Subang,dejural.com – Polemik yang berkembang terkait pembangunan kios nanas di Desa Tambakan, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, mendapat tanggapan dari pihak pelaksana kegiatan.
Aam Amsori selaku pelaksana kegiatan menegaskan bahwa anggaran pembangunan kios nanas tersebut bukan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat.
Menurutnya, pembangunan kios merupakan hasil dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Eiger, sementara pekerjaan penunjang berupa paving block dan saluran drainase berasal dari bantuan pribadi Gubernur Jawa Barat.
“Untuk pembangunan kios, anggarannya berasal dari CSR Eiger, bukan dari APBD Provinsi. Sedangkan untuk paving block dan drainase merupakan bantuan pribadi dari Gubernur Jawa Barat,” ujar Aam saat memberikan keterangan kepada awak media, Jumat 12 Juni 2026.
Ia menjelaskan, hingga saat ini sebanyak 15 unit kios telah rampung dikerjakan dan siap dimanfaatkan. Ke depan, kawasan tersebut akan memiliki total 70 unit kios yang diperuntukkan bagi para pelaku usaha dan pedagang nanas di wilayah Jalancagak.
“Saat ini yang sudah selesai sebanyak 15 kios. Nantinya akan dibangun total 70 kios. Sementara 55 kios lainnya saat ini sudah masuk proses lelang,” jelasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Desa Tambakan menyambut positif pembangunan kios nanas tersebut. Ade, yang merupakan Kepala Dusun Desa Tambakan, mengatakan keberadaan kios-kios tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya para petani dan pedagang nanas yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi warga.
Menurut Ade, pembangunan kios diharapkan mampu menata kawasan penjualan nanas agar lebih tertib, nyaman, dan menarik bagi para wisatawan maupun pengguna jalan yang melintas di kawasan Jalancagak.
“Kami dari pemerintah desa melihat manfaatnya cukup besar bagi masyarakat. Selain mempercantik kawasan, keberadaan kios ini juga dapat membantu meningkatkan aktivitas ekonomi warga dan memberikan tempat berjualan yang lebih layak bagi para pedagang nanas,” ungkap Ade mewakili Pemerintah Desa Tambakan.
Dengan adanya penjelasan dari pihak pelaksana maupun pemerintah desa, diharapkan polemik yang berkembang di tengah masyarakat dapat dilihat secara lebih utuh, sekaligus memberikan pemahaman mengenai sumber pendanaan dan tujuan pembangunan kios nanas yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon ekonomi lokal di Kabupaten Subang.***Asep
















