• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Senin, Januari 5, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Kalam

Balik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila

bydejurnalcom
Sabtu, 9 Desember 2023
Reading Time: 4 mins read
Balik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila
ShareTweetSend

Oleh : Ki Maher *)

Festival Kabuyutan Garut yang digelar Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) kerja bareng Makara Art Center Univeraitas Indonesia dan Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, telah sukses diselenggarakan pada tanggal 1 – 3 Desember 2023 lalu.

Hal yang menarik dalam Festival Kabuyutan tersebut, kunjungan anjangsana budaya BPIP RI ke Kabuyutan Ciburuy yang berada di Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong dan saresehan budaya yang menggali Kabuyutan dalam Pembudayaan Pancasila.

BacaJuga :

Meriahkan Kebersamaan Syukuran Hajat Lembur ‘Sayuran Sauyunan’ di Desa Girimulya Kecamatan Pacet

Alusmanis 75 Rayakan 50 Tahun dengan Aksi Nyata Tanam Pohon di Bantaran Sungai Cipalih

27 Desa dan Kelurahan Ciamis Dapatkan Stimulus Anugerah Sri Baduga 2025, PPDI Apresiasi dengan Catatan Kritis

Penulis secara pribadi dan bisa jadi publik yang mengikuti gelaran Festival Kabuyutan secara seksama akan terpengarah ketika diberikan wawasan bahwa Pancasila dibuat berdasarkan penggalian nilai budaya bangsa Indonesia yang sangat banyak jumlahnya, termasuk Kabuyutan.

Kabuyutan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dalam kondisionalnya yang banyak hampir kurang terpelihara secara baik, Kabuyutan memiliki histori tak ternilai dalam sejarah bangsa Indonesia.

Penulis sendiri mencoba menggali arti hakiki dari Kabuyutan yang ternyata tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya Pancasila yang kini menjadi dasar negara kita.

HANA NGUNI HANA MANGKÉ, Buyut adalah masa lalu yang sekarang. Sebuah fitrah awal bersinambung akhir, yang lampau hingga kini, nu mula baheula tug wekasan ayeuna. Sebuah tatanan sebagai ketetapan dan kesenantiasaan dalam kejernihan dan kebersihan Ada-nya. Kepadanya kita terpaut kuat tak lekang masa. Usaha memutusnya bukan hanya sia-sia, juga malapetaka. Jangankan memutus, mencemarinya saja beresiko siksa melanda. Tak ada pilihan, selain menetapkannya sebagai Kesakralan yang tabu, Pamali.

Buyut adalah Kedirian kita, cetak biru yang mandarah-mendaging, lalu menjadi Pribadi yang sejati. Maka menghadapkan wajah padanya sebuah kemestian bagi setiap diri, Faaqim wajhaka liddiini hanifah.

HANA TUNGGAK HANA WATANG, Buyut adalah Silsilah dan Sejarah. Yang Buyut menyejarah dalam lampah, yang Pribadi bertajali dalam alur waktu dan hamparan ruang. Ibarat Pohon (Syajaroh) ada pangkal dan cabang. Sebuah benih Pohon yang baik (Syajarotun Thoyyibatun) akan ditanam di Tanah, disirami Air. Pasti akarnya akan kuat menghujam ke bumi, batangnya tinggi menjulang ke langit, cabangnya rindang daun menaungi, lalu buahnya melimpah keberkahan untuk dinikmati bersama lagi merata.

Syajaroh ini menjadi Sejarah kita, Maka jangan sesekali mencemari Pohon suci ini, kecuali kita telah menista diri sendiri, Walaa taqrobaa haadzihi Syajaroh, fatakuunaa minadzoolimiin.

HANA GUNA HANA RING DEMAKAN, Buyut adalah Kebudayaan. Sebentuk daya budhi yang melahirkan rasa dan fikir, yang halus nan jernih. Semodel Budaya luhung pun tergelar. Para Uyut, Leluhur, telah berderma bakti merawat, menjaga, mengembangkan yang Buyut ini, hingga mapan jadi ide-ide, sikap, perilaku, pranata, organisasi, sosok juga artefak dalam membentuk kehidupan bersama yang bahagia dan sejahtera.

Di sini yang Buyut telah bertansformasi menjadi Kabuyutan. Semisal Pohon Kebudayaan yang berakar, bersilislah dan berbuah berkah. Maka sejarah tidak lain dari laku derma merawat bertumbuh kembangnya Pohon Kebudayaan ini. Sebuah derma utama yang akan mendatangkan anugerah utama pula. Memutusnya sebuah dosa yang akan mengundang karma perlaya.

