Dejurnal.com, Sukabumi – Dua ruang kelas SMPN 1 Kalapanungggal yang mengalami rusak berat kini sudah bisa ditempati dan dipergunakan kegiatan belajar oleh para siswa yang ada di sekolah tersebut, namun ada bebeberapa kaca yang belum terpasang.
Pihak sekolah yang diwakili Ujang mengaku pihaknya tidak tahu apakah kaca jendela tersebut masuk kedalam RAB atau tidak. Diketahui di papan informasi, anggaran rehab dua ruang kelas sebesar Rp 194.246.000 pada di bulan September 2022.
Di tempat terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen Disdik Bidang SMP menjelaskan bahwa jika di lihat di masa itu tentunya semua pihak paham dan tahu betul ekonomi bangsa ini umumnya saat covid 19 tersebut mewabah.
“Semua itu berdampak signifikan terhadap semua sektor, salah satu contoh yang real ini kondisi saat itu dengan alokasi yang memang sesuai dari pagu yang terpasang di potong PPN PPH tentunya semua sudah bisa menghitung jumlah sisa, pertanyaannya pengajuan yang di lakukan itu merupakan ajuan yang di tahun sebelumnya,
“Nah di pas masa covid itu lah kami selaku PPK tidak berharap titik lokasi yang sudah diajukan itu hangus atau di coret sehingga kami kedepankan di Disdik itu skala prioritas utama,” ujarnya.
Meski kalimat recofusing di saat itu terjadi di setiap dinas termasuk Disdik itu akan tetapi upaya yang sangat kita sikapi mahalnya bahan matrial, sehingga kami putuskan untuk mengkaji kembali mana yang lebih penting. Jadi itulah jawaban yang harus di jalankan saat itu.
“Meski usaha yang kami lakukan itu sebuah win-win solusi, pasti akan sisakan persoalan, konsultan dan kami lakukan evaluasi kembali bagian mana aja yang di anggap urgent, sehingga dengan naiknya bahan matrial saat itu bisa di akali, sehingga minus nya tidak terlalu besar.peng ambil sikap cara cerdas cepat dan tepatnya,” ujarnya.
Jika ruangan rusak berat tentunya yang menjadi skala prioritasnya pembenahan atap juga dinding yang di anggap rapuh atau mudah roboh, kemudian hal mendasar lainnya sirkulasi udara kalau masalah kusen kaca mungkin solusi lanjutan apa bila hal utama nya sudah terpenuhi.
“Kami pikirkan bagaiman eksistensi siswa siswi bisa bernaung dan belajar dengan baik tidak terkena panasnya matahari juga hujan itulah yang menjadi acuan di saat itu dasar dari pertimbangan dan penyeimbang naiknya harga bahan matrial,” pungkasnya.***Aldy