CIAMIS, deJurnal,- Keramaian di Jembatan Cirahong tidak lahir dari perencanaan wisata.
Ia muncul dari sebuah video singkat yang diunggah ke media sosial, lalu menyebar cepat dan mengubah cara orang memandang jembatan tua di perbatasan Ciamis–Tasikmalaya itu.
Dalam video viral sebelumnya, terlihat seorang pengguna jalan yang melintas dan merekam adanya penerimaan uang oleh petugas di area penyeberangan.
Unggahan itu kemudian ditafsirkan sebagai dugaan pungutan liar (pungli) dan memicu perbincangan luas di ruang digital.
Dalam waktu singkat, narasi “pungli di Cirahong” viral.
Peristiwa itu kemudian sampai ke perhatian publik yang lebih luas, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Ia menegaskan praktik pungutan liar tidak dapat dibenarkan dan harus ditindaklanjuti.
Setelah viral, sistem penjagaan lama di kawasan jembatan mulai dievaluasi. Petugas jaga yang selama puluhan tahun mengatur arus penyeberangan di lokasi tersebut akhirnya tidak lagi difungsikan.
Sebagai pengganti sistem lama, pengelolaan kawasan Jembatan Cirahong kini menggunakan pendekatan baru: marka jalan dan kamera pengawas (CCTV).
Perubahan terjadi bersamaan dengan kondisi jembatan yang sebelumnya telah diperbaiki oleh pemerintah provinsi, sehingga kini dapat dilalui dua kendaraan dari arah berlawanan dengan lebih aman.
Namun perubahan juga membuka fase baru meningkatnya akses dan mobilitas pengunjung.
Setelah peristiwa viral tersebut, jembatan Cirahong justru mengalami lonjakan kunjungan. Warga datang bukan hanya untuk melintas, tetapi juga untuk melihat langsung lokasi yang sempat ramai diperbincangkan.
Tanpa promosi resmi dan tanpa status destinasi wisata formal, kawasan ini berubah menjadi ruang wisata dadakan.
Di sekitar jembatan, aktivitas ekonomi ikut tumbuh. Pedagang makanan dan minuman bermunculan. Sorabi Cirahong menjadi salah satu yang paling banyak dicari pengunjung.
Antrean pembeli kerap terlihat pada akhir pekan. Warga sekitar memanfaatkan momentum tersebut untuk menggerakkan ekonomi harian mereka.
“Sekarang kalau akhir pekan ramai sekali, jauh berbeda dengan dulu,” kata salah satu pedagang.
Perubahan di Jembatan Cirahong memperlihatkan wajah baru sebuah ruang publik dari lintasan biasa menjadi titik keramaian yang lahir dari viral.
Namun di balik itu, terdapat perubahan sosial yang tidak selalu seimbang. Sebagian warga kehilangan peran lama sebagai penjaga, sementara sebagian lain mendapatkan ruang ekonomi baru dari keramaian yang datang tiba-tiba.
Kasus Cirahong menunjukkan bagaimana satu video dapat mengubah fungsi sebuah ruang.
Dari dugaan pungli, muncul respons kebijakan. Dari kebijakan, lahir sistem baru. Dari sistem baru, muncul wisata dadakan.
Di titik ini, Cirahong bukan lagi sekadar jembatan. Ia menjadi ruang yang berubah cepat oleh viral.
Dari kasus ini terlihat efek viral saat ini tidak lagi hanya menjadi fenomena sesaat, melainkan telah menjadi kenyataan yang dampaknya benar-benar dirasakan di lapangan baik oleh masyarakat, pelaku usaha, maupun pihak pengelola ruang publik.
Cirahong beserta warganya kini perlahan mulai beradaptasi dengan perubahan waktu.
Mereka menyesuaikan diri dengan wajah baru yang terbentuk dari derasnya arus informasi digital yang terus bergerak tanpa henti. (Nay Sunarti)

















