkembangannya, program ini juga diperluas dengan memperkuat upaya pencegahan, termasuk pendampingan terhadap ibu hamil.
Derry mengatakan, pihak kelurahan tidak melakukan persiapan khusus yang berlebihan untuk menghadapi visitasi. Sebab, program tersebut telah berjalan hampir dua tahun dan kini memasuki tahun ketiga.

Persiapan lebih diarahkan pada kelengkapan fasilitas dan kebutuhan dasar selama proses penilaian.
“Persiapan dari pihak kelurahan lebih kepada hal-hal dasar, seperti fasilitas dan sebagainya. Alhamdulillah, semuanya mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ciamis atas arahan Bapak Bupati,” ujarnya.
Menurut Derry, salah satu hal yang cukup banyak digali oleh tim penilai adalah kepemimpinan lurah dalam membangun partisipasi masyarakat.
Sebab, pelaksanaan inovasi di tingkat kelurahan membutuhkan dukungan warga agar program tidak berhenti sebatas kebijakan pemerintah.
Ia menilai, keterlibatan masyarakat dalam KEKASIH HATI tidak terlepas dari budaya gotong royong dan karakter warga Ciamis yang memiliki kepedulian sosial.
“Bukan karena kehebatan saya sendiri. Memang karakteristik masyarakat Kabupaten Ciamis sangat partisipatif. Siapa pun lurahnya, ketika memiliki kemauan untuk bergerak, insyaallah masyarakat juga akan ikut membantu,” katanya.
Libatkan Majelis Taklim untuk Perkuat Pencegahan
Salah satu pengembangan KEKASIH HATI yang turut menjadi perhatian dalam visitasi adalah pelibatan kelompok masyarakat, termasuk majelis taklim dan Muslimat NU, dalam mendukung pendampingan keluarga.
Derry menjelaskan, pada tahap awal pelaksanaan, program lebih banyak diarahkan pada penanganan balita stunting. 
Seiring evaluasi dan pengembangan kegiatan, muncul kebutuhan untuk memperkuat aspek pencegahan agar upaya yang dilakukan lebih menyeluruh.
Pencegahan tersebut tidak hanya menyasar balita, tetapi juga dimulai sejak masa kehamilan. Karena itu, keterlibatan masyarakat diperluas dengan mengajak kelompok-kelompok yang selama ini memiliki kedekatan dengan keluarga dan lingkungan tempat tinggal.
Gagasan tersebut mendapat respons dari masyarakat. Bahkan, ada anggota majelis taklim yang menyampaikan keinginan untuk ikut membantu, tetapi merasa tidak memiliki kemampuan secara finansial.
Derry kemudian menjelaskan bahwa keterlibatan dalam program tidak harus diwujudkan melalui bantuan uang. Kehadiran, waktu, perhatian, dan kemauan untuk mendampingi justru menjadi bentuk kontribusi yang dibutuhkan.
“Saya sampaikan, tidak perlu uang. Cukup hadir saja. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk membantu, terutama memberikan edukasi dan semangat kepada ibu hamil,” tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, pendampingan diharapkan tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga dukungan mental dan spiritual bagi ibu hamil, khususnya mereka yang membutuhkan perhatian lebih.
Pelibatan majelis taklim menjadi salah satu cara memperluas jangkauan program. Masyarakat dapat mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing tanpa harus terbebani kewajiban memberikan bantuan materi.
Dengan demikian, KEKASIH HATI tidak hanya berorientasi pada penanganan balita yang telah mengalami stunting, tetapi juga membangun kepedulian bersama untuk mencegah munculnya kasus baru.
Tim Penilai Gali Keterlibatan Masyarakat
Dalam pelaksanaan visitasi, tim penilai juga berdialog langsung dengan masyarakat untuk mengetahui sejauh mana program berjalan dan dipahami oleh warga.

Pertanyaan yang diajukan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan teknis inovasi, tetapi juga bagaimana masyarakat mengambil peran dalam kegiatan pendampingan.
Keterangan warga menjadi bagian penting untuk melihat kesesuaian antara paparan program dengan praktik di lapangan.
Dikatakan Derry, sesi tersebut menjadi salah satu bagian yang cukup menegangkan sekaligus menarik. Sebab, tim penilai dapat menggali informasi langsung dari masyarakat, termasuk mengenai kegiatan pendampingan melalui majelis taklim.
Ia menilai, berbagai pertanyaan yang muncul menjadi kesempatan untuk menjelaskan pengembangan program sekaligus melihat ruang-ruang yang masih bisa diperkuat.
Baginya, keberhasilan inovasi bukan semata-mata terletak pada gagasan yang disusun oleh aparatur, melainkan pada bagaimana gagasan tersebut diterima, dijalankan, dan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Seleksi Berlanjut ke Tahap Debat Kandidat
Visitasi lapangan merupakan seleksi tahap III dalam rangkaian Penghargaan ASN Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026. Setelah tahapan tersebut, para kandidat masih harus mengikuti debat kandidat sesuai kategori jabatan masing-masing.
Derry mengakui, proses seleksi masih cukup panjang. Karena itu, ia berharap dukungan dan doa dari masyarakat serta Pemerintah Kabupaten Ciamis terus mengiringi seluruh tahapan hingga pengumuman hasil akhir.
“Tahapannya masih panjang. Setelah visitasi lapangan, akan dilaksanakan debat kandidat ASN Berprestasi sesuai kategori jabatannya. Dengan doa dan dukungan masyarakat serta Pemkab Ciamis, insyaallah bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” ungkapnya.
Penghargaan ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 menjadi ajang untuk menjaring aparatur sipil negara yang memiliki inovasi dan karya inspiratif dalam menjalankan tugas pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat.
Keikutsertaan Lurah Sindangrasa dalam kompetisi tersebut sekaligus membawa praktik inovasi dari tingkat kelurahan ke tingkat provinsi.
Melalui KEKASIH HATI, upaya penanganan dan pencegahan stunting dibangun dengan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Lebih dari sekadar program, KEKASIH HATI menjadi upaya menumbuhkan kepedulian sosial agar keluarga yang membutuhkan pendampingan tidak berjalan sendiri.
Sebab, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan perhatian yang berkesinambungan, mulai dari masa kehamilan hingga tumbuh kembang anak. (Nay Sunarti)


















