CIAMIS, deJurnal,- Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya menyampaikan apresiasi sekaligus rasa bangga terhadap masyarakat yang terus mempertahankan budaya gotong royong di Kabupaten Ciamis.
Di tengah keterbatasan fiskal pemerintah daerah, semangat kebersamaan warga dinilai menjadi salah satu kekuatan dalam menjaga pembangunan di Kabupaten Ciamis.
Bupati Herdiat mengatakan, gotong royong masih berjalan di berbagai lingkungan masyarakat. Warga tidak selalu menunggu pemerintah ketika menghadapi persoalan di lingkungannya, termasuk saat menemukan akses jalan yang mengalami kerusakan.
“Gotong royong selalu terjaga dan berjalan. Jalan saja rusak diperbaiki swadaya. Karena anggaran kita terbatas,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, kemampuan anggaran yang terbatas membuat seluruh kebutuhan pembangunan tidak bisa diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Karena itu, penanganan berbagai kebutuhan infrastruktur dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas dan kemampuan keuangan daerah.
Keterbatasan Anggaran Bukan Alasan Berhenti Bergerak
Bupati Herdiat mengakui persoalan infrastruktur, khususnya jalan, masih menjadi pekerjaan yang harus terus ditangani. Kondisi jalan dapat berubah akibat berbagai faktor, salah satunya cuaca dan tingginya intensitas hujan.
“Kadang kala sakit hati, jika musim hujan tiba kita tidak bisa banyak bergerak melakukan perbaikan jalan rusak karena kemampuan fiskal kita yang terbatas,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah juga menghadapi dilema dalam menjaga kualitas infrastruktur.
Di satu sisi kebutuhan masyarakat sangat besar, sementara di sisi lain kemampuan fiskal daerah memiliki batas.
Meski demikian, pemerintah tetap berupaya melakukan pemeliharaan dan peningkatan infrastruktur sesuai kemampuan yang dimiliki.
Dalam kondisi seperti itu, keterlibatan masyarakat menjadi sangat berarti. Gotong royong membantu menjaga akses lingkungan tetap berfungsi sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap fasilitas yang digunakan bersama.
Bupati Herdiat: Saya Bangga dan Bersyukur Punya Masyarakat Ciamis
Bagi bupati, gotong royong bukan sekadar kegiatan memperbaiki fasilitas yang rusak. Tradisi tersebut menunjukkan adanya kepedulian dan solidaritas masyarakat terhadap lingkungan.
Ketika ada jalan lingkungan yang rusak, masyarakat dapat mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan secara swadaya. Langkah sederhana itu dirasakan sangat membantu memperlancar aktivitas warga sembari menunggu penanganan pemerintah sesuai program dan kemampuan anggaran.
Bupati Herdiat menilai kondisi tersebut menjadi salah satu kekuatan Kabupaten Ciamis.
“Saya bangga dan bersyukur mempunyai masyarakat seperti ini,” ungkapnya.
Menurut dia, semangat kebersamaan seperti itu harus terus dipelihara. Pemerintah dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga pembangunan agar manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan.
Gotong Royong Jadi Modal Sosial Pembangunan
Bupati Herdiat menegaskan, keterbatasan fiskal bukan berarti pembangunan harus berhenti. Pemerintah akan tetap menjalankan program sesuai kemampuan anggaran, sementara masyarakat dapat berperan melalui kepedulian dan gotong royong.
Semangat tersebut juga sejalan dengan upaya menjaga hasil pembangunan. Infrastruktur yang telah dibangun membutuhkan perhatian bersama agar tetap terawat dan dapat digunakan dalam jangka panjang.
Gotong royong menjadi modal sosial yang penting bagi Kabupaten Ciamis. Ketika pemerintah bekerja sesuai kapasitasnya dan masyarakat turut mengambil bagian, berbagai persoalan di lapangan dapat dihadapi secara bersama-sama.
Bagi bupati, kekuatan tersebut menjadi alasan untuk terus optimistis. Sebab, pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kepedulian, kebersamaan dan partisipasi masyarakat.
Budaya gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Ciamis pun diharapkan terus dipertahankan sebagai bagian dari karakter masyarakat sekaligus kekuatan dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Ciamis yang maju dan berkelanjutan.
Pemantapan Jalan Nasional Capai 90,14 Persen
Sementara itu, pembangunan dan peningkatan kualitas infrastruktur jalan terus dilakukan melalui sinergi pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Untuk pemantapan jalan nasional, hingga 2024 tingkat kemantapan jalan tercatat mencapai 90,14 persen. Artinya, sebagian besar jaringan jalan nasional telah berada dalam kondisi mantap.
Namun, masih terdapat sekitar 10 persen ruas jalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Hingga 2024, sebagian ruas tersebut belum tersentuh dukungan atau bantuan penanganan.
Kondisi itu menjadi gambaran bahwa pembangunan infrastruktur membutuhkan anggaran besar dan proses yang berkelanjutan. Tidak seluruh kebutuhan dapat ditangani sekaligus, sehingga diperlukan penentuan prioritas serta dukungan lintas pemerintahan (Nay Sunarti)

















