Dejurnal.com , Bandung – Tahun ini PDAM masuk ke Desa Margahayu Tengah (Marteng) Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung sekitar 50 sambungan rumah (SR) di RW 11. Padahal, semua rumah di desa tersebut sudah berlangganan air bersih menyambung dari sarana air bersih (SAB) yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Marga Bhakti Persada desa setempat.
Ketua BUMDes Marga Bhakti Persada, H. Aep Saepulloh menyebut, adanya sambungan PDAM bukan saingan bagi BUMDes, karena sama-sama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kami tidak menganggap PDAM sebagi saingan, justru kami mengedukasi. Silahkan. Kami pun tidak memutus sambungan air rumah warga yang memasang dari kami meski memasang juga dari PDAM, ” kata H. Aep di kantornya, Selasa 5 Mei 2026.
SAB Desa Marteng yang dikelola oleh Badan BUMDesn Marga Bhakti Persada saat ini dari 3500 sambungan rumah omset plutonya mencapai Rp 2 miliar pertahun.
H. Aep Saepulloh menyebut, SAB yang beroperasi sejak tahun 2014 ini sampai saat ini sudah memiliki 32 titik sumur untuk memenuhi kebutuhan air 19.476 jiwa penduduk Desa Margahayu Tengah yang tersebar di 16 RW.
Dari omset pluto tersebut kata H. Aep tahun ini masuk PADes Rp 430 juta, untuk perawatan dan perbaikan mesin 350 juta, bayar listrik Rp 280 juta.
“Jika melihat pluto besar tapi kalo dirinci bisa tekor,” seloroh H. Aep di Kantor BUMDes Marga Bhakti Persada Jalan Sadang Margahayu Tengah, Selasa 5 Mei 2026.
Dari pengelolaan air bersih tersebut selain memenuhi kebutuhan air bersih warga juga bisa memberi penghasilan bagi RW dan RT yang masing-masing tergantung jumlah sambunga langganan. Per RW antara 90-150 SR.
Selain itu, yang masuk ke PADes juga dikembalikan ke masyarakat, di antaranya untuk bia siswa dari keluarga yang kurang mampu, santunan anak yatim, untuk belasan masjid dan puluhan musola.
Sistem pembayaran SAB yang dikelola BUMDes Marga Bhakti Persada Desa Margahayu Tengah sudah memakai sistem aplikasi, sehingga menurut H. Aep transparan.* Sopandi














