Dejurnal.com, CIAMIS. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis terus menyalurkan bantuan air bersih untuk membantu warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Sejak Selasa, 22 September 2026, distribusi dilakukan secara berkala setiap Selasa dan Kamis dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Wakil Ketua II BAZNAS Kabupaten Ciamis, Drs. H. Syarief Nurhidayat, M.Si., mengatakan penyaluran air bersih tersebut dikoordinasikan melalui program BAZNAS Tanggap Bencana. Sejumlah desa di Kecamatan Cihaurbeuti, Panjalu, dan Banjaranyar telah menerima bantuan.
Berdasarkan data penyaluran, bantuan air bersih telah didistribusikan ke enam desa, yakni Desa Sukamulya sebanyak 10.000 liter, Desa Sandingtaman 5.000 liter, Desa Sukasetia 5.000 liter, Desa Sumberjaya 5.000 liter, Desa Cijulang 15.000 liter, serta Desa Cikaso, Kecamatan Banjaranyar, sebanyak 20.000 liter.
Dengan demikian, total bantuan yang tercatat dalam daftar penyaluran tersebut mencapai 60.000 liter air bersih.
Syarief menjelaskan, volume bantuan yang diberikan kepada setiap desa tidak selalu sama. Jumlahnya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan warga serta kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing.
“Penyaluran kami agendakan dua kali dalam seminggu, setiap Selasa dan Kamis. Jumlah air yang didistribusikan menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Selama masyarakat masih membutuhkan, kami akan berupaya memfasilitasi bantuan tersebut,” ujarnya Senin (12/10/2026)
Menurut Syarief, bantuan memang belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan air masyarakat. Namun, distribusi tersebut diharapkan bisa meringankan beban warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan keperluan rumah tangga yang mendasar.
Bekerja Sama dengan BPBD dan PDAM
Dalam pelaksanaannya, BAZNAS melibatkan BTB (BAZNAS Tanggap Bencana) untuk mendukung penyaluran bantuan air bersih langsung ke lokasi terdampak.
Distribusi juga dilakukan melalui koordinasi dengan BPBD, PDAM, serta pemerintah desa sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan
Kerja sama diperlukan karena BAZNAS tidak memiliki armada tangki air sendiri untuk menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan.
Ia menjelaskan, bantuan tidak hanya ditentukan berdasarkan pemantauan kondisi kekeringan, tetapi juga dapat diajukan oleh masyarakat terdampak melalui pemerintah desa atau Unit Pengumpul Zakat (UPZ) setempat.
Permohonan tersebut menjadi bahan koordinasi untuk mengetahui lokasi yang mengalami kekurangan air, tingkat kebutuhan warga, serta penentuan penyaluran bantuan.
Karena itu, warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat berkoordinasi dengan pemerintah desa atau UPZ di wilayah masing-masing untuk mengajukan permohonan bantuan kepada BAZNAS Ciamis.
Krisis Air Mulai Terjadi di Wilayah yang Sebelumnya Aman
Syarief menilai persoalan kekeringan tidak bisa hanya dilihat sebagai dampak musim kemarau. Perubahan kondisi lingkungan dan menurunnya ketersediaan air tanah juga perlu menjadi perhatian bersama.
Ia mencontohkan Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, yang sebelumnya relatif terbantu oleh kedekatannya dengan sumber air dari kawasan Gunung Sawal.
Pada musim kemarau tahun ini, warga di wilayah tersebut tetap mengalami kesulitan mendapatkan air.
“Sekarang daerah yang sebelumnya relatif aman dari kekeringan pun mulai mengalami kesulitan. Sumber air di sejumlah tempat semakin berkurang, sehingga persoalan ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Ia juga menyoroti penggunaan air tanah yang terus meningkat. Bertambahnya sumur di berbagai wilayah, menurutnya, perlu diimbangi dengan upaya menjaga ketersediaan cadangan air agar sumber air tidak semakin mudah surut saat musim kemarau.
Karena itu, penanganan kekeringan perlu dilakukan melalui dua langkah sekaligus, yakni membantu warga yang membutuhkan air dalam kondisi darurat dan memperkuat upaya konservasi air untuk jangka panjang.
Ajak Masyarakat Menjaga Cadangan Air
Selain menyalurkan bantuan, Syarief mengajak masyarakat membangun kebiasaan menjaga sumber air dan memanfaatkan air hujan sebagai cadangan ketika musim kemarau tiba.
Menurutnya, gerakan menjaga air perlu dibangun sejak dini melalui keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan pemerintah.
Kesadaran tersebut diharapkan dapat membantu menjaga cadangan air tanah sehingga dampak kekeringan pada musim berikutnya dapat dikurangi.
Syarief juga mengajak desa-desa yang masih mengalami kesulitan air untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait agar kebutuhan warga dapat dipetakan dengan lebih baik.
Penentuan titik distribusi yang terpusat dan mudah dijangkau dinilai dapat membantu mempercepat penyaluran bantuan.
Ia menyampaikan terima kasih kepada para muzaki dan munfik yang telah menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Ciamis.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan air bersih. (Nay Sunarti)



















