Ciamis, deJurnal,- Kesempatan memperoleh pendidikan setara SMP kembali dibuka melalui pelaksanaan Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) Paket B yang digelar PKBM Bina Pandu Mandiri di Kabupaten Ciamis.
Program Paket B merupakan pendidikan nonformal yang setara dengan jenjang SMP/MTs. Program tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami kendala menempuh pendidikan formal, namun tetap ingin melanjutkan pendidikan dan memperoleh ijazah setara SMP.
Pelaksanaan ujian berlangsung selama dua hari, yakni Kamis 14 Mei 2026 dan Jumat 15 Mei 2026, dengan pembagian dua sesi. Sebanyak 17 peserta mengikuti sesi pertama dan 18 peserta mengikuti sesi kedua.
Ujian dilaksanakan di tempat belajar PKBM Bina Pandu Mandiri di Ciamis dengan suasana tertib dan lancar.
Para peserta tampak serius mengikuti setiap tahapan ujian sebagai bagian penting dalam menyelesaikan pendidikan kesetaraan.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, pada hari pertama peserta mengikuti mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), PKn, IPA, dan Bahasa Inggris.
Sementara pada hari kedua, peserta menjalani ujian Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPS.
Untuk sesi pertama, ujian dimulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB. Sedangkan sesi kedua berlangsung mulai pukul 12.00 WIB sampai 16.00 WIB.
Kepala Sekolah PKBM Bina Pandu Mandiri, Tatang Suryamiharja mengatakan, pendidikan kesetaraan menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak dapat mengikuti sekolah formal karena berbagai faktor.
Menurutnya, keberadaan Program Paket B bukan hanya memberikan ijazah setara SMP, tetapi juga membuka peluang peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Program kesetaraan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat yang sempat terhambat pendidikan formal. Kami ingin memastikan mereka tetap memiliki hak belajar dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya Kamis (14/05/2026)
Ia menambahkan, peserta ujian berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ciamis. Bahkan, terdapat peserta yang datang dari wilayah cukup jauh seperti Purwadadi dan Panumbangan.
PKBM Bina Pandu Mandiri sendiri telah berdiri sejak tahun 2007 di wilayah Panumbangan dan terus berkomitmen memberikan layanan pendidikan nonformal bagi masyarakat.
Tatang menyebut, fleksibilitas dalam pendidikan kesetaraan menjadi salah satu alasan banyak masyarakat memilih jalur tersebut untuk melanjutkan pendidikan.
“Yang terpenting bukan hanya ijazah, tetapi bagaimana peserta didik memiliki kesempatan untuk terus belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” katanya.

Salah seorang peserta ujian, Marini berasal dari Panumbangan mengaku haru dan bersyukur dapat mengikuti Ujian Pendidikan Kesetaraan Paket B yang digelar PKBM Bina Pandu Mandiri.
Baginya, kesempatan tersebut menjadi titik awal untuk kembali melanjutkan cita-cita yang sempat tertunda karena keterbatasan dalam menempuh pendidikan formal.
Marini mengatakan, program pendidikan kesetaraan memberi harapan baru bagi masyarakat yang pernah putus sekolah namun masih memiliki keinginan kuat untuk belajar.
Ia merasa terbantu dengan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel dan tetap memberikan kesempatan memperoleh ijazah setara SMP.
“Alhamdulillah saya sangat senang bisa ikut ujian ini. Dulu saya sempat merasa sulit untuk melanjutkan sekolah formal karena keadaan, tapi sekarang masih diberi kesempatan untuk belajar lagi dan mendapatkan ijazah setara SMP,” ujarnya.
Ia mengaku mengikuti ujian dengan penuh semangat karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Menurutnya, pendidikan menjadi bekal penting untuk memperbaiki masa depan dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik.
“Saya ingin terus sekolah dan tidak berhenti sampai di sini. Mudah-mudahan setelah ini bisa lanjut lagi ke jenjang berikutnya supaya punya masa depan yang lebih baik dan bisa membanggakan keluarga,” katanya.
Marini juga menyampaikan apresiasi kepada PKBM Bina Pandu Mandiri yang dinilai telah memberikan ruang belajar bagi masyarakat yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan formal.
“Di sini kami merasa didukung dan diberi semangat untuk terus belajar. Saya berharap semakin banyak orang yang putus sekolah tidak malu untuk kembali melanjutkan pendidikan lewat program seperti ini,” pungkasnya. (Nay Sunarti)














