Dejurnal.com, Bandung – Kemampuan menulis berita yang akurat, menarik, berimbang, dan sesuai kaidah jurnalistik menjadi salah satu materi yang disampaikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bandung dalam kegiatan Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik Warga.
Kegiatan yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bandung tersebut berlangsung di Gedung Toha, Soreang, Rabu (16/9/2026), dengan menghadirkan tiga narasumber dari PWI Kabupaten Bandung.
Salah satu narasumber (Narsum), Ecep Sukirman, menyampaikan materi “Teknis Dasar Menulis Berita” kepada peserta yang terdiri dari Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), pegiat literasi, serta pengurus dan anggota PWI Kabupaten Bandung.
Menurut Ecep, terdapat sejumlah syarat penting yang harus dipenuhi dalam sebuah karya jurnalistik. Di antaranya berbasis fakta nyata, aktual dan relevan, terverifikasi serta akurat, objektif dan berimbang, jelas dan komunikatif, tidak menyesatkan, serta sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.
“Berita harus sesuai fakta dan mengandung unsur 5W+1H, yakni what, who, where, when, why, dan how. Selain itu, informasi harus terverifikasi dan disusun secara sistematis,” ujar Ecep.
Ia menekankan, kecepatan dalam menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan akurasi. Menurutnya, kesalahan dalam pemberitaan dapat berdampak terhadap kredibilitas dan reputasi media maupun penulisnya.
“Jangan sampai membuat berita hanya karena ingin cepat, tetapi ternyata salah. Kesalahan berita bisa meruntuhkan reputasi seketika,” katanya.
Sementara itu, narasumber kedua, R. Dani Nugraha, memaparkan cara membuat berita agar tetap menarik meskipun mengangkat persoalan sederhana di tingkat desa.
Menurut Dani, sebuah peristiwa atau persoalan di desa dapat dikembangkan menjadi gagasan berita yang lebih besar dengan menggali potensi, cerita, dan dampak yang ditimbulkannya.
“Berita dari desa tidak harus selalu mengangkat tema besar atau nasional. Dari hal sederhana pun bisa menjadi gagasan besar ketika kita mampu menemukan potensi, cerita, dan dampaknya,” jelasnya.
Adapun narasumber ketiga, Ziyan M. Nasit, membahas tantangan informasi digital, terutama di tengah derasnya arus informasi di wilayah pedesaan.
Ia mengatakan, masyarakat desa saat ini semakin aktif menggunakan smartphone dan media sosial. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk menyebarkan informasi dan mempromosikan berbagai potensi desa.
Namun, tanpa kemampuan mengolah dan memverifikasi informasi, potensi tersebut dapat tertutupi oleh maraknya disinformasi dan hoaks.
“Potensi desa seperti produksi UMKM dan sektor wisata sering kali kalah oleh disinformasi dan hoaks apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan mengolah informasi dengan baik,” tutur Ziyan.
Seperti disampaikan oleh Kepala Diskominfo Kabuoaten Bandung Tegus Purwayadi saat membuka kegiatan tersebut, bahw melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mampu menggunakan media digital, tetapi juga memiliki kemampuan menghasilkan dan menyebarkan informasi yang faktual, bertanggung jawab, serta bermanfaat bagi masyarakat.***Sopandi


















