CIAMIS, deJurnal,- Wacana Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya menampilkan 20 ribu angklung pada tahun mendatang 2027 disambut antusias para pengrajin di Kampung Angklung, Desa Panyingkiran, Kecamatan Ciamis.
Mereka menyatakan siap mendukung program tersebut, asalkan proses persiapan dan produksi dilakukan jauh hari sehingga tidak terkendala waktu.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Kampung Angklung yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi angklung di Jawa Barat memiliki lebih dari 10 kelompok pengrajin dengan sekitar 70 perajin aktif yang setiap hari memproduksi angklung untuk kebutuhan pendidikan, pariwisata, hingga pertunjukan seni di berbagai daerah.
Pengrajin angklung sekaligus pengelola Yayasan Kampung Angklung, Nunu, mengatakan perhatian Pemerintah Kabupaten Ciamis terhadap pelestarian angklung menjadi semangat baru bagi para pengrajin.
Menurutnya, hal itu sudah terlihat saat Kampung Angklung dipercaya menjadi mitra dalam Gebyar Angklung Jilid II yang digelar bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi, PWRI, Pemerintah Kabupaten Ciamis, komunitas seni, dan Kampung Angklung untuk menggaungkan kembali kecintaan masyarakat terhadap alat musik bambu khas Sunda.
“Alhamdulillah kami dipercaya ikut terlibat dalam Gebyar Angklung Jilid II. Kegiatan seperti ini sangat berarti karena selain melestarikan budaya, juga memperkenalkan Kampung Angklung kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Nunu Minggu (26/07/2026)
Ia mengaku semakin optimistis setelah Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya mewacanakan pertunjukan yang melibatkan 20 ribu angklung sebagai bagian dari penguatan identitas budaya Tatar Galuh.
“Kami para pengrajin sangat mendukung rencana Pak Bupati. Kalau persiapannya dimulai dari sekarang dan tidak mepet dengan waktu pelaksanaan, kami optimistis mampu memenuhi kebutuhan produksinya. Di Kampung Angklung ada lebih dari 70 pengrajin yang tergabung dalam lebih dari 10 kelompok, sehingga kapasitas produksi bisa diatur sesuai kebutuhan,” katanya.
Menurut Nunu, kesiapan tersebut juga didukung oleh ketersediaan bahan baku bambu yang hingga kini masih melimpah di wilayah Ciamis dan desa-desa sekitarnya.
“Untuk bahan baku kami sangat optimistis. Bambu di wilayah Ciamis masih tersedia cukup banyak sehingga sejauh ini tidak pernah mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Tinggal bagaimana perencanaan produksinya dilakukan lebih awal agar hasilnya maksimal,” ungkapnya.
Saat ini Kampung Angklung mampu memproduksi sekitar 1.000 set angklung oktaf atau hampir 8.000 tabung nada setiap bulan. Produksi tersebut dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sekolah, sanggar seni, komunitas budaya, hingga destinasi wisata.
Nunu mengungkapkan, angklung buatan Kampung Angklung Ciamis telah lama digunakan di berbagai pusat edukasi dan wisata budaya di Indonesia, termasuk ke Saung Angklung Udjo
“Sejak tahun 2010 kami sudah memasok angklung ke Saung Angklung Udjo. Dulu mungkin orang belum mengenal nama Kampung Angklung, tetapi angklungnya sudah berangkat dari sini. Sekarang kami berharap bukan hanya alat musiknya yang dikenal, tetapi juga Kampung Angklung Ciamis sebagai pusat produksinya,” ujarnya.
Ia berharap dukungan Pemerintah Kabupaten Ciamis terus berlanjut melalui promosi, pembinaan, dan penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan para pengrajin.
“Jika budaya terus dihidupkan, pengrajin juga ikut hidup. Harapan kami Kampung Angklung semakin dikenal sebagai destinasi wisata edukasi sekaligus sentra produksi angklung nasional yang membanggakan Kabupaten Ciamis,” pungkasnya. (Nay Sunarti)















