CIAMIS, deJurnal – Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis resmi meluncurkan PUTRI BERANI (Program Keputrian Berani Bicara, Empati, Religi, Aman, Networking, dan Inspiratif), sebuah inovasi yang menjadi proyek perubahan Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Aris Gunanto, S.Pd., M.Pd., dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026.
Program tersebut menjadi langkah strategis Disdik Ciamis dalam memperkuat upaya pencegahan perundungan (bullying) sekaligus mewujudkan sekolah yang aman, ramah anak, berkarakter, dan berpihak pada perlindungan peserta didik.
Peluncuran PUTRI BERANI dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi di SMP Negeri 1 Ciamis dan SMP Negeri 4 Ciamis, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Ciamis, Tim Penggerak PKK, Persit Kartika Chandra Kirana, Bhayangkari, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), tenaga kesehatan, serta berbagai organisasi dan komunitas pemerhati pendidikan sebagai bentuk kolaborasi dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Ciamis, Aris Gunanto, mengatakan PUTRI BERANI dirancang bukan sekadar sebagai program sosialisasi, melainkan sebuah model terpadu pencegahan bullying yang mengedepankan langkah preventif melalui penguatan karakter, sistem deteksi dini, pelaporan yang aman, hingga keterlibatan aktif orang tua.
“Program ini kami hadirkan sebagai proyek perubahan untuk memperkuat perlindungan terhadap peserta didik. Pencegahan bullying tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari sekolah, keluarga, pemerintah hingga masyarakat,” ujarnya.
Menurut Aris, kasus perundungan masih menjadi tantangan di lingkungan pendidikan karena dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga prestasi belajar peserta didik.
Karena itu, PUTRI BERANI dikembangkan sebagai sistem yang mampu membangun budaya saling menghormati, menumbuhkan empati, serta mendorong keberanian peserta didik untuk berbicara ketika menjadi korban maupun saksi tindakan perundungan.
Program tersebut dibangun melalui enam strategi yang saling terintegrasi.
Tahap pertama adalah Character and Digital Citizenship Strengthening, yaitu penguatan pendidikan karakter, empati, literasi digital, serta etika bermedia sosial.
Implementasinya dilakukan melalui kegiatan keputrian yang dilaksanakan rutin setiap hari Jumat pukul 11.30 hingga 13.00 WIB ketika peserta didik laki-laki melaksanakan Salat Jumat.
Selanjutnya diterapkan Early Detection Bullying Screening, yakni pemetaan kondisi peserta didik melalui kuesioner untuk mengidentifikasi potensi korban, pelaku, maupun saksi perundungan.
Melalui langkah tersebut, sekolah diharapkan mampu melakukan pendampingan sejak dini sebelum persoalan berkembang lebih jauh.
Disdik Ciamis juga menghadirkan Safe Reporting Mechanism, yaitu sistem pelaporan berbasis Google Form yang mudah diakses dan menjamin kerahasiaan identitas pelapor.
Bahkan peserta didik dapat menyampaikan laporan secara anonim agar lebih berani melaporkan tindakan bullying yang dialami ataupun disaksikan.
Seluruh hasil pemetaan dan laporan kemudian diintegrasikan ke dalam Dashboard Monitoring System sehingga sekolah bersama Dinas Pendidikan dapat memantau perkembangan setiap kasus secara cepat, tepat, dan berbasis data.
Untuk memperkuat dukungan antarsiswa, PUTRI BERANI juga membentuk Duta PUTRI BERANI melalui Peer Support System.
Para duta dipersiapkan menjadi teman sebaya yang mampu mendengarkan, memberikan pendampingan awal, serta menjadi penghubung antara peserta didik dengan guru apabila ditemukan indikasi perundungan.
Sementara itu, keterlibatan keluarga diperkuat melalui Parent Engagement Model dengan pelaksanaan kegiatan parenting, edukasi, komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua, serta pendampingan bersama agar pengawasan terhadap perkembangan anak dapat berjalan secara berkelanjutan.
Aris menegaskan, keberhasilan menciptakan sekolah yang aman dan bebas bullying tidak dapat dibebankan kepada sekolah semata.
Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar budaya saling menghargai dan saling melindungi dapat tumbuh di lingkungan pendidikan.
“Harapan kami, PUTRI BERANI mampu menjadi gerakan bersama dalam membangun budaya sekolah yang saling menghargai, saling melindungi, dan memberikan ruang yang aman bagi setiap anak untuk berani berbicara ketika mengalami ataupun menyaksikan perundungan. Perlindungan anak merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Melalui proyek perubahan tersebut Aris berharap seluruh SMP di Kabupaten Ciamis memiliki sistem pencegahan perundungan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dengan demikian, setiap satuan pendidikan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal. (Nay Sunarti)

















