Dejurnal.com, Garut – Audiensi terkait pelaksanaan Kirab Budaya Tahun 2026 berlangsung di ruang rapat kantor Bank BJB Cabang Garut, Rabu (13/5/2026). Pertemuan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh budaya, tokoh masyarakat, dan perwakilan organisasi seni budaya di Kabupaten Garut.
Hadir dalam audiensi tersebut Abah Muda selaku Ketua Pemuda Akhir Zaman, KH. Ujang Qudsi, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) Irwan Hendarsyah, Ketua Garut Indeks Perubahan Strategis (GIPS) Garut Ade Sudrajat, Ketua Dewan Kolaborasi Seni Indonesia (DKSI) Kabupaten Garut Deden Asgar, serta jajaran perwakilan dari Bank BJB Cabang Garut.
Audiensi tersebut digelar sebagai bentuk komunikasi terbuka untuk meluruskan berbagai informasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait dugaan keterlibatan pihak BJB Cabang Garut dalam pendanaan kegiatan Kirab Budaya yang belakangan menjadi sorotan publik. Suasana diskusi berlangsung hangat namun tetap kondusif, dengan masing-masing pihak menyampaikan pandangan dan klarifikasi secara terbuka.
Manager BJB Cabang Garut, Rian, saat diwawancarai awak media seusai audiensi menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan kontribusi dana maupun bentuk partisipasi sponsorship terhadap kegiatan kirab budaya yang dimaksud.
Menurutnya, berbagai isu yang berkembang di masyarakat perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang semakin meluas. Ia menjelaskan bahwa pihak bank sejak awal telah memastikan tidak ada keterlibatan resmi dalam kegiatan tersebut.
“Kalau untuk saat ini saya pastikan BJB Cabang Garut tidak ada partisipasi ataupun kontribusi dalam pemberian dana pada kegiatan kirab budaya kemarin,” ujarnya.
Rian juga menegaskan bahwa tidak adanya atribut maupun identitas perusahaan dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa BJB memang tidak terlibat sebagai sponsor resmi.
“Bisa dilihat saat acara berlangsung tidak ada logo-logo BJB, tidak ada sponsor BJB di situ. Kalau misalnya kami melakukan sponsorship atau bantuan operasional kegiatan biasanya ada pemasangan logo atau identitas perusahaan. Kemarin semuanya clear,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sikap tersebut juga sejalan dengan arahan Pemerintah Kabupaten Garut yang sebelumnya telah menegaskan tidak adanya keterlibatan BJB dalam kegiatan tersebut. Karena itu, pihaknya berharap masyarakat tidak lagi menggiring opini yang belum tentu sesuai dengan fakta di lapangan.
Selain membahas persoalan pendanaan, audiensi juga menyinggung adanya komunikasi yang sebelumnya terjadi antara pihak dewan dengan pimpinan cabang BJB Garut yang kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat. Menanggapi hal itu, Rian menyebut bahwa persoalan tersebut masih perlu diklarifikasi lebih lanjut agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.
Ia mengatakan bahwa Abah Muda bersama pihak terkait akan terlebih dahulu melakukan pendalaman serta konfirmasi kepada pimpinan cabang mengenai arah dan maksud dari pembicaraan yang sebelumnya beredar.
“Terkait komunikasi antara dewan dengan pimpinan cabang kami, tadi juga sudah disampaikan bahwa Abah Muda akan melakukan klarifikasi dulu terkait kebenarannya dan akan diluruskan pembicaraan itu arahnya ke mana,” katanya.
Rian menuturkan bahwa hasil klarifikasi tersebut nantinya akan disampaikan kembali kepada publik pada kesempatan berikutnya setelah seluruh informasi dianggap lengkap dan tidak menimbulkan multitafsir.
Audiensi tersebut menjadi langkah penting dalam menjaga keterbukaan komunikasi antara lembaga keuangan, tokoh budaya, dan masyarakat. Selain itu, forum tersebut juga diharapkan dapat menjadi ruang klarifikasi agar isu-isu yang berkembang tidak memicu kesalahpahaman yang berpotensi merugikan berbagai pihak.
Para tokoh yang hadir pun sepakat bahwa kegiatan budaya di Kabupaten Garut harus tetap dijaga sebagai bagian dari identitas daerah, namun pelaksanaannya juga harus dilakukan secara transparan, profesional, serta tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.***Willy















