Dejurnal.com, Bandung – Persatuan Guru Ngaji (PGN) Kabupaten Bandung tidak hanya berupaya memperjuangkan kesejahteraan para asatid dan asatidah melalui insentif maupun layanan kesehatan. Organisasi ini juga mulai menyiapkan sejumlah program pemberdayaan ekonomi agar para guru ngaji memiliki sumber penghasilan tambahan.
Ketua PGN Kabupaten Bandung, H. Uya Mulyana mengatakan, salah satu fokus utama kepengurusan adalah membangkitkan semangat para asatid dan asatidah agar tidak hanya menjalankan aktivitas mengajar, tetapi juga mampu mengembangkan usaha di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Upaya tersebut, menurut H. Uya sangat penting mengingat tidak sedikit guru ngaji yang selama ini masih mengandalkan insentif sebagai sumber penghasilan.
Untuk merealisasikan program tersebut, kata H.Uya berencana membentuk kelompok usaha di setiap desa. Melal koordinator desa (kordes), para guru ngaji akan didorong mengembangkan usaha bersama, salah satunya dengan mendirikan warung di masing-masing wilayah.
Dari sisi permodalan, sebut H. Uya, pihaknya berencana memanfaatkan program Dana Bergulir yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Bandung. Program tersebut menyediakan akses permodalan sebesar Rp2 juta bagi setiap penerima.
“Harapan kami, selain mengajar, guru ngaji juga bisa memiliki usaha sehingga secara ekonomi lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada insentif,” Kata H..Uya belum lama ini.
Tidak berhenti pada pengembangan warung, Persatuan Guru Ngaji juga memiliki gagasan membangun pusat kuliner atau food court yang dapat menjadi wadah bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Sebagai tahap awal, kawasan daerah pemilihan (dapil) 2 menjadi salah satu wilayah yang dibidik. Salah satu lokasi yang dipertimbangkan adalah lahan bekas puskesmas yang saat ini dimanfaatkan sebagai area parkir.
Namun, rencana pemanfaatan lahan tersebut masih sebatas gagasan dan belum dikoordinasikan dengan Bupati Bandung maupun dinas terkait.
Jika memungkinkan, keberadaan pusat kuliner itu diharapkan mampu menampung produk-produk usaha para guru ngaji. Setelah berjalan di dapil 2, program serupa direncanakan dikembangkan ke dapil lainnya.
Selain kuliner, sektor konveksi juga menjadi perhatian. Di wilayah Kota Waringin, misalnya, terdapat sejumlah guru ngaji yang menjalankan pekerjaan konveksi dari rumah masing-masing.
Selama ini, sebagian dari mereka bekerja sebagai maklun dengan menerima bahan atau pesanan dari pengusaha besar untuk kemudian dikerjakan di rumah.
PGN ingin mengembangkan potensi tersebut melalui penyediaan wadah usaha yang lebih terorganisasi. Produk yang bisa dikembangkan antara lain gamis, kerudung, kaus, dan berbagai kebutuhan pakaian lainnya.
Menurutnya, kendala utama yang dihadapi para pelaku usaha tersebut adalah keterbatasan modal dan belum adanya wadah pengembangan usaha yang memadai.
Di luar pemberdayaan ekonomi, Persatuan Guru Ngaji juga berkomitmen mengayomi berbagai keluhan anggotanya, terutama berkaitan dengan kesehatan dan kepesertaan BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan.
Ketika ada guru ngaji yang sakit, pengurus berupaya membantu agar mereka mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Selama ini, sejumlah rumah sakit pemerintah daerah maupun rumah sakit provinsi dinilai telah memberikan pelayanan yang baik kepada para guru ngaji.
Apresiasi Kebijakan Bupati
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang berdampak pada berkurangnya transfer ke daerah hingga hampir Rp1 triliun, Persatuan Guru Ngaji menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bandung.
Pasalnya, di tengah keterbatasan anggaran dan banyaknya kebutuhan organisasi perangkat daerah (OPD), insentif guru ngaji di Kabupaten Bandung tetap dipertahankan tanpa pengurangan.
“Kami sangat bersyukur dan bangga kepada Pak Bupati. Meskipun anggaran dari pusat berkurang, insentif guru ngaji sampai saat ini tidak dikurangi. Tetap dibayarkan penuh,” tuturnya.
Ia mengakui terdapat sejumlah kendala teknis terkait pembayaran BPJS Kesehatan. Namun, menurutnya, hal tersebut tidak sampai membuat guru ngaji kehilangan akses pelayanan kesehatan.
Bahkan, ketika kepesertaan BPJS Kesehatan sempat tidak aktif, pengurus berupaya membantu mengaktifkannya kembali ketika anggota membutuhkan pelayanan medis.
Bagi Persatuan Guru Ngaji, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan para asatid dan asatidah menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.
Ke depan, organisasi ini berharap guru ngaji tidak hanya kuat dalam menjalankan tugas pendidikan keagamaan, tetapi juga semakin berdaya secara ekonomi.
Sebab, kesejahteraan guru ngaji bukan hanya menyangkut besaran insentif, melainkan juga bagaimana mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh, mandiri, dan meningkatkan taraf hidup bersama keluarga.***Sopandi


















