Ciamis, deJurnal – Di balik logo resmi Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis yang kini mulai dikenal masyarakat, tersimpan kisah perjuangan seorang pemuda desa yang tidak pernah berhenti belajar di tengah keterbatasan.
Ia adalah Kasim, pelajar PKBM Daarusshowaab asal Desa Karyamukti, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, yang berhasil menjadi pemenang Sayembara Logo Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis melalui karya bertajuk “Guyub Ngawangun Galuh”.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi dunia pendidikan nonformal.
Pasalnya, Kasim merupakan pelajar kesetaraan yang selama ini belajar desain grafis secara otodidak tanpa latar belakang pendidikan khusus di bidang desain.
Lahir dan tumbuh di lingkungan sederhana, Kasim mengaku hidup mengajarkannya untuk bertahan, mandiri, dan terus berusaha memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Setelah menyelesaikan pendidikan formal tingkat SMP, ia memilih melanjutkan pendidikan melalui Program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Daarusshowaab sambil bekerja dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Ketertarikannya pada dunia desain berawal dari rasa penasaran terhadap karya-karya visual yang banyak ditemuinya di media sosial dan internet.
Berbekal telepon genggam dan akses belajar mandiri, ia mulai mengenal desain grafis secara otodidak.
“Awalnya hanya ingin belajar dan mencoba. Saya tidak pernah berpikir akan sampai sejauh ini. Semua saya pelajari sendiri melalui ponsel, melihat tutorial, mencoba, lalu memperbaiki kesalahan sedikit demi sedikit,” ujar Kasim.
Perjalanan itu kemudian membawanya mengikuti Sayembara Logo Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Ciamis.
Meski bersaing dengan banyak peserta dari berbagai latar belakang, Kasim tetap percaya diri mengirimkan karya terbaiknya.
Baginya, sayembara tersebut menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan sekaligus memberikan kontribusi bagi daerah yang dicintainya.
Proses pengerjaan logo dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Ia hanya memiliki sekitar lima hari untuk menyusun konsep, membuat desain, hingga menyempurnakan karya yang akan dikirimkan kepada panitia.
Tantangan semakin besar ketika dirinya dinyatakan lolos ke tiga besar terbaik dan harus mempresentasikan filosofi desain di hadapan tim juri.
Setelah presentasi, sejumlah masukan diberikan untuk penyempurnaan desain. Waktu yang terbatas membuat Kasim harus bekerja ekstra agar revisi dapat diselesaikan tepat waktu.
“Bahkan malam terakhir sebelum batas pengumpulan revisi, saya mengerjakannya sampai pagi hari. Saya ingin memberikan hasil terbaik karena ini menyangkut identitas Kabupaten Ciamis,” katanya.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Karyanya resmi ditetapkan sebagai logo Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis.
Logo bertema “Guyub Ngawangun Galuh” mengangkat semangat persatuan dan gotong royong masyarakat dalam membangun daerah.
Elemen pita yang saling terhubung melambangkan kebersamaan masyarakat Ciamis yang terus bergerak maju.
Sementara bentuk angka delapan yang menyerupai simbol tak terhingga menggambarkan kesinambungan pembangunan yang tidak pernah terputus dari generasi ke generasi.
Dalam desain tersebut juga terdapat siluet Gunung Sawal sebagai representasi identitas alam Kabupaten Ciamis serta simbol keteduhan dan kekuatan daerah.
Sedangkan bentuk angka empat yang dibuat dinamis mencerminkan optimisme masyarakat dalam menghadapi masa depan yang lebih maju, adaptif, dan berdaya saing.
Di bagian pusat logo, Kasim menempatkan simbol Cakra Galuh Kencana Rahayu sebagai representasi sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur Tatar Galuh yang hingga kini tetap menjadi jati diri masyarakat Ciamis.
Menurut Kasim, kemenangan yang diraihnya bukan sekadar penghargaan atas sebuah karya desain. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa anak desa dan pelajar pendidikan kesetaraan juga memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi.
“Saya ingin membuktikan bahwa anak desa dengan segala keterbatasannya bisa bersaing, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah. Semoga ini menjadi motivasi bagi teman-teman lain untuk terus belajar dan tidak takut mencoba,” ungkapnya.
Ia berharap pencapaian tersebut menjadi langkah awal menuju perjalanan yang lebih besar dalam dunia kreatif.
Baginya, kemenangan ini bukan garis akhir, melainkan awal untuk terus mengembangkan kemampuan dan membuka peluang yang lebih luas di masa depan.
Kisah Kasim menjadi bukti bahwa prestasi tidak selalu lahir dari fasilitas yang serba lengkap.
Dari sebuah desa di Karyamukti, melalui ketekunan belajar secara mandiri dan semangat pantang menyerah, seorang pelajar PKBM berhasil menghadirkan karya yang kini menjadi simbol Hari Jadi ke-384 Kabupaten Ciamis.
Sebuah cerita sederhana yang menunjukkan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari mana saja, selama ada kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba.(Nay Sunarti)















