Ciamis, deJurnal,- Ketua Perkumpulan Peternak Ayam Priangan (PPAP), Drs. H. Komar Hermawan, menegaskan bahwa keberlangsungan industri perunggasan di Kabupaten Ciamis tidak hanya bergantung pada peternak, tetapi juga pada sinergi yang sehat antara perusahaan poultry dan para broker.
Hal tersebut diungkapkan usia mengikuti Audiensi Gabungan Pedagang dan Peternak Ayam di Aula DPRD Ciamis. Kamis (02/07/2026)
Menurutnya, kedua pihak merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga stabilitas pemasaran ayam hidup dan keberlangsungan usaha peternak rakyat.
“Atas nama PPAP, kami berpandangan poultry dan broker itu tidak bisa dipisahkan. Yang menghasilkan ayam adalah poultry, sedangkan yang memasarkan hasil produksinya adalah broker. Keduanya harus saling menguatkan, bukan saling melemahkan,” ujar Komar.
Ia menjelaskan, selama lebih dari 45 tahun, kawasan Priangan Timur, termasuk Kabupaten Ciamis, telah menjadi salah satu sentra produksi ayam pejantan terbesar di Jawa Barat.
Eksistensi tersebut, kata dia, mampu bertahan karena adanya kerja sama yang baik antara peternak, perusahaan poultry, dan broker dalam membangun tata niaga yang sehat.
Namun kondisi tersebut kini mulai menghadapi tantangan. Jumlah peternak rakyat terus menyusut, begitu pula perusahaan poultry yang masih bertahan di Ciamis.
“Dulu jumlah poultry di Ciamis mencapai puluhan perusahaan. Sekarang tinggal sebagian kecil yang masih bertahan. Peternak rakyat juga terus berkurang. Kalau kondisi ini dibiarkan, lambat laun industri perunggasan yang telah kami bangun puluhan tahun bisa melemah,” katanya.
Komar menuturkan, PPAP selama ini telah membangun kesepakatan bersama dengan para broker dan pelaku usaha di wilayah Priangan Timur hingga Jawa Tengah terkait mekanisme penetapan harga ayam hidup.
Harga tersebut mengacu pada permintaan pasar, terutama Jakarta, kemudian disesuaikan dengan biaya operasional dan distribusi ke masing-masing daerah.
“Setiap hari kami berkoordinasi. Harga tidak ditentukan sepihak. Ketika harga di Jakarta berubah, informasi langsung disebarkan kepada seluruh anggota. Dari situ dihitung biaya angkut dan operasional sehingga harga di tingkat kandang tetap proporsional,” jelasnya.
Sebagai contoh, apabila harga ayam hidup di Jakarta mencapai Rp36 ribu per kilogram, maka harga di tingkat kandang akan disesuaikan setelah memperhitungkan biaya distribusi dari Priangan Timur ke pasar tujuan.
Menurut Komar, sistem tersebut selama ini mampu menjaga keseimbangan harga sekaligus memberikan kepastian usaha bagi peternak.
Sayangnya, masih ada sebagian kecil pelaku usaha yang memilih menjual ayam di luar kesepakatan bersama. Mereka mengambil margin keuntungan lebih kecil demi mengejar penjualan, sehingga memicu persaingan harga yang tidak sehat.
“Persoalannya bukan pada persaingan usaha, tetapi ketika ada yang menjual di bawah harga yang sudah menjadi kesepakatan bersama. Akibatnya harga menjadi rusak dan yang pertama merasakan dampaknya adalah peternak rakyat,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa dunia usaha tidak hanya berbicara soal keuntungan, tetapi juga tentang etika dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan seluruh mata rantai usaha.
“Dalam berdagang itu harus ada tata krama. Jangan hanya berpikir bagaimana hari ini mendapat untung lebih besar. Kalau peternaknya berguguran karena terus merugi, nanti siapa yang akan memproduksi ayam? Siapa yang akan menjadi mitra broker maupun perusahaan poultry?” ujarnya.
Komar menilai menjaga stabilitas harga merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelaku usaha. Karena itu, ia mengajak seluruh perusahaan poultry, broker, dan pedagang untuk tetap mematuhi mekanisme harga yang telah disepakati bersama demi melindungi peternak rakyat.
“Kami tidak sedang membela kepentingan broker atau poultry semata. Yang kami jaga adalah keberlangsungan ekosistem perunggasan di Ciamis. Kalau salah satu mata rantai putus, semuanya akan terdampak,” katanya.
Menurutnya, kekuatan industri perunggasan Kabupaten Ciamis selama puluhan tahun lahir dari kebersamaan. Semangat itu harus terus dijaga agar sektor perunggasan tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat dan mampu bertahan menghadapi dinamika pasar.
“Harapan kami sederhana, mari kita jaga kebersamaan. Poultry, broker, dan peternak harus berjalan seiring. Jangan ada yang merasa bisa berdiri sendiri, karena keberhasilan industri perunggasan hanya bisa dicapai jika seluruh pelaku usaha saling mendukung dan saling menjaga,” pungkasnya (Nay Sunarti)















