CIAMIS, deJurnal,- Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Ciamis mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau di lingkungan satuan pendidikan.
Selain memastikan ketersediaan air bersih dan sanitasi sekolah tetap terjaga, Disdik juga mengintensifkan edukasi penghematan air serta kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan kepada para peserta didik.
Upaya tersebut merupakan tindak lanjut atas Surat Edaran Gubernur Jawa Barat yang diteruskan melalui Surat Edaran Bupati Ciamis mengenai kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Dalam sektor pendidikan, terdapat tiga poin utama yang menjadi perhatian, yakni edukasi penghematan air dan kesiapsiagaan bencana kekeringan, memastikan ketersediaan sanitasi dan air bersih di sekolah, serta pengembangan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Muharam Ahmad Zajuli, S.IP., M.Pd, nengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh satuan pendidikan agar mulai menerapkan langkah-langkah antisipatif sejak awal, termasuk memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
“Materi mengenai penghematan air, kepedulian terhadap lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau sudah kami sampaikan dalam kegiatan MPLS. Kami ingin membangun kesadaran sejak hari pertama anak-anak berada di lingkungan sekolah bahwa air merupakan sumber daya yang harus dijaga dan digunakan secara bijaksana,” ujarnya Rabu (15/07/2026)
Menurut Muharram, pendekatan edukasi disesuaikan dengan jenjang pendidikan agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
Untuk jenjang SMP, pembelajaran dilakukan secara lebih interaktif. Siswa diajak berdiskusi mengenai dampak kekeringan, praktik penggunaan air secara efisien di sekolah maupun di rumah, hingga pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana.
“Siswa SMP sudah lebih mudah diajak berdialog dan memahami persoalan lingkungan. Karena itu, metode pembelajarannya dibuat lebih interaktif, termasuk memberikan contoh nyata bagaimana menghemat air dalam aktivitas sehari-hari, seperti menggunakan air secukupnya saat mencuci tangan, tidak membiarkan keran terbuka, serta menjaga kebersihan saluran air,” jelasnya.
Sementara itu, untuk jenjang SD, penyampaian materi disesuaikan dengan karakteristik usia anak. Edukasi dilakukan melalui pendekatan yang lebih sederhana, komunikatif, dan menyenangkan, sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan menghemat air dapat diterima dengan baik.
Selain edukasi kepada peserta didik, Disdik Ciamis juga mengimbau seluruh kepala sekolah agar melakukan pengecekan berkala terhadap ketersediaan air bersih di lingkungan sekolah, termasuk kondisi sarana sanitasi seperti toilet, tempat cuci tangan, hingga saluran drainase.
“Jangan sampai kegiatan belajar mengajar terganggu karena keterbatasan air bersih. Karena itu kami meminta setiap sekolah memastikan sumber air tetap tersedia, sanitasi berfungsi dengan baik, serta menjaga lingkungan sekolah agar tetap bersih dan sehat,” katanya.
Muharram menambahkan, pengembangan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) juga terus didorong, khususnya di tingkat SMP yang telah memiliki tim penanganan dan kesiapsiagaan di sekolah. Melalui program tersebut, warga sekolah diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai mitigasi bencana, termasuk menghadapi potensi kekeringan selama musim kemarau.
“SPAB bukan hanya berbicara tentang penanganan ketika bencana terjadi, tetapi juga bagaimana membangun budaya siaga sejak dini. Sekolah harus mampu menjadi tempat yang aman, tangguh, dan memiliki kesiapan menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk kekeringan,” ungkapnya.
Ia berharap seluruh warga sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, peserta didik hingga orang tua, dapat berperan aktif dalam membudayakan perilaku hemat air dan peduli lingkungan.
“Kalau kebiasaan menghemat air sudah ditanamkan sejak usia sekolah, dampaknya tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah, tetapi juga terbawa hingga ke rumah dan masyarakat. Ini menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus upaya bersama menghadapi musim kemarau,” pungkas Muharram. (Nay Sunarti)















