Dejurnal.com, Garut – Dibalik cerita hal program Makan Bergizi Grati (MBG), ada ribuan nasib Chef atau Juru Masak Profesional, yang tentunya ada dibelakang suksesnya Dapur MBG. Bahkan dengan hadirnya Para Chef, aksi nyata sebagai multifplier effect program MBG. Masa yang merupakan gabungan dari ratusan Chef, yang datang langsung ke Gedung DPRD Kabupaten Garut dan sambil melakukan aksi demo masak dan bertepatan Rapat Paripurna DPRD Garut, tentunya menjadi moment tersendiri, Senin 6 Juli 2026.
Bahkan atas kehadiran Para Chef Dapur MBG tersebut disambut langsung oleh Bupati dan Ketua serta Unsur Pimpinan lainnya, yang saat itu sedang menggelar Rapat Paripurna DPRD, akhirnya Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Garut diskor demi melayani Para Chef, yang datang dari berbagai pelosok Dapur MBG, yang berada di Kabupaten Garut.
Dimana chef dan juru masak profesional setiap harinya mememastikan tersajinya porsi makanan secara higienis, lezat dan bernutrisi tinggi. Para Chef tersebut telah memiliki sertifikat dan bekerjasama ICA (Indonesian Chef Association) sebanyak 5.000 untuk pengerahan Massal Chef di Program BGN yang secara Profesional.
Menurut salah satu masa aksi, bahwa Para Chef yang tergabung di Program MBG ini, merupakan profesi sebagai juru masak yang telah bergelut pengalaman bertahun tahun, tidak hanya memasak saja dalam program MBG, tetapi melatih mengajarkan, juga standar keamanan pangan serta teknik masak yang baik, benar kepada para pekerja di Dapur MBG.
“Benar kami secara profesi sebagai chef namun kami juga disini berbagai latihan dan cara memahami ilmu masak yang baik dan benar, ilmu nutrisi dan gizi ke para pekerja di Dapur MBG”. Jelasnya.
Masa aksi yang mewakili ratusan Chef dan Juru Utama yang tergabung didalam ICA (Indonesian Chef Association) serta Pratama (Persatuan Juru Utama) itu ada sekitar 540 orang berdasarkan data yang terakhir di Kabupaten Garut.
“Data terakhir itu ada sekitar 540 Orang, semua harus bersertifikat Food Handler (Penjamah Pangan) pekerja yang secara langsung, menangani terkait hal proses persiapan, pengolahan, penyimpanan dan penyajian makana. Dimana Profesi ini diwajibkan menjaga kebersihan diri, mencegah kontaminasi silang, dan untuk menjadi Profesional itu perlu mengikuti pelatihan higiene sanitasi, dan sertifikasi kompetensi dari BNSP ( Badan Sertifikat Profesi Nasional ) di Asosiasi Profesi Kemanan Pangan Indonesia atau LSP JMKP “. Ungkapnya
Dikatakan lebih lanjut oleh perwakilan dari Chef atau Juru Utama,
“Untuk Juru Utama itu wajib bersertifikat dari BNSP, dari Pemerintah apakah Chef itu betul – betul layak jadi Jurut Utama, bahkan Para Chef dan Juru Utama ini tidak hanya sebagai warga Garut saja ada yang dari Bandung, Sukabumi dan dibeberapa daerah lainnya, yang sudah pada senior diprofesinya “. Tegasnya.
Adapun maksud dan tujuan kedatangan masa aksi Para Chef, tergabung dalam ICA dan Pratama tersebut, bahwa hanya ingin memperlihatkan kepada publik dan pejabat Pemda Garut, berkaitan olahan makanan yang selalu disajikan selama ini.
“Ya kita kesini dengan tujuan bahwa kita ingin memperlihatkan untuk makanan yang tadi itu, kita sajikan itu betul-betul, memang seperti begitu jadi kita juga dan mewakili rekan-rekan relawan, makanan makanan yang kita sajikan, dari mulai hal pengolahan sampai siap saji, dan untuk Chef dan Juru Utama itu harus memiliki sertifikat resmi dari BSPN, apalagi saat ini dengan sistem baru diwajibkan kalau waktu kebelangkang mungkin saja ada, untuk sekarang sifatnya Chef atau Juru Utama itu wajib memiliki sertifikat BSPN “. Tandasnya.
Ketika ditanya mensoal selama liburan apakah ada dapur beroperasional
“Selama liburan sekolah itu distop, dan kita hadir disini sekali lagi dalam rangka menyatukan persepsi, sambil silaturahmi mungkin selama ini ada hal yang kurang, kita perbaiki “. Pungkasnya.
Dengan hadirnya program MBG ini tentu sebagai bukti adanya multifplier effect, dimana MBG ini bukan sekedar program pemenuhan gizi anak saja, kehadirannya juga dapat menciptakan lapangan kerja untuk ribuan pekerja dan menggerakan roda perekonomian rakyat diseluruh wilayah/Daerah di Indonesia. Tentunya atas kelanjutan program MBG tersebut menggantung ratusan, ribuan bahkan jutaan nasib dan harapan hidup warga masyarakat Indonesia.***Yohaness.















