CIAMIS, deJurnal,- SMPN 1 Cimaragas menghadirkan terobosan pendidikan yang memadukan pelestarian budaya lokal dengan penguatan karakter peduli lingkungan.
Mulai Tahun Ajaran 2026/2027, sekolah tersebut mengintegrasikan alat musik tradisional kolotik, warisan budaya khas Kecamatan Cimaragas, ke dalam mata pelajaran Seni Budaya, sekaligus menjalankan program pengelolaan sampah BERKAH BERSINAR sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
Dua program tersebut menjadi langkah sekolah dalam menerapkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Kepala SMPN 1 Cimaragas, Yudi Nugraha, S.Pd., mengatakan pembelajaran budaya akan lebih bermakna apabila peserta didik diberi kesempatan mengenal sekaligus mempraktikkan kesenian yang lahir dari daerahnya sendiri.
Mulai tahun ajaran baru, lebih dari 500 siswa kelas VII, VIII, dan IX akan belajar memainkan kolotik sebagai bagian dari pembelajaran Seni Budaya. Saat ini sekolah masih melakukan sosialisasi kepada orang tua dan masyarakat agar pelaksanaan program mendapat dukungan bersama.
“Melalui pembelajaran Seni Budaya, kami ingin siswa tidak hanya mengenal kolotik secara teori, tetapi mampu memainkannya sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ujar Yudi, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah derasnya perkembangan zaman. Karena itu, kolotik dipilih sebagai media pembelajaran agar identitas budaya Cimaragas tetap hidup melalui generasi muda.
Program tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan alat musik kolotik untuk kegiatan belajar akan melibatkan para pengrajin lokal sehingga dapat meningkatkan produksi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha mereka.
Untuk memudahkan siswa, sekolah menyediakan dua pilihan memperoleh kolotik, yakni melalui koperasi sekolah maupun membeli langsung kepada para pengrajin. Dengan harga sekitar Rp25 ribu per unit, alat musik tradisional tersebut dinilai cukup terjangkau bagi peserta didik.
Ke depan, kolotik tidak hanya digunakan dalam pembelajaran di kelas, tetapi juga akan dikembangkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler sehingga siswa memiliki ruang untuk menampilkan kemampuannya dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
“Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang mengenal, memainkan, dan mencintainya. Kami berharap kolotik terus menjadi kebanggaan masyarakat Cimaragas sekaligus memberi manfaat bagi para pengrajin lokal,” katanya.
BERKAH BERSINAR Bangun Kebiasaan Mengelola Sampah Sejak di Sekolah
Selain menguatkan pelestarian budaya, SMPN 1 Cimaragas juga memperkenalkan inovasi pengelolaan sampah melalui program BERKAH BERSINAR (Bersama Kelola Sampah, SMPN 1 Cimaragas Bersih, Indah, Nyaman, Ramah Lingkungan).
Program tersebut mengajarkan siswa membiasakan memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari lingkungan sekolah.
Peserta didik dikenalkan pada jenis-jenis sampah seperti plastik bekas kemasan minuman, kertas, serta limbah organik yang dapat dimanfaatkan kembali.
Yudi menjelaskan, pendidikan lingkungan harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar teori di ruang kelas.
“Melalui program ini kami ingin siswa memahami bahwa sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga memiliki nilai manfaat apabila dikelola dengan baik. Sampah yang sudah dipilah nantinya akan disalurkan melalui kerja sama dengan Bank Sampah Kabupaten Ciamis,” jelasnya.
Program BERKAH BERSINAR selaras dengan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang menjadi gerakan nasional dalam membangun budaya hidup bersih dan gotong royong.
Program tersebut juga mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Ciamis yang terus mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui gerakan kebersihan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Menurut Yudi, pembiasaan tersebut sekaligus menjadi implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual dan penguatan karakter peserta didik.
Sampah organik yang dihasilkan di lingkungan sekolah akan dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan serta perawatan tanaman, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai konsep ekonomi sirkular dan pelestarian lingkungan.
Melalui penggabungan pendidikan budaya dan kepedulian lingkungan, SMPN 1 Cimaragas berharap mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, mencintai warisan budaya daerah, serta bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan. (Nay Sunarti)
















