Dejurnal.com, Bandung – Tangis haru pecah di rumah sederhana keluarga Rijaludin dan Farida Anggraeni di Sayati Hilir, Desa Sayati, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung. Penantian yang penuh kecemasan akhirnya berakhir ketika putra mereka, Ghilmi Fardan Basyir, siswa kelas XII SMAN 1 Margahayu yang sempat meninggalkan rumah sejak Rabu (29/7/2026) dini hari, kembali pulang dengan selamat.
Beberapa hari sebelumnya, keluarga dibuat gelisah. Berbagai upaya dilakukan untuk mencari keberadaan Ghilmi. Informasi penyebaran orang hilang pun beredar luas dan mengundang simpati masyarakat. Doa serta dukungan terus mengalir agar remaja tersebut segera kembali ke pelukan keluarganya.
Rasa syukur tak mampu disembunyikan kedua orang tuanya. Mereka menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah membantu, baik dengan menyebarkan informasi, memberikan dukungan, maupun mendoakan keselamatan Ghilmi.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada jajaran Polsek Margahayu yang telah memberikan arahan kepada keluarga, termasuk mengingatkan agar tetap waspada terhadap oknum yang mengaku sebagai anggota kepolisian dan memanfaatkan situasi untuk melakukan modus penipuan.
Di balik kepergiannya, ternyata tidak ada persoalan dalam keluarga. Awalnya, keluarga menduga Ghilmi kecewa karena sehari sebelumnya gagal meraih gelar juara dalam pertandingan tinju (boxser) di Arcamanik.
Namun setelah pulang, Kamis 30 Juli 2026 sekitar pukul 21.00 WIB, Ghilmi mengungkapkan alasan yang selama ini dipendamnya. Ia mengaku pernah bernazar, jika kalah dalam pertandingan tersebut, ia akan pergi selama satu tahun. Nazar itulah yang mendorongnya meninggalkan rumah dan berjalan kaki dari Sayati menuju Padalarang.
Perjalanan itu ternyata menjadi perjalanan perenungan. Di sepanjang jalan, banyak orang yang ditemuinya memberikan nasihat dan membujuk agar ia mengurungkan niat serta kembali kepada kedua orang tuanya.
Puncaknya terjadi ketika Ghilmi singgah di sebuah mushola SPBU untuk menumpang tidur dan salat. Seusai salat tahajud dan berdoa, ia merasakan seolah mendengar suara ibunya berbisik di dalam hati, “Pulanglah, Allah Maha Pemaaf.” Kalimat sederhana itu menggugah batinnya dan mengubah keputusan yang telah bulat ia ambil.
Dengan langkah yang mantap, Ghilmi akhirnya memilih pulang. Di tengah berjalan kaki ada yang menawari tumpangan goje, yang kemungkinan pengebudi gojek tersebut sudah tahu informasi tentang Ghilmi yang viral. Karena menurut Ghilmi, meski ia tidak menyebut alamat rumahnya, ia di antar ke kampung halaman Ghilmi.
Kepulangannya disambut pelukan hangat kedua orang tua dan keluarga yang sejak awal tak pernah berhenti berharap. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam setiap kesalahan selalu ada jalan untuk kembali. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 53:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Bagi keluarga Ghilmi, kepulangan sang putra adalah nikmat yang tak ternilai. Mereka berharap pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, bahwa komunikasi, doa, dan kasih sayang keluarga selalu memiliki jalan untuk membawa seseorang kembali ke rumah.***:Sopandi
















