Dejurnal.com, Bandung – Mendengar Suku Dayak, umumnya yang terlintas di pikiran adalah suku di pedalaman Pulau Kalimantan, namun untuk Kampung Dayak yang satu ini berada di Jawa Barat.
Tepatnya di Losarang Kabupaten Indramayu, Kampung Dayak di Jawa Barat merupakan sebuah wilayah yang dihuni oleh sekelompok komunitas lokal, yang mengatasnamakan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu (SDHBBSI).
Komunitas tersebut memiliki berbagai macam sebutan seperti suku Dayak Hindu-Buddha hingga suku Dayak Takmad, namun lebih dikenal sebagai suku Dayak Losarang Indramayu.
Kendati memiliki nama dan penampilannya mirip suku Dayak, namun mereka tak ada kaitannya dengan suku Dayak yang ada di Kalimantan.
Seluruh anggota Kampung Dayak yang berada di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini asli suku Jawa.
Warga Kampung Dayak berjumlah lebih dari dua ratus orang yang hidup secara terpisah, mayoritas berprofesi sebagai petani
Mengutip dari kanal YouTube Larasati Channel, kehidupan warga Kampung Dayak sesuai dengan filosofi nama mereka, Hindu dan Buddha. Hindu yang memiliki arti kandungan atau rahim, sedangkan Buddha berarti telanjang.
Bila diartikan secara keseluruhan, setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Hal ini membuat masyarakat di sana begitu menghargai kaum perempuan, khususnya ibu.
Bagi komunitas Kampung Dayak, ibu atau perempuan merupakan sumber hidup, karena dari rahimnya lah manusia dilahirkan.
Meski suku Dayak Losarang berada di tengah-tengah penduduk desa lainnya dan berbaur bersama mereka, namun untuk beberapa hal mereka mengasingkan diri dari lingkungan masyarakat, seperti tempat tinggal dan tempat ibadah yang dibentengi dinding yang cukup tinggi
Walau perkampungan ini bukan objek wisata resmi, namun anggota suku Dayak tak pernah keberatan menerima tamu, bahkan mereka terkenal ramah dan mudah berbaur dengan orang luar.
Anggota komunitas tersebut memiliki kepercayaan atau keyakinan terhadap agama tertentu, namun tidak termasuk agama besar yang ada di Indonesia, mereka menyembah alam.
Awalnya, komunitas ini merupakan perguruan silat yang terletak di Kecamatan Losarang dan didirikan oleh seorang Takmad Diningrat pada tahun 1970-an.
Secara legal, warga komunitas suku Dayak di Indramayu ini ternyata tak memiliki kartu identitas, seperti Kartu Tanda Penduduk atau KTP.
Bagi mereka, baik KTP maupun tanda pengenal lain adalah hal yang menyusahkan saja. Mereka yakin, badan dan jiwa mereka yang dibawa kemana-mana adalah tanda pengenal yang sesungguhnya.
Uniknya, mereka yang menjadi anggota suku Dayak ini diibaratkan manusia yang baru lahir dan dalam keadaan telanjang, sehingga hanya mengenakan celana berwarna hitam putih.
Selain itu, mereka juga mengenakan aksesoris yang terbuat dari kayu dan bambu.***Red