CIAMIS, deJurnal,- Kabupaten Ciamis kembali mencatatkan prestasi di sektor pariwisata dan ekonomi syariah.
Bertepatan dengan rangkaian Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis, kawasan wisata Karangkamulyan resmi menjadi lokasi peluncuran Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (Zona KHAS), sebuah program nasional yang digagas untuk menghadirkan ekosistem kuliner yang terjamin kehalalan, keamanan, dan kualitasnya bagi masyarakat maupun wisatawan.
Peluncuran Zona KHAS di kawasan Rest Area Karangkamulyan menjadi istimewa karena merupakan zona kawasan pertama di Indonesia yang diresmikan di rest area non tol.
Program tersebut terwujud melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Ciamis dengan Bank Indonesia Perwakilan Tasikmalaya, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), serta sejumlah lembaga pendukung lainnya.
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Dian Kusdiana, mengatakan kehadiran Zona KHAS menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pengembangan pariwisata berbasis ekonomi syariah di daerah.
“Alhamdulillah, peluncuran Zona KHAS ini mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Deputi dari Jakarta hadir, begitu juga perwakilan KNEKS dan BPJPH.
Ini menjadi salah satu bentuk apresiasi pemerintah pusat kepada Kabupaten Ciamis karena berhasil menghadirkan kawasan kuliner halal, aman, dan sehat yang pertama di Indonesia pada rest area non tol,” ujarnya.
Dorong Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Pariwisata
Menurut pria yang akrab disapa Udeng tersebut, peluncuran Zona KHAS bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi besar Pemerintah Kabupaten Ciamis dalam membangun destinasi wisata yang ramah muslim atau muslim friendly tourism.
Salah satu langkah yang saat ini terus didorong adalah percepatan sertifikasi halal bagi para pelaku usaha pariwisata, khususnya sektor kuliner dan jasa pendukung wisata.
“Kami sedang membangun ekosistem pariwisata halal. Pelaku usaha wisata di Kabupaten Ciamis kami dorong agar memiliki sertifikasi halal. Ini bukan hanya soal regulasi, tetapi juga menjadi daya tarik wisata dan bentuk jaminan kenyamanan bagi pengunjung,” katanya.
Dengan adanya sertifikasi halal, wisatawan tidak lagi merasa ragu ketika menikmati kuliner maupun memanfaatkan fasilitas yang tersedia di destinasi wisata.
Pengunjung Dijamin Nyaman dan Tidak Was-was
Udeng menjelaskan, keberadaan Zona KHAS memberikan sejumlah manfaat langsung bagi wisatawan. Selain menjamin kehalalan produk yang dijual, kawasan tersebut juga memastikan aspek kesehatan dan keamanan pangan.
“Yang pertama, pengunjung tidak perlu was-was terhadap status halal dan non halal produk yang dikonsumsi. Kedua, pengunjung mendapatkan kenyamanan. Ketiga, pengunjung memperoleh jaminan kuliner yang sehat dan aman,” jelasnya.
Ia menambahkan, seluruh pelaku usaha yang tergabung dalam Zona KHAS mendapatkan pembinaan dan pelatihan dari berbagai lembaga, termasuk BPJPH, KNEKS, serta Salman ITB.
Pelatihan tersebut mencakup tata cara pengolahan makanan halal, penyajian produk halal, hingga standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Peserta tidak hanya diberikan sertifikat halal, tetapi juga dibekali pengetahuan bagaimana memasak secara halal, menyajikan secara halal, hingga menjaga kualitas produk. Karena kalau prosesnya halal, insyaallah hasilnya juga sehat dan aman,” ungkapnya.
Ciamis Dinilai Lebih Cepat dari Daerah Lain
Di balik peluncuran Zona KHAS, terdapat proses panjang yang melibatkan berbagai pihak. Udeng mengungkapkan bahwa proses komunikasi dan lobi dengan pemerintah pusat baru dimulai pada Maret 2026.
Saat itu, banyak pihak meragukan target peluncuran yang direncanakan bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Ciamis pada Juni 2026.
Namun keraguan tersebut berhasil dijawab dengan kerja cepat seluruh pemangku kepentingan.
“Saya mulai melakukan komunikasi pada bulan Maret dan menargetkan peluncuran pada Juni. Awalnya banyak yang meragukan karena biasanya prosesnya cukup panjang.
Bahkan ada daerah lain yang sudah mengantre hampir satu tahun untuk bisa diluncurkan. Tetapi Alhamdulillah, Ciamis mampu mewujudkannya hanya dalam waktu sekitar dua sampai tiga bulan,” katanya.
Menurutnya, capaian tersebut mendapat apresiasi langsung dari para pemangku kebijakan tingkat pusat yang menilai Kabupaten Ciamis mampu bergerak cepat dalam membangun ekosistem wisata halal.
Akan Diterapkan di Destinasi Wisata Lain
Peluncuran Zona KHAS Karangkamulyan disebut bukan tujuan akhir. Pemerintah Kabupaten Ciamis justru menjadikannya sebagai proyek percontohan untuk diterapkan di berbagai destinasi wisata lainnya.
“Kawasan ini menjadi pilot project. Ke depan akan kami dorong ke destinasi wisata milik desa maupun swasta agar memiliki standar halal, standar kesehatan, dan standar kenyamanan yang sama,” kata Udeng.
Salah satu destinasi yang masuk dalam rencana pengembangan adalah objek wisata milik swasta yang akan diarahkan menjadi destinasi wisata ramah muslim dengan dukungan fasilitas yang memenuhi kebutuhan wisatawan muslim.
Siapkan SDM Halal dan Visi 20 Tahun Pariwisata Ramah Muslim
Selain membangun kawasan, Pemerintah Kabupaten Ciamis juga mulai menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang jaminan produk halal.
Dinas Pariwisata bahkan telah menjalin komunikasi dengan Salman ITB untuk menghadirkan program pelatihan bagi calon pelatih halal di Kabupaten Ciamis.
Nantinya, peserta yang mengikuti pelatihan akan menjadi tenaga pendamping dan mentor bagi pelaku usaha lainnya sehingga proses pengembangan ekosistem halal dapat berjalan lebih cepat.
“Kami ingin membangun kapasitas SDM. Harapannya akan lahir pelatih-pelatih halal dari Ciamis yang nantinya bisa mentransfer ilmunya kepada pelaku usaha lainnya,” ujar Udeng.
Lebih jauh, konsep wisata ramah muslim tersebut akan diarahkan menjadi bagian dari kebijakan pembangunan pariwisata jangka panjang daerah.
“Kami ingin memasukkan pengembangan destinasi wisata ramah muslim ini ke dalam arah pembangunan pariwisata daerah. Harapannya dalam 20 tahun ke depan, Kabupaten Ciamis bisa menjadi salah satu daerah unggulan di Jawa Barat dalam pengembangan destinasi wisata ramah muslim,” pungkasnya. (Nay Sunarti)














