CIAMIS, deJurnal,- Upaya memastikan seluruh warga memiliki identitas resmi terus digencarkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Ciamis. Melalui program jemput bola, petugas turun langsung ke rumah warga untuk melakukan perekaman KTP elektronik (e-KTP), khususnya bagi lansia sakit dan penyandang disabilitas.
Kegiatan yang berlangsung pada 1–2 Mei 2026 itu menyasar sejumlah desa di Kecamatan Sadananya dan Sindangkasih.
Hari pertama difokuskan di Desa Mekarjadi, Mangkubumi, Werasari, serta Desa Gunungsari Kecamatan. Sadananya.
Sementara pada hari kedua, tim bergerak kembali ke Desa Werasari yaitu ke Dusun Cikupa, dikarenakan pada hari pertama tidak bisa dilaksanakan berhubung waktu sudah malam, lalu dilanjutkan ke Desa Sukaraja Kecamatan. Sindangkasih
Pelayanan dilakukan dari rumah ke rumah, menyasar warga yang selama ini terkendala akses akibat kondisi fisik maupun kesehatan.
Dengan membawa perangkat perekaman, petugas memastikan proses administrasi tetap bisa dilakukan tanpa harus datang ke kantor.
Kepala Disdukcapil Ciamis, Yayan Muhamad Supyan, menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan yang merata dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Tidak semua warga bisa datang ke kantor. Karena itu, kami yang mendatangi mereka. Ini bukan sekadar program, tapi bentuk tanggung jawab pelayanan,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Ia menegaskan, kepemilikan dokumen kependudukan merupakan hak dasar warga yang tidak boleh terabaikan, termasuk bagi kelompok rentan.
Di lapangan, kegiatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Ketua RT, Babinsa, Linmas hingga perangkat desa. Kolaborasi tersebut menjadi kunci dalam memastikan pelayanan berjalan aman dan tepat sasaran.
Namun, pelaksanaan di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Di salah satu desa di Kecamatan Sadananya, suasana sempat memanas saat petugas hendak melakukan perekaman terhadap warga dengan gangguan kejiwaan (ODGJ).
Warga tersebut tiba-tiba mengamuk, berteriak, dan berupaya menyerang petugas.
Aparat desa bersama keluarga berusaha menenangkan situasi. Meski sempat kondusif, kondisi kembali tidak terkendali sehingga perekaman terpaksa ditunda.
Petugas memilih menghentikan proses demi menghindari risiko yang lebih besar. Penanganan selanjutnya akan dikoordinasikan dengan pihak keluarga dan tenaga kesehatan agar pendekatan yang dilakukan lebih tepat.
Kejadian itu menjadi potret tantangan di lapangan, sekaligus menegaskan bahwa pelayanan administrasi kependudukan tidak hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut pendekatan sosial dan kemanusiaan.
Langkah jemput bola yang dilakukan Disdukcapil Ciamis sejalan dengan arah kebijakan Bupati Ciamis, De. H Herdiat Sunarya yang menekankan pembangunan inklusif dan berkeadilan.
Akses terhadap dokumen kependudukan menjadi pintu awal bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan publik, mulai dari kesehatan, bantuan sosial hingga layanan keuangan.
Dengan terus menyisir wilayah dan mendatangi warga secara langsung, Disdukcapil memastikan tidak ada yang tertinggal bahwa pelayanan publik harus hadir, bahkan hingga ke ruang-ruang yang selama ini sulit dijangkau. (Nay Sunarti)














