Dejurnal.com, Garut — Kisah pengabdian panjang seorang guru honorer kembali mencuat dari Kabupaten Garut. Somantri, yang telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun di dunia pendidikan, membagikan perjalanan hidupnya saat diwawancarai Dejurnal.com di ruang rapat paripurna Kantor DPRD Kabupaten Garut, Jumat (17/4/2026).
Di usia yang telah menginjak lebih dari 60 tahun 7 bulan, Somantri mengenang awal mula dirinya mengajar di sekolah swasta Nurul Huda sejak sekitar tahun 2007. Namun jika ditarik lebih jauh, total masa pengabdiannya telah mencapai kurang lebih 28 tahun. Ia pernah mengajar di SD Karamatwangi 3 yang berada di kaki Gunung Papandayan, Kecamatan Cisurupan sebuah wilayah yang tidak mudah dijangkau, namun justru menjadi saksi dedikasinya terhadap dunia pendidikan.
“Karena kecintaan saya terhadap sekolah dan anak-anak di daerah, saya jalani semua ini dengan ikhlas,” ungkapnya.
Selama bertahun-tahun mengajar, Somantri mengaku penghasilannya sangat terbatas. Ia menyebut gaji yang diterimanya saat ini sekitar Rp1.200.000, yang sebagian berasal dari partisipasi pihak sekolah. Meski demikian, ia menyoroti kondisi rekan-rekannya yang masih aktif mengajar dengan gaji lebih rendah, bahkan ada yang mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi.
“Sekarang ada yang dulu menerima Rp700 ribu, malah turun jadi Rp500 ribu. Ini tentu sangat memprihatinkan,” katanya.
Di sisi lain, ia bersyukur beberapa rekannya telah diangkat menjadi PPPK, meskipun sebagian hanya berstatus paruh waktu. Namun, Somantri sendiri harus mengubur harapan untuk diangkat secara penuh karena terbentur batas usia pensiun. Ia hanya sempat mengikuti seleksi PPPK sebanyak dua kali sebelum akhirnya memasuki masa pensiun pada Juli 2025.
“Waktu mau diangkat, usia saya sudah habis. Jadi tidak keburu,” ujarnya.
Meski demikian, Somantri tetap bersyukur karena telah menerima penghargaan dan sertifikat dari Bupati Garut sebagai bentuk apresiasi atas pengabdiannya. Baginya, penghargaan tersebut menjadi penutup yang bermakna, walaupun belum sepenuhnya menjawab kesejahteraan yang diharapkan.
Pasca pensiun, kepedulian Somantri terhadap dunia pendidikan tidak luntur. Ia masih aktif memperjuangkan nasib rekan-rekannya, khususnya guru honorer paruh waktu yang hingga kini masih menghadapi berbagai kendala administratif.
Ia menyoroti banyaknya guru yang belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) maupun database resmi, sehingga menghambat proses sertifikasi dan pengembangan karier mereka.
“Saya mohon kepada pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan, agar segera membantu mereka mendapatkan SP (Surat Perintah), supaya bisa masuk Dapodik dan database. Jangan sampai mereka terus terombang-ambing, apalagi ada kabar mau dirumahkan. Itu sangat kasihan,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan SP menjadi kunci awal bagi guru honorer untuk mendapatkan insentif dan pengakuan administratif. Dengan masuknya data ke dalam sistem, peluang untuk memperoleh sertifikasi dan peningkatan kesejahteraan akan semakin terbuka.
Kisah Somantri menjadi potret nyata perjuangan guru honorer di daerah tentang ketulusan, keterbatasan, dan harapan yang terus diperjuangkan hingga akhir masa pengabdian.***Willy














