Dejurnal.com, CIAMIS. Ada yang datang ke pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Ada pula yang menjadikannya sebagai ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas, melihat kembali perjalanan diri, lalu perlahan memperbaiki kebiasaan.
Hal itulah yang dirasakan Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Ciamis, H. Akasah, setelah mengikuti kegiatan Pesantren Ampuh Darussalam.
Menurut Akasah, Pesantren Ampuh bukan sekadar kegiatan keagamaan. Konsep yang digagas pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, KH. Fadlil Yani Ainusyamsi, yang akrab disapa Ang Icep, tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memperkuat sisi rohani sekaligus menjaga kondisi jasmani.
“Pesantren itu membawa kita kepada ajaran kebaikan. Bagi saya pribadi, ini menjadi bagian dari hidup. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini menjadi salah satu jembatan yang membawa kita kepada husnul khatimah,” kata Akasah.
Ia menilai pendekatan yang digunakan dalam Pesantren Ampuh cukup dekat dengan kebutuhan peserta. Pembinaan tidak hanya berbicara mengenai pengetahuan agama, tetapi juga mengajak peserta kembali melihat praktik ibadah dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya dengan mengulang kembali dasar-dasar keagamaan, memperbaiki pelaksanaan salat, serta mengevaluasi hal-hal yang selama ini masih dirasakan kurang.
“Yang rohani jelas. Kita mengulang kembali dari bab-bab yang dulu pernah dipelajari, kemudian salat diperbaiki, yang masih kurang diperdalam lagi. Termasuk bagaimana kehalusan hati kita,” ujarnya.
Di sisi lain, peserta juga mendapatkan kegiatan yang berkaitan dengan kebugaran. Salah satu yang menarik perhatian Akasah adalah latihan pengolahan napas.
Bagi Akasah, materi tersebut memiliki pengalaman tersendiri. Ia mengaku pernah menjadi perokok dan merasakan bahwa latihan pernapasan yang diberikan membuat dirinya lebih sadar terhadap kondisi tubuh.
“Dari apa yang diberikan, saya merasakan kesegaran dan kesadaran. Ada perkembangan dalam keseharian, dalam kehidupan, termasuk dalam pola beragama,” tuturnya.
Perubahan itu, menurut Akasah, tidak serta-merta terjadi dalam satu waktu. Namun, perlahan ia mulai merasakan adanya dorongan untuk lebih tertib menjalankan kewajiban dan memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
Ia pun mulai mengajak orang-orang di sekitarnya untuk mengenal kegiatan tersebut.
Belajar Agama dengan Suasana Santai
Salah satu hal yang membuat Akasah tertarik adalah cara penyampaian materi yang tidak terlalu kaku.
Peserta dapat mengikuti pembinaan dalam suasana yang santai. Menurut dia, pendekatan seperti itu justru membuat materi lebih mudah diterima, terutama bagi peserta yang sudah memasuki usia lanjut.
“Enaknya kita bisa menerima pelajaran itu seperti santai saja, sehingga enjoy. Apalagi kalau yang dibimbing teman-teman lansia, tentu tidak mungkin disamakan dengan cara membimbing anak muda,” katanya.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena kebutuhan peserta dari kelompok usia berbeda-beda. Pembinaan harus tetap memberikan substansi keagamaan, tetapi disampaikan dengan cara yang membuat peserta nyaman mengikuti prosesnya.
Bagi Akasah, suasana seperti itu membuat kegiatan pesantren tidak terasa sebagai beban. Peserta justru memiliki ruang untuk belajar, berbincang, berolahraga, sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan masing-masing.
Pesantren Ampuh Menginap di Wisma Ikada
Pesantren Ampuh Darussalam juga memiliki konsep kegiatan menginap. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Wisma Ikada dan dirancang agar peserta memiliki waktu lebih panjang untuk mengikuti rangkaian pembinaan.
Akasah menyebut, kegiatan menginap sebelumnya direncanakan berlangsung dua bulan sekali. Namun, pelaksanaannya masih melihat jumlah peminat dan kemampuan daya tampung tempat.
“Awalnya direncanakan dua bulan sekali. Tetapi melihat sekarang, tergantung peminat dan kapasitas daya tampung. Bisa saja satu bulan sekali, tetapi jumlah pesertanya disesuaikan,” jelasnya.
Konsep menginap membuat peserta tidak hanya mengikuti satu atau dua materi. Waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk mengikuti rangkaian kegiatan rohani dan jasmani secara lebih utuh.
Namun, keberlanjutan kegiatan tersebut juga membutuhkan dukungan operasional, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan fasilitas selama peserta mengikuti program.
Akasah mengatakan komunikasi dengan sejumlah pihak terus dilakukan untuk mencari dukungan. Salah satu yang diharapkan adalah adanya donatur yang dapat membantu keberlangsungan program.
“Saat ini kami masih berhubungan dengan teman-teman. Saya baru bisa mengirim doa, mudah-mudahan rezekinya diluaskan. Ke depan tentu mudah-mudahan ada dukungan yang lebih nyata,” katanya.
Perubahan Perlahan Terlihat di Rumah
Pengalaman mengikuti Pesantren Ampuh rupanya tidak hanya dirasakan oleh Akasah sendiri.
Sang istri, Ratna Akasah, mengakui adanya perubahan dalam keseharian suaminya setelah terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ratna, perubahan itu memang berlangsung secara perlahan. Salah satu yang paling terlihat adalah keteraturan dalam menjalankan ibadah.
“Sedikit demi sedikit ada perubahan. Sekarang ibadahnya menjadi lebih teratur,” ujar Ratna.
Bagi keluarga Akasah, perubahan kecil tersebut justru menjadi bagian penting dari proses memperbaiki diri.
Pesantren tidak hanya berhenti pada materi yang diterima selama kegiatan, tetapi diharapkan berlanjut ketika peserta kembali ke rumah dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Pengalaman Akasah menunjukkan bahwa pembinaan keagamaan dapat hadir dengan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan peserta. Tidak hanya mengasah sisi spiritual, tetapi juga mengajak menjaga tubuh, membangun kebersamaan, dan menata kembali kebiasaan.
Di situlah Pesantren Ampuh Darussalam yang digagas Ang Icep menemukan ruangnya mengajak peserta kembali belajar, memperbaiki yang masih kurang, lalu membawa perubahan itu pulang ke kehidupan sehari-hari. (Nay Sunarti)




















