CIAMIS, deJurnal,- Hamparan sawah di kawasan Blok Bojonghuni, Kabupaten Ciamis, tampak lengang pada pagi itu. Tidak ada agenda seremonial, tidak pula iring-iringan pejabat maupun kerumunan petani.
Di tengah lahan pertanian miliknya sendiri, Andang Firman Triyadi terlihat sibuk bekerja langsung menyemprotkan pupuk organik.
Mengenakan kaos biru yang dipenuhi lumpur, Sekretaris Daerah Ciamis itu turun langsung menggarap sawah sebagai bagian dari praktik pertanian ramah lingkungan yang selama ini ia jalani.
Diketahui saat ini usia tanaman padinya telah memasuki 70 hari setelah tanam (HST).
Sebelum menuju sawah, Andang terlebih dahulu memeriksa fermentasi kompos dan kolam patin miliknya.
Ia kemudian menyiapkan cairan Mikroorganisme Lokal (MOL) buah yang digunakan untuk penyemprotan tanaman guna membantu penambahan unsur hara pada proses pengisian bulir padi.
MOL tersebut dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bahan alami seperti buah maja, pepaya, dan telur yang difermentasi selama kurang lebih 15 hari.
Sesekali Andang berjalan menyusuri pematang sawah sambil membawa alat semprot di bawah terik matahari pagi. Peluh bercampur lumpur menjadi gambaran aktivitas yang jauh dari kesan formal seorang pejabat pemerintahan.
Bagi Andang, pertanian sehat dan ramah lingkungan bukan sekadar konsep yang dibahas dalam forum resmi atau seminar. Ia memilih mempraktikkannya secara langsung agar memahami proses bertani sekaligus menikmati manfaatnya.
“Kalau ingin pertanian sehat berkembang, harus dimulai dari diri sendiri. Harus ada praktik langsung supaya terasa asiknya bertani, badan sehat dan hati juga senang,” ujarnya Minggu (17/05/2026)
Ia juga mengutip pesan yang pernah disampaikan Ustadz Darif dari Banyulana tentang pentingnya pola hidup sehat melalui pertanian alami.
“Makan apa yang ditanam, dan tanam apa yang dimakan,” katanya.
Menurut Andang, dirinya kini mulai meninggalkan penggunaan pupuk kimia dan beralih menggunakan kompos serta pemanfaatan MOL alami karena dinilai lebih baik dalam menjaga struktur dan kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Selain menjaga keseimbangan lingkungan, langkah tersebut juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Di tengah aktivitas penyemprotan itu, tidak terlihat sekat antara jabatan birokrasi yang disandangnya dengan pekerjaan di sawah yang dijalani sehari-hari.
Pemandangan tersebut menjadi potret sederhana seorang pejabat daerah yang memilih terjun langsung mengelola lahannya sendiri, mulai dari pengolahan hingga pemeliharaan tanaman.
Andang sendiri dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan pertanian sehat dan ramah lingkungan di Kabupaten Ciamis.
Ia beberapa kali terlibat dalam berbagai diskusi maupun gerakan pertanian organik dan pemanfaatan teknologi pertanian berkelanjutan.
Namun kali ini tidak ada agenda resmi pemerintahan. Yang terlihat hanya seorang birokrat yang tengah bekerja di sawahnya sendiri, menyemprot tanaman dengan racikan organik buatan tangan sendiri.
Langkah itu menjadi pesan sederhana bahwa pertanian ramah lingkungan tidak selalu lahir dari program besar, tetapi dapat dimulai dari kebiasaan dan keteladanan nyata di lapangan. (Nay Sunarti)