Kabuyutan semisal warisan Kenabian, yang kepadanya setiap generasi musti tersambung untuk mewariskannya kembali ke generasi berikutnya, Yaa ayyuhaldziina Aamanuu, sholluu alaihi wa sallimuu tasliima.

CARÉK NA PATIKRAMA, Kabuyutan merupa Kebangsaan. Sebuah Tanah Air sebagai rumah bersama dengan kepemimpinan para Bapak Bangsanya ; Rama, Resi, Prabu. Ajaran para Bapak Bangsa menjadi aturan hidup yang ditaati.

Ajaran dan aturan itu syarat pengetahuan, etika dan moralitas. Ajaran itu dalam bahasa kemodernannya dirumuskan menjadi Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan (kebersamaan), Kerakyatan dengan Kepemimpinan Hikmah-Kebijaksanaan dan Permusyawaratan, serta Keadilan kesejahteraan bagi kesuluruhan.

Kabuyutan menjadi way of life, ciri dan cara Kebangsaan dimana ajaran dan aturan living dalam keseharian para penduduknya. Inilah taman kehidupan yang Sakinah. Terjaminnya sandang, pangan, papan dan rasa aman. Firdaus yang dijanjikan kepada mereka yang taat ajaran, Uskun Anta wa Zaujukal Jannah.

MADAN NA RAJAPUTRA, Kabuyutan adalah Martabat. Kabuyutan soal kemuliaan atau kehinaan bagi Kebangsaan. Maka soal pertahanan tiada henti dari invansi musuh menjadi krusial di sini. Jatuhnya Kabuyutan ke tangan musuh menjadi pertanda terkikisnya martabat Kebangsaan. Kejatuhan itu nama lain dari kolonialisme. Akibat kolonisasi dengan segala ismenya yang merebak pastilah kehinaan yang akan mendera. Pada saat itu Kebangsaan bak diperlakukan seperti “Kulit Lasun di Jarian, Kulit Musang di tempat sampah”.

Maka etika Rajaputra dari para Pemuka Bangsa dipertaruhkan di sini. Apakah tetap menjaga “Haadzihi Syajaroh” atau memakan dan menyelinginya di taman dengan “Syajarotun Khuldi” dari ilusi syaitoniyah yang dibisikan?, Hal adulluka ala Syajarotil Khuldi wal Mulki laa yablaa.

Bagi para Pemuka Bangsa, apakah Etika Politik “Yushlihu”yang merawat dan menjaga Kebangsaan, ataukah Etos Egoisme yang “Yufsidu fil Ardi”, merusak dan mengeksploitasi? tentu kita dapat mengkonfirmasinya dengan tanda-tanda zaman hari ini.

Jika itu terjadi, maka pilihan yang paling mungkin eling lan waspada. Mengingat kembali Kabuyutan dan kembali kepadanya, “Fastaghfaru tsumma Tubu”. Mengakui kesalahan adalah sikap kewaspadaan, Robbanaa dzolamnaa Anfusanaa, wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khoosiriin.

ALA LWIR NA PATANJALA ; Balik ka Kabuyutan. Tampaknya kerusakan di darat dan laut akibat ulah kekuasaan adalah ciri Zaman Lara. Dan lenyapnya etika publik pada institusi sosial besar (Negara) ciri Zaman Pati, sebuah situasi Lara maju ka Pati.

Hanya yang menyaksikan kelaraan dan kepatian yang bisa berharap kesembuhan dan kehidupan yang baru. Hanya yang menyaksikan (Faman Syahida) zaman panas membakar (Romadhon) mereka yang mampu menahan, puasa (Shoum), dan bangun dari tidur kesadaran (Qiyamul Lail) untuk mengingat kembali pengetahuan otentik nan suci (Nuzulul Qur’an). Lalu tema kebangkitan Zaman Anyar (Hatta mathla’il Fajr) jadi bergema di sini.

Mengingat kembali akan kejernihan “Air” yang mengalir dari asal usulnya di “Gunung”, mengikuti alirannya sampai ke “Muara” (Lajuning Patanjala), adalah kembali kepada Tanah Air sebagai Kabuyutan awal dan fundamental, Kabuyutan Tembéy. Maka Patanjala sebagai sikap Budaya; yakni keinsyafan dan balik (Taubat), serta Metodologi estu untuk kembali kepada Kabuyutan di Zaman Lara dan Pati saat ini.

