CIAMIS, deJurnal,- Sasak Cirahong bukan sekadar jembatan penghubung wilayah. Lebih dari itu, ia menjadi simbol sejarah, kebersamaan, dan nilai spiritual masyarakat.
Melalui kegiatan Rumat Sasak Purwakala 1894: Mieling Ngadegna Sasak Cirahong, warga diajak kembali memahami dan merawat jejak masa lalu sebagai bagian dari identitas bersama.
Kegiatan yang digelar Sabtu (25/4/2026) di kawasan Jembatan Cirahong sisi Ciamis (eks RM Batu Hitam) ini berlangsung sejak pukul 08.00 WIB.
Warga dari Ciamis dan Tasikmalaya hadir dengan antusias, bahkan tanpa undangan resmi.
Kehadiran spontan ini menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat terhadap sejarah jembatan tersebut.
Acara ini diinisiasi Persatuan Pesantren Ortodok, Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, dan Yayasan Kusumah Diningrat Jambansari dengan mengusung tema “Ngarumat Tapak, Ngageuing Rasa, Mapag Cirahong Digjaya”.
Tema tersebut mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tawasulan kepada para leluhur dan tokoh pendiri Sasak Cirahong. Suasana berlangsung khidmat, diperkuat dengan lantunan salawat yang menggema dari arah Tasikmalaya menuju Ciamis.
Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis, Dr. Yat Rospia Brata, M.Si., menjelaskan bahwa Sasak Cirahong memiliki nilai sejarah yang sangat penting.
“Berdasarkan manuskrip Eyang Kusumasubrata, jembatan ini diresmikan pada 1 November 1894. Ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi bagian dari perjalanan peradaban,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan jembatan tersebut melibatkan negara-negara Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Jerman.
Hal ini menunjukkan bahwa Sasak Cirahong memiliki nilai sejarah hingga tingkat internasional dan kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.
Nuansa spiritual semakin terasa melalui prosesi Adzan Vitu, yakni tujuh orang melantunkan adzan dari titik berbeda di sekitar lokasi.
Tokoh Agama Kang Ujang Abdussalam menyebut prosesi ini sebagai simbol keseimbangan hidup.
“Adzan Vitu mengingatkan kita bahwa hubungan manusia tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan Tuhan. Keduanya harus seimbang,” katanya.
Selain itu, ditampilkan pula tradisi Adan Vitu sebagai simbol penyangga jembatan.
Tujuh orang berdiri dalam formasi dua di utara, tiga di tengah, dan dua di selatan, melambangkan pentingnya kebersamaan dalam menopang sesuatu yang besar.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mushofahah atau saling bersalaman antar peserta. Momen ini menjadi sarana mempererat persaudaraan warga dari berbagai daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Heryan Rusyandi, S.Sos., M.M., menilai kegiatan ini sebagai langkah penting dalam menjaga identitas daerah.
“Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa sejarah masih hidup. Ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi gerakan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini diharapkan menjadi agenda tahunan agar generasi muda terus mengenal sejarah daerahnya.
“Kami juga berharap ke depan ada museum Sasak Cirahong sebagai pusat edukasi sejarah,” tambahnya.
Sebagai situs cagar budaya nasional, Sasak Cirahong tidak hanya memiliki nilai lokal, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah yang lebih luas.
Keberadaannya menjadi bukti perpaduan antara teknologi, budaya, dan nilai spiritual.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diingatkan bahwa sejarah tidak cukup hanya dikenang.
Tapi harus dijaga dan dirawat bersama agar tetap hidup dan menjadi pijakan bagi generasi mendatang. (Nay Sunarti)
















