Dejurnal.com, CIAMIS – Pengajian rutin pekan keempat yang digelar Pengurus Daerah Badan Koordinasi Majelis Taklim (BKMM) Kabupaten Ciamis mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ciamis, Dr. H. Yayan Herdiana, M.Ag.
Yayan menilai kegiatan yang diikuti jamaah dari berbagai wilayah tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat literasi agama dan keagamaan masyarakat.
Ia melihat pengajian BKMM bukan sekadar ramai dari sisi jumlah peserta, tetapi juga memiliki materi yang cukup luas dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Dari segi kuantitas, banyak yang hadir. Dari segi kualitas, materi yang disampaikan juga luar biasa karena menyeluruh dan menyentuh berbagai aspek kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang agama,” ujar Yayan.
Ia mengaku sempat tidak menyangka antusiasme jamaah pada pengajian pekan keempat BKMM di Masjid Agung Ciamis begitu besar.
Setelah melihat langsung, informasi mengenai tingginya partisipasi jamaah yang sebelumnya diterimanya ternyata sesuai dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, kehadiran jamaah dari berbagai penjuru Ciamis menunjukkan pengajian BKMM telah memiliki daya tarik sekaligus konsistensi yang kuat sebagai ruang pembinaan keagamaan masyarakat.
Bagi Yayan, capaian tersebut merupakan sesuatu yang tidak mudah diwujudkan tanpa kerja bersama dan komitmen dari para pengurus serta jamaah.
Ibu Jadi Madrasah Pertama Keluarga
Dalam kesempatan tersebut, Yayan juga menyampaikan pentingnya mengubah pengetahuan agama menjadi praktik dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, literasi agama tidak berhenti pada kemampuan mengetahui dan memahami ajaran, tetapi harus berlanjut pada pengamalan.
Pesan itu secara khusus diarahkan kepada para jamaah perempuan yang mendominasi kegiatan pengajian. Yayan mengingatkan bahwa ibu memiliki posisi strategis dalam membentuk kehidupan keluarga karena menjadi madrasah pertama bagi anak.
“Bagaimana masyarakat supaya tahu, bukan hanya paham, tetapi mampu mengamalkan ajaran agama. Ibu-ibu ini mayoritas hadir, sehingga harus berperan sesuai fungsinya sebagai madrasah pertama di keluarga,” katanya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui pengajian dapat diteruskan di lingkungan keluarga. Dengan begitu, kegiatan majelis taklim tidak berhenti di tempat pengajian, melainkan memberi pengaruh nyata terhadap pola pendidikan, pembentukan karakter, serta kehidupan jasmani dan rohani anggota keluarga.
Yayan menilai peran tersebut semakin penting karena keluarga menjadi lingkungan pertama tempat anak mendapatkan pendidikan sebelum berinteraksi lebih luas dengan masyarakat. (Nay Sunarti)



















