Dejurnal.com, CIAMIS. Motif batik Laras Cilangit karya Riska Trisnawati dari Desa Sadapaingan meraih nilai tertinggi dalam Lomba Desain Motif Batik Panawangan dalam Ragam Cita Prameswari. Karya tersebut memperoleh skor 362, mengungguli peserta lain dalam lomba yang digelar TP PKK Kecamatan Panawangan bersama Prameswari Galuh.
Lomba yang menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional 2026 ini tidak sekadar mencari desain terbaik.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi kader PKK untuk menggali kekayaan budaya di lingkungan masing-masing dan menuangkannya ke dalam motif batik.
Di balik kegiatan ini, ada inisiatif Mia Sumiari Dewi, S.Pd., Gr., melalui Prameswari Galuh. Ia mendorong pelestarian batik agar tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga melibatkan masyarakat secara lebih luas.
Sebelumnya, Mia menginisiasi kegiatan batik dalam rangka Hari Batik Nasional di SMAN 1 Panawangan.
Kali ini, gerakan tersebut diperluas melalui kolaborasi dengan TP PKK Kecamatan Panawangan, sehingga kader dari berbagai desa turut mendapat kesempatan untuk berkreasi.
Bagi Mia, pengembangan batik lokal perlu melibatkan banyak pihak agar kekayaan budaya daerah semakin dikenal dan memiliki peluang untuk dikembangkan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang kepada masyarakat, khususnya kader PKK, untuk menggali potensi daerahnya dan menuangkannya dalam bentuk motif batik. Setiap daerah memiliki cerita, tradisi, dan kekhasan yang bisa menjadi inspirasi sebuah karya,” ucapnya saat penyerahan hasil juara. Kamis (15/10/2026)
Karya Lokal dengan Potensi Lebih Luas
Berdasarkan hasil penilaian panitia, posisi kedua ditempati Nindi Yuliana dari Sadapaingan dengan nilai 355. Sementara itu, Lina Marlina dari Mekarbuana berada di peringkat ketiga dengan skor 351.
Selanjutnya, Asyila Putri Ramadani dari Panawangan meraih nilai 343, disusul Ai Noerohmah dari Nagarawangi dengan nilai 342. Nurita Milendi Sendy dari Kertayasa memperoleh nilai 341.
Beragam karya yang masuk dalam penilaian menunjukkan bahwa potensi motif batik dapat digali dari lingkungan terdekat masyarakat.
Kekayaan alam, tradisi, sejarah, hingga identitas desa bisa menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan desain yang memiliki ciri khas.
Dalam lomba ini, peserta mengusung tema “Mengangkat Kearifan Lokal Daerahku”. Penilaian mencakup orisinalitas karya, kesesuaian dengan tema, keindahan dan komposisi motif, serta kedalaman filosofi yang terkandung di dalamnya.
Mia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada pengumuman pemenang. Menurut draf pernyataan yang masih perlu dikonfirmasi, karya peserta perlu mendapat kesempatan untuk didokumentasikan dan dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Harapannya, motif yang dihasilkan tidak hanya menjadi karya lomba, tetapi juga bisa diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan batik lokal. Nama penciptanya tetap dicantumkan sehingga kreativitas dan kontribusi peserta mendapat penghargaan,” harapanya
Dari Lomba Menuju Pengembangan Batik Lokal
Dalam petunjuk teknis kegiatan, karya yang lolos kurasi direncanakan masuk ke dalam Katalog Resmi “Ragam Cita Prameswari” dengan tetap mencantumkan nama penciptanya.
Motif terpilih juga berpeluang dikembangkan menjadi kain batik yang memiliki nilai ekonomi.
Rencana tersebut membuka peluang agar desain yang dibuat peserta tidak berhenti sebagai gambar di atas kertas.
Melalui proses kurasi, pengembangan desain, produksi, dan pemasaran, karya yang memenuhi kriteria dapat diarahkan menjadi produk kreatif berbasis kearifan lokal.
Upaya ini sekaligus menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan masyarakat.
Kader PKK tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga berkesempatan berkontribusi dalam memperkaya ragam motif batik yang merepresentasikan daerahnya.
Bagi Prameswari Galuh, kolaborasi dengan TP PKK Kecamatan Panawangan menjadi salah satu cara untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam pengembangan batik.
Sementara itu, dokumentasi karya diharapkan dapat membantu menjaga identitas pencipta sekaligus memperkenalkan kekayaan motif lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Kemenangan Laras Cilangit menjadi salah satu hasil dari proses kreatif tersebut.
Lebih dari sekadar persaingan meraih nilai tertinggi, lomba ini membuka ruang bagi masyarakat Panawangan untuk mengenali potensi budayanya dan mengembangkannya menjadi karya yang memiliki nilai seni, identitas, serta peluang ekonomi. (Nay Sunarti)


















