Dejurnal.com, CIAMIS. Upaya Kabupaten Ciamis mempercepat penemuan kasus Tuberkulosis (TB) mendapat perhatian dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus, Senin (21/9/2026).
Di hadapan Wamenkes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis dr. H. Rizali Sofiyan memaparkan capaian Active Case Finding (ACF) TB yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) selama periode 13 Juli hingga 18 September 2026.
Paparan tersebut menunjukkan skrining TB telah diperluas ke 180 lokus yang tersebar di seluruh puskesmas di Kabupaten Ciamis dengan sekitar 18.000 peserta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.746 peserta telah tercatat dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).
Pemaparan capaian itu mendapat apresiasi dari Wamenkes. Integrasi ACF TB dengan CKG dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas jangkauan deteksi, karena pemeriksaan TB dapat dilakukan bersamaan dengan pelayanan kesehatan yang sudah lebih dekat dengan masyarakat.
dr. Rizali menjelaskan, penguatan penemuan kasus juga dilakukan melalui penelusuran terhadap kasus TB yang telah ditemukan.
Dari 365 kasus TB yang dilakukan tracing, petugas mengidentifikasi 1.321 kontak serumah dan kontak erat.
Selanjutnya, kontak tersebut ditindaklanjuti melalui proses skrining untuk menemukan kemungkinan kasus baru sekaligus mencegah penularan berlanjut di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, sebanyak 486 kontak menjalani skrining menggunakan X-Ray, dengan 400 orang teridentifikasi sebagai terduga TB dan 31 orang terkonfirmasi melalui pemeriksaan diagnosis TB. Sementara itu, 21 orang yang memenuhi kriteria telah memulai Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
“Melalui ACF ini kita tidak hanya mencari kasus, tetapi juga menelusuri kontak erat dan kontak serumah. Tujuannya supaya kasus bisa ditemukan lebih cepat dan penularan dapat segera dicegah,” ujar Rizali dalam paparannya.
Skrining Menyasar Populasi Rentan
Selain tracing terhadap kontak pasien, Dinas Kesehatan Ciamis juga memperluas skrining kepada kelompok populasi rentan.
Dalam periode yang sama, sebanyak 15.798 orang dari kelompok populasi rentan tercatat menjalani skrining. Dari jumlah tersebut, 11.517 orang menjalani pemeriksaan menggunakan X-Ray.
Hasil skrining menunjukkan terdapat 2.721 orang yang masuk kategori terduga TB. Sebanyak 137 orang kemudian dilanjutkan ke pemeriksaan diagnosis, dan dari proses tersebut ditemukan 12 kasus TB.
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa integrasi ACF TB dengan CKG tidak hanya diarahkan untuk menemukan pasien yang sudah bergejala, tetapi juga menyasar kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko.
Menurut dr. Rizali, pola tersebut akan terus dikembangkan dengan memperluas lokus ACF dan mengintegrasikannya dengan layanan CKG di puskesmas, posyandu maupun posbindu.
Penelusuran kontak juga akan diperkuat melalui pendekatan aktif, termasuk kunjungan dari rumah ke rumah.
Setiap kontak yang memenuhi kriteria akan diarahkan menjalani skrining, sementara masyarakat yang terindikasi sebagai terduga TB akan segera dirujuk untuk pemeriksaan diagnostik.
Tidak Berhenti di Penemuan Kasus
dr. Rizali mengatakan Dinas Kesehatan Ciamis menyiapkan sejumlah langkah lanjutan setelah kasus ditemukan. Pasien TB akan dipastikan mendapatkan pengobatan sesuai standar, sementara kontak serumah, kontak erat dan populasi berisiko yang memenuhi syarat akan mendapatkan TPT.
Pendampingan pengobatan juga akan melibatkan Pengawas Menelan Obat (PMO), kader dan keluarga. Pemantauan kepatuhan terapi serta kemungkinan efek samping menjadi bagian dari tindak lanjut agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan sampai sembuh.
Program tersebut selanjutnya akan dipantau melalui evaluasi rutin, supervisi dan pelaporan. Dinkes juga akan menggunakan sistem informasi serta dashboard CKG untuk melihat perkembangan capaian sekaligus mengidentifikasi kendala di lapangan.
Lebih lanjut dr. Rizali menuturkan, seluruh rangkaian tersebut diarahkan pada satu tujuan, yakni menemukan kasus sedini mungkin, memastikan pasien mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan di tengah masyarakat.
“Lanjutkan skrining, temukan kasus, lindungi keluarga dan bersama-sama wujudkan Ciamis bebas TBC,” menjadi semangat yang dibawa dalam penguatan program tersebut.
Selain memaparkan capaian ACF TB, dr. Rizali juga menyampaikan kondisi sarana pelayanan kesehatan dasar kepada pemerintah pusat.
Saat ini Kabupaten Ciamis memiliki 24 puskesmas rawat inap dan 13 puskesmas nonrawat inap, serta didukung puskesmas keliling dan puskesmas pembantu.
Dinkes Ciamis mengusulkan kebutuhan perbaikan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar dengan total nilai sekitar Rp48,9 miliar.
Penguatan fasilitas tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan penguatan program deteksi TB.
Sebab, penemuan kasus yang semakin luas harus ditopang kemampuan fasilitas kesehatan dalam melakukan pemeriksaan, diagnosis, pengobatan hingga pendampingan pasien.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, Pemkab Ciamis, Dinas Kesehatan, puskesmas, kader, keluarga dan masyarakat, program ACF TB terintegrasi CKG ditargetkan terus diperluas agar penemuan kasus semakin cepat dan mata rantai penularan TB dapat ditekan. (Nay Sunarti)



















