Dejurnal.com, Bandung- Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Haq Margahayu Kabupaten Bandung menggelar Sholat Idul Adha 1447 H di halaman Sekolah Alh-Haq Margahayu, Kabupaten Bandung, Rabu 27 Mei 2026.
Bertindak sebagai Imam dan Khotib pada kegiatan yang diikuti ratusan jamaah ini yakni Ustadz Fadhil Fauzan Rahman.
Mengawali khotbahnya Fadhil Fauzan mengajak Mustamin untuk bersyukur kepala Allah karena masih diberi kesempatan hari ini bertemu dengan hari yang agung Idul Adha 1446 H.
Ia menyampaikan, Idul Adha tidak hanya merayakan hari yang di dalamnya ada penyembeliha hewan kurban, tetapi momen ini
membuka sejarah tentang ketaulaudan Nabi Ibrahim.
Dijelaskan dalam Al-Quran Surat AN-Nahl ayat 120: Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok panutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik.
Dengan adanya ayat ini menegaskan bahwa nabi Ibrahim bukan sekedar nabi tapi imam dalam ketauhidan dan pengorbanan.
Beliu mempertahankan ketauhauidan di tengah masyarakat yang tunduk dan takut kepada kekuasaan dunia. Ibrahim hidup di tengah sosok pemimpin yang zolim, yakni raja Namrud.
Nabi Ibrahim tidak mengangkat senjata dalam menegakkan ketauhidan, tetapi dengan dialog-dialog yang masuk akal dalam mengagungkan Allah.
Nabi Ibrahim tidak gentar menghadapi amarah kaumnya. Dia dengan percaya diri berkata, “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Bagaimana mungkin kalian menyembah buah karya kalian sendiri?(Assaffat 95).
Pada saat itu raja Namrud tidak menerima, sehingga nabi Ibrahim dihukum dengan dibakar.
Tapi Allah menurunkan pertlongan seperti dalam Al-Quran Sirat Al Anbiya ayat 69. “Kami berfirman, ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!'”
Hari ini, ungkap Khotib Fadhil Fauzan kita tidak melihat lagi Raja Namrud pada masa itu, tapi ada Namrud-Nambrud masa kini. Penguasa yang mengikuti hawa nafsu, melebihi perintah Allah,
tidak sedikit manusia mengorbankan kejujuran hanya demi jabatan. Halal dikorbankan demi dunia duniawi. Nafsu mengalahkan hati, maka sesungguhnya Nanmrud itu ada di dalam manusia seperti itu.
Nabi Ibrahim kemudian diuji kembali harus berkorban ketika ingin memiliki keturunan untuk meneruskan perjuangan, disaat tak kunjung juga punya keturunan, namun ketika memiliki Ismail mendapat ujian yang luar biasa.
Bayangkan ketika anak dan ibu yang sedang menyusui harus ditinggalkan karena perintah Allah, tapi Nabi Ibrahim mampu menjalankan perintah Allah. Istrinya juga, Siti Hajar taat, rela bolah-balik Sofa dak marwa demi mencari air untuk anaknya yang kehausan di tengah terik panas matahari, sehingga Allah turunkan pertolongan dengan keluarnya air zam-zam.
Siti Hajar mengajarkan bahwa tawakal bukan diam, tetapi berikhtiar sambil memohon pertolongan pada Allah, bukan menyerah tapi melangkah dalam kesabaran.
Allah menguji kembali Nambi Ibrahim, disaat pertemuan baru terjadi dengan istri dan anaknya, di lembah yang tandus kemudian Nabi Ibrahim bermimpi bahwa anaknya Ismail harus disembelih.
Setelah ujian itu bisa dilalui Nabi Ibrahim, Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan kurban. Sejak saat itu disyariatkan menyembelih kurban.
Arti dari menyembelih kurban, kata Ustadz Fadhil Fauzan, yakni
1. Menyembelih kesombongan, karena
tidak akan masuk surga jika sekecil apapun dalam hati ada kesombongan.
2. Menyembelih kepakiran, karena kita tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna jika ada kekikran dalam hati.
3. Menyembelih ego. Artinya dengan kurban kita harus mampu menyembelih ego dengan cara mengikuti ajaran Allah
4. Menyembelih cinta dunia, kita hidup di dunia ini seolah sedang musyafri, ada yang lebih utama yang abadi yaitu kehidupan akhirat.
Di akhir khutbahnya Ustadz Fadhil menyampaikan harapannya, dengan menyembelih kurban menjadi wasilah ketakwaan kepad Allah, karena bukan dagingnya yang sampai kepad Allah, tapi ketakwaan.* Sopandi















