CIAMIS, deJurnal,- Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Ciamis menegaskan komitmennya dalam memerangi perundungan di kalangan remaja.
Melalui kegiatan Gen Z Scout Learning bertema “True Scout, No Bullying”, puluhan anggota Pramuka Penegak dan Pandega diajak membangun karakter, etika digital, serta kepedulian sosial di era teknologi di Aula Dasa Darma Pramuka Ciamis, Sabtu (16/5/2026).
Sekitar 50 peserta dari berbagai gugus depan di Kabupaten Ciamis. Forum tersebut menjadi ruang diskusi generasi muda Pramuka dalam memahami bahaya bullying, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Ketua Gerakan Pramuka Kwarcab Ciamis, H. Nanang Permana MH, mengatakan perkembangan teknologi saat ini harus diimbangi dengan penguatan karakter dan moral generasi muda. Menurutnya, kemajuan digital tidak boleh menjadi alat untuk menyerang, mempermalukan, ataupun merusak mental orang lain.
“Anak-anak muda sekarang hidup di tengah arus teknologi yang sangat cepat. Karena itu mereka harus mampu menggunakan media sosial secara sehat, cerdas, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menilai, kasus perundungan di lingkungan remaja kini tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga marak melalui ruang digital.
Komentar merendahkan, penyebaran konten mempermalukan, hingga intimidasi di media sosial dinilai sama berbahayanya karena dapat memengaruhi kondisi psikologis korban.
Nanang menegaskan, pendidikan kepramukaan memiliki tanggung jawab membentuk generasi muda yang tidak hanya disiplin dan mandiri, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.
“Pramuka harus menjadi contoh. Bukan ikut-ikutan merundung, tetapi hadir menjadi pelindung dan penguat bagi teman-temannya,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pembelajaran dalam Pramuka lebih menitikberatkan pada kehidupan nyata, membangun komunikasi, solidaritas, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara langsung, bukan sekadar aktif di dunia maya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Bina Muda Gerakan Pramuka Kwarcab Ciamis, Dr. H. Wawan Arifien MM, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas generasi muda Pramuka agar lebih adaptif menghadapi tantangan zaman.
Menurutnya, Generasi Z membutuhkan pola pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai karakter dan kemanusiaan.
“Kami ingin anggota Pramuka memahami bahwa teknologi itu alat untuk berkembang, bukan alat untuk menjatuhkan orang lain,” ujarnya.
Selain membahas pencegahan bullying, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pengembangan diri, kepemimpinan, serta pentingnya membangun lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif.
Wawan berharap para anggota Pramuka mampu menjadi pelopor gerakan anti perundungan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Ketika bullying bisa dicegah dari lingkungan pertemanan, maka akan lahir generasi yang lebih sehat secara mental, lebih percaya diri, dan lebih peduli terhadap sesama,” pungkasnya. (Nah Sunarti)
