Inilah arti kembali kepada Pancasila sebagai Kebudayaan Kebangsaan, untuk mengingatkan kembali yang lama dilupakan, yaitu Pancasila sebagai dasar Politik-Ekonomi Kenegaraan, Nation-State. Sebagaimana Amanat para Uyut pendiri Republik ; Atas nama Bangsa Indonesia dan untuk melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Balik ka Kabuyutan, Kembali kepada Kebudayaan-Kebangsaan dan Pancasila adalah Amanat yang musti dijalankan. Sebuah Amanat Galunggung, Galuh Hyang Agung.

*) Penulis pelaku budaya di Kabupaten Garut.

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Peringati HDI 2023 Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis Bagi Warga Kota Bandung dan KBB

Next Post

Sambut Pernyataan Tim 9 Terkait Tanah 20 Hektar, Kades Taman Sari Bakal Segera Ambil Langkah Ini

Related Posts

Pedagang Lokasana Pertanyakan Data Dishub, Klaim 299 Pengunjung Dinilai Tak Sesuai Fakta Lapangan
deNews

Pedagang Lokasana Pertanyakan Data Dishub, Klaim 299 Pengunjung Dinilai Tak Sesuai Fakta Lapangan

Senin, 5 Januari 2026
Kontroversi Gate Parkir Taman Lokasana, Dishub Ciamis Janji Evaluasi dan Cari Solusi Bersama Pedagang
deNews

Kontroversi Gate Parkir Taman Lokasana, Dishub Ciamis Janji Evaluasi dan Cari Solusi Bersama Pedagang

Senin, 5 Januari 2026
Budaya

Dalang Khanha Giri Harja 2 Putu di Bulan Perdana 2026 Baru Punya Tiga Agenda Manggung

Senin, 5 Januari 2026
Meriahkan Kebersamaan Syukuran Hajat Lembur ‘Sayuran Sauyunan’ di Desa Girimulya Kecamatan Pacet
deNews

Meriahkan Kebersamaan Syukuran Hajat Lembur ‘Sayuran Sauyunan’ di Desa Girimulya Kecamatan Pacet

Senin, 5 Januari 2026
Alusmanis 75 Rayakan 50 Tahun dengan Aksi Nyata Tanam Pohon di Bantaran Sungai Cipalih
deNews

Alusmanis 75 Rayakan 50 Tahun dengan Aksi Nyata Tanam Pohon di Bantaran Sungai Cipalih

Minggu, 4 Januari 2026
27 Desa dan Kelurahan Ciamis Dapatkan Stimulus Anugerah Sri Baduga 2025, PPDI Apresiasi dengan Catatan Kritis
GerbangDesa

27 Desa dan Kelurahan Ciamis Dapatkan Stimulus Anugerah Sri Baduga 2025, PPDI Apresiasi dengan Catatan Kritis

Minggu, 4 Januari 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

CSR Manggis, Masyarakat Jamali Kademangan Akan Audiensikan ke DPRD Cianjur

Jumat, 13 Desember 2019

Resonansi : Tak Ada Pemotongan TPG, Betapa Bahagianya Para Guru

Kamis, 1 Juli 2021

KabarDaerah

Foto : bupati Ciamis Herdiat Sunarya memberikan sambutan dalam halal bilhalal di halaman pendopo selasa (15/04/2025)

Pemkab Ciamis Gelar Halal Bihalal, Bupati Herdiat Soroti Cuaca Ekstrem dan PKN

Selasa, 15 April 2025

Anggap Paripurna Penetapan Rotasi AKD Tak Sesuai Aturan, Anggota DPRD FPKS Ini Walk Out

Selasa, 22 Maret 2022

Bupati Garut Lantik 16 Camat dan 21 Sekmat di Pendopo, Berikut Daftarnya

Jumat, 19 September 2025

Senam Ritmik Sumbang Emas Perdana Kontingen Ciamis di Popda Jabar 2025

Sabtu, 27 September 2025

Tidak Perlu Rapat, Dedi Mulyadi Selesaikan Konflik Penutupan Curug Tilu Purwakarta

Senin, 13 Desember 2021

Sedekah Bumi Kampung Cilodor Kabandungan, Sekda : Jaga dan Lestarikan Warisan Leluhur

Minggu, 20 April 2025

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste