Dejurnal.com, Garut – Seorang pria berjalan gontai keluar dari Kantor Bupati Garut, matahari yang terasa begitu terik mengundang peluh tidak dipedulikan. Matanya terlihat sembab dengan wajah yang memancar rasa kecewa.
Pria yang bernama Yadi, warga Margawati Kelurahan Cimuncang, Garut Kota ini mengaku datang ke Kantor Bupati Garut untuk menemui Bupati Abdusyi Syakur Amin, namun yang diterimanya hanyalah keheningan.
“Saya datang ke kantor Pemerintah Daerah berharap bertemu dengan Bupati Garut, H. Abdusy Syakur Amin, tapi malah disuruh keluar oleh ajudannya. Ditanya ada keperluan apa ke Bapak, saya tunjukkan juga bahwa sudah WhatsApp ke Bapak,” ujarnya dengan suara lirih menahan tangis saat ditemui dejurnal.com, Senin (29/12/2025).
Yadi mengaku dirinya merupakan salah satu tim sukses Syakur-Putri yang ikut berjibaku bertarung memenangkan pasangan urut nomor dua. Namun kedatangannya ke Kantor Bupati bukan terkait hal itu. Ia ingin mencari solusi bagi ketiga anaknya yang sedang bermimpi ingin mengenyam jenjang pendidikan perguruan tinggi.
“Sudah tiga kali anak saya kandas di UNIGA, bukan disebabkan kurangnya kemampuan akademik atau tak ada kemauan belajar, namun karena keterlambatan membayar biaya kuliah,” ungkapnya.
Dalam kondisi terdesak, Yadi memberanikan diri mendatangi Kantor Pemerintah Kabupaten Garut. Ia berharap bisa bertemu langsung dengan Bupati Garut, H. Abdusy Syakur Amin, untuk menyampaikan keluh kesah dan memohon solusi.
“Saya tidak akan meminta fasilitas, hanya kebijakan dan kepedulian agar anak-anak saya tetap bisa kuliah,” ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Yadi, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar agar anak-anaknya tidak mengulangi kehidupan sulit yang selama ini ia jalani. Ia bekerja sekuat tenaga, menahan rasa lelah, bahkan kerap mengorbankan kebutuhan pribadi demi menyiapkan biaya pendidikan. Namun keterbatasan ekonomi terus menjadi bayang-bayang yang menutup langkah mereka. Setiap kali harapan hampir tergapai, kenyataan kembali menjatuhkan.
“Jangankan menerima solusi, bertemu saja tidak boleh,” keluhnya.
Perlakuan tersebut meninggalkan luka yang dalam Yadi. Ia merasa dipinggirkan, seolah keberadaannya tak berarti. Hatinya hancur bukan hanya karena anak-anaknya gagal kuliah, tetapi juga karena jeritannya seakan tak pernah sampai ke telinga para pemangku kebijakan.
“Hancur rasanya sebagai orang tua,” ucapnya pelan.
Perasaan gagal, hati yang remuk redam, tak berdaya dan merasa bersalah sepertinya bercampur menjadi satu dalam hati dan pikiran Yadi.
“Saya merasa kecewa sekali, tapi ya sudahlah,” katanya sambil melangkah gontai meninggalkan halaman Kantor Pemkab Garut.
Kisah Yadi menjadi cermin buram tentang wajah pendidikan yang belum sepenuhnya ramah bagi rakyat kecil. Di balik aturan, angka, dan prosedur administrasi, ada manusia-manusia yang menggantungkan harapan besar. Ketika pendidikan yang seharusnya menjadi jembatan masa depan justru tertutup rapat oleh keterbatasan ekonomi, maka yang tersisa hanyalah luka dan kekecewaan. Ini bukan sekadar cerita satu keluarga, melainkan jeritan sunyi banyak rakyat kecil yang berharap negara benar-benar hadir, mendengar dan peduli.***Wil














