Dejurnal.com, CIAMIS. Pemuda tidak cukup hanya pandai berbicara dan menyampaikan kritik. Mereka juga perlu memahami persoalan, memiliki kepedulian, serta berani mengambil tindakan nyata untuk membantu masyarakat.
Pesan itulah yang terkandung dalam trilogi Galuh Tabayun, “Berpikir dengan Ilmu, Bertindak dengan Rasa, dan Mengabdi dengan Hati.”
Gagasan ini menjadi pedoman bagi Forum Mahasiswa Galuh Tabayun (FORMAGAT) dalam mendorong mahasiswa dan pemuda agar tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Ketua FORMAGAT, Aep Supryadi, S.IP., menegaskan bahwa trilogi tersebut bukan sekadar slogan. Ketiga nilai itu perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara berpikir, memperlakukan orang lain, hingga menjalankan pengabdian.
“Pemuda harus memiliki ilmu agar tidak salah dalam mengambil keputusan, memiliki rasa agar peka terhadap keadaan orang lain, dan memiliki hati agar setiap pengabdian dilakukan dengan tulus. Jangan sampai kita banyak berbicara tentang perubahan, tetapi tidak berbuat apa-apa untuk masyarakat,” ujarnya Minggu (11/10/2026)
Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai persoalan di tengah masyarakat. Peran tersebut tidak harus dimulai dengan kegiatan besar, tetapi bisa melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Berpikir dengan Ilmu, Tidak Mudah Percaya Informasi
Pilar pertama, berpikir dengan ilmu, mengajak pemuda untuk membiasakan diri mencari informasi yang benar sebelum menyampaikan pendapat atau mengambil keputusan.
Di era media sosial, informasi dapat menyebar dengan cepat, tetapi tidak semuanya benar. Karena itu, pemuda perlu membiasakan diri memeriksa sumber berita, memahami konteks, dan tidak terburu-buru menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Prinsip ini dikenal dengan istilah tabayun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi. Ajaran tersebut juga terdapat dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6.
Aep menilai, sikap kritis harus dibarengi tanggung jawab. Mahasiswa dan pemuda perlu berani menyampaikan pendapat, tetapi juga harus siap menerima kritik dan mengakui jika melakukan kesalahan.
Dengan begitu, ilmu tidak hanya menjadi bekal akademik, tetapi juga membantu pemuda mengambil keputusan yang tepat dan tidak mudah terprovokasi.
Bertindak dengan Rasa, Tetap Menghargai Sesama
Memiliki ilmu saja tidak cukup jika tidak disertai kepedulian. Karena itu, pilar kedua menekankan pentingnya empati, kesantunan, dan kemampuan memahami keadaan orang lain.
Dalam organisasi, sikap tersebut dapat ditunjukkan dengan menghargai perbedaan pendapat, mendengarkan masukan, dan tidak memaksakan kehendak.
Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, kepedulian dapat dimulai dengan memperhatikan warga yang membutuhkan bantuan atau ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.
“Berbeda pendapat itu wajar. Namun, jangan sampai perbedaan membuat kita saling menjatuhkan. Kita harus bisa bersikap kritis tanpa kehilangan sopan santun dan rasa persaudaraan,” tutur Aep
Nilai tersebut sejalan dengan kearifan budaya Sunda, seperti someah, handap asor, serta prinsip silih asih, silih asah, silih asuh. Artinya, kehidupan bersama perlu dibangun melalui kasih sayang, kerendahan hati, dan semangat saling membimbing.
Mengabdi dengan Hati, Bukan Sekadar Mencari Pujian
Pilar ketiga mengingatkan bahwa ilmu dan kepedulian harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Pengabdian tidak harus berupa program besar, tetapi bisa dimulai dari kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Misalnya, membantu anak-anak belajar, menggerakkan kegiatan literasi, mendukung usaha kecil, menjaga kebersihan lingkungan, atau ikut melestarikan budaya dan sejarah lokal.
Aep menambahkan hal terpenting adalah kegiatan tersebut benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar untuk memenuhi agenda organisasi atau mencari popularitas.
“Bagi saya, pengabdian bukan soal seberapa sering kita tampil atau seberapa banyak kegiatan yang kita adakan. Yang lebih penting adalah manfaatnya. Kalau keberadaan organisasi belum dirasakan masyarakat, berarti masih banyak yang harus kita benahi,” imbuhnya.
Semangat mengabdi dengan hati juga mengajarkan bahwa jabatan dalam organisasi merupakan amanah. Setiap anggota harus mampu bekerja sama dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Menjaga Budaya Galuh, Memberi Manfaat bagi Masyarakat
Trilogi Galuh Tabayun juga mengandung pesan tentang pentingnya menjaga identitas daerah. Kata Galuh mengingatkan pemuda pada sejarah dan kebudayaan Tatar Galuh, sedangkan tabayun mengajarkan pentingnya mencari kejelasan sebelum mempercayai informasi atau mengambil tindakan.
Keduanya menjadi bekal bagi generasi muda untuk tetap mengenal akar budayanya sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.
Menjaga budaya tidak cukup hanya melalui acara seremonial. Nilai-nilai kearifan lokal perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun kebersamaan, menyelesaikan persoalan, dan membantu sesama.
Melalui trilogi ini, FORMAGAT mendorong pemuda untuk menyeimbangkan kecerdasan, kepedulian, dan ketulusan.
Ilmu membantu memahami persoalan, rasa menjaga hubungan dengan sesama, sedangkan hati menjadi landasan untuk mengabdi tanpa kehilangan tujuan.
Aep berharap nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan bagi mahasiswa dan pemuda dalam menjalankan peran di tengah masyarakat.
“Perubahan tidak harus menunggu kita menjadi orang besar. Mulailah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Belajar dengan sungguh-sungguh, peduli terhadap sesama, lalu lakukan sesuatu yang bermanfaat. Dari langkah kecil itulah pengabdian bisa tumbuh,” pungkasnya. (Nay Sunarti)
.


















