CIAMIS, deJurnal – Penguatan kompetensi guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja terus dilakukan.
Kabupaten Ciamis menjadi salah satu lokasi pelaksanaan program Peningkatan Kompetensi Guru Kejuruan melalui skema Upskilling & Reskilling berbasis industri tahun 2026.
Kegiatan tingkat nasional tersebut berlangsung di oproom Kantor CV Tanjung Mulya, Desa Sindangmukti, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Senin (14/9/2026).
Program ini mempertemukan dunia pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDIKA), khususnya pada kompetensi penetasan telur dan sektor peternakan.
Pesertanya merupakan kepala sekolah dan guru SMK dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Gorontalo dan Aceh.
Materi yang dipelajari peserta mencakup berbagai tahapan dalam industri perunggasan, mulai dari proses penetasan telur hingga menghasilkan day old chick (DOC).
Kompetensi peserta juga diarahkan pada pemahaman proses kerja yang diterapkan di lingkungan industri.
Pengembangan kompetensi tidak berhenti pada penetasan. Materi pelatihan ke depan akan diperluas, termasuk pada aspek pengolahan daging dan karkas
Enam Tahun, 126 Guru Telah Magang
Komitmen CV Tanjungm Mulya dalam mendukung peningkatan kompetensi guru SMK telah berlangsung sejak 2021.
Selama enam tahun pelaksanaan program, sebanyak 126 guru SMK dari berbagai daerah di Indonesia tercatat telah mengikuti kegiatan magang di perusahaan tersebut.
Rinciannya, sebanyak 17 guru mengikuti program pada 2021, kemudian 21 guru pada 2022, 26 guru pada 2023, 29 guru pada 2024, dan 33 guru pada 2025.
Komisaris CV Tanjung Mulya, H. Udin Saepudin, mengatakan kepercayaan yang diberikan kepada perusahaannya untuk menjadi lokasi pembelajaran industri menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih erat antara dunia pendidikan dan dunia usaha.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya sekadar pelatihan atau magang, tetapi merupakan bagian dari sinergi antara dunia pendidikan dengan dunia usaha dan dunia industri,” katanya.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh guru selama berada di lingkungan industri dapat dibawa kembali ke sekolah dan diterapkan dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, materi yang diberikan kepada siswa tidak hanya bersumber dari teori, tetapi juga mengikuti perkembangan teknologi, prosedur kerja, serta kebutuhan nyata di lapangan.
Tak Hanya Peternakan
CV Tanjungm Mulya tidak hanya membuka ruang pembelajaran pada bidang perunggasan dan penetasan telur. Perusahaan tersebut juga mengembangkan pertanian sehat dan ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Sejumlah kegiatan yang dikembangkan meliputi pertanian organik, produksi pupuk kompos, pengembangan Mikro Organisme Lokal (MOL), bahan pendukung pertanian ramah lingkungan, budidaya tanaman pangan, hingga penerapan teknologi budidaya berkelanjutan.
Pada komoditas padi, misalnya, pengembangan dan pengujian terus dilakukan. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan, produktivitas padi di lokasi tersebut disebut telah mencapai sekitar 12 ton per hektare.
Menurut Udin, kondisi tersebut membuka peluang lebih luas bagi CV Tanjungm Mulya untuk dikembangkan sebagai lokasi pembelajaran yang mengintegrasikan sektor peternakan dan pertanian.
“Jangan hanya melihat teori, tetapi amati, tanyakan, diskusikan, dan praktikkan apa yang diperoleh selama kegiatan,” ujarnya kepada peserta.
Ia juga menyatakan kesiapan CV Tanjungm Mulya apabila ke depan BBPPMPV Pertanian menjadikan perusahaan tersebut sebagai salah satu lokasi pembelajaran atau latihan dengan cakupan kerja sama yang lebih luas.
Sementara itu Kepala BBPPMPV Pertanian Cianjur, Edi Holidin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan program Upskilling & Reskilling bagi guru pertanian yang dilaksanakan untuk memperkuat keterampilan tenaga pendidik sesuai perkembangan industri.
“Alhamdulillah, hari ini kami melaksanakan pelatihan melanjutkan program Upskilling & Reskilling bagi guru pertanian se-Indonesia yang dilaksanakan di CV Tanjungm Mulya,” ujar Edi.

Menurutnya, pada pelaksanaan kali ini terdapat delapan guru yang mengikuti kegiatan magang selama 10 hari.
Selain pembelajaran berbasis praktik industi, peserta juga menjalani uji kompetensi untuk mengukur kemampuan yang diperoleh selama pelatihan.
Edi menilai pengalaman langsung di industri penting karena guru tidak cukup hanya memahami materi secara teori. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama magang diharapkan dapat diterapkan kembali dalam pembelajaran di sekolah.
“Harapannya, setelah ini para guru dapat menularkan ilmunya kepada siswa, sehingga siswa bisa bekerja di industri, khususnya di bidang budidaya ayam pedaging dan ayam petelur,” katanya.
Materi yang dipelajari peserta mencakup berbagai tahapan dalam industri perunggasan, mulai dari proses penetasan telur hingga menghasilkan day old chick (DOC). Kompetensi peserta juga diarahkan pada pemahaman proses kerja yang diterapkan di lingkungan industri.
Pengembangan kompetensi tidak berhenti pada penetasan. Materi pelatihan ke depan akan diperluas, termasuk pada aspek pengolahan daging dan karkas.
Praktik Industri dan Uji Kompetensi
Kepala Yayasan Nurul Huda, Ir. H. Koswara Suwarman, selaku panitia pelaksana, menjelaskan program tahun ini berlangsung pada 14–22 September 2026.

Kegiatan tersebut memiliki beban 70 jam pelajaran ditambah 10 jam Uji Kompetensi Keahlian (UKK).
Khusus magang kompetensi penetasan telur, peserta menjalani praktik selama dua hari di CV Tanjung Mulya dan tiga hari di PT Karya Indah Pertiwi (KIP).
Metode pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Peserta mengikuti diskusi bersama pengajar industri, mengerjakan lembar kerja, mengikuti rutinitas kegiatan di lokasi magang, praktik lapangan, serta menjalani ujian kompetensi secara teori dan praktik.
Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan sejumlah mitra industri peternakan di Ciamis, antara lain Naratas Poultry melalui Alkea dan Pasini Farm, PT SRF, PT Jabal Nur, PT MBU, PT AJS, serta PT Japfa.
Sekitar 15 pengajar dari berbagai bidang turut dilibatkan untuk mendampingi peserta selama proses pembelajaran.
Koswara berharap program tersebut mampu memberikan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri sekaligus memperkuat peran guru sebagai penghubung antara sekolah dan dunia kerja.
“Harapannya, para guru dapat menguasai keterampilan teknis sesuai kebutuhan industri, kemudian menularkan ilmu dan pengalaman tersebut kepada siswa di sekolah masing-masing,” katanya.
Program tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada satu kompetensi. Tahun ini CV Tanjung Mulya kembali membuka kompetensi penetasan telur dan merencanakan penambahan kompetensi pengolahan karkas pada bulan berikutnya.
Bagi Ciamis, keterlibatan sebagai salah satu lokasi penguatan kompetensi guru SMK tingkat nasional sekaligus menunjukkan bahwa potensi industri lokal dapat menjadi bagian dari proses peningkatan kualitas pendidikan vokasi.
Sinergi antara sekolah, lembaga pendidikan vokasi, dan DUDIKA diharapkan mampu memperkecil jarak antara kompetensi yang diajarkan di ruang kelas dengan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan ketika lulusan memasuki dunia kerja. (Nay Sunarti)



















