Dejurnal.com, Bandung – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Bandung jenjang Sekolah Dasar (SD) pada 23 September 2026, berlangsung lancar. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SDN Cibagalo 1, 2 dan 3 Bojongsoang dengan melibatkan peserta didik dari berbagai sekolah.
Kepala Seksi Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Edi Rismawan, M.Pd., mengatakan, keberhasilan peserta dalam mengikuti FTBI tidak terlepas dari proses pembinaan yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan.
Menurut Edi, bimbingan dan latihan yang dilakukan para peserta bersama pembimbing atau pelatih di sekolah masing-masing bukan semata-mata untuk mengejar prestasi dalam perlombaan. Lebih dari itu, pembinaan menjadi bagian penting dalam menggali potensi anak.
“Yang pertama, dengan adanya bimbingan dan latihan tersebut untuk penelusuran minat dan bakat anak itu sendiri,” ujar Edi di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, melalui proses pembinaan, potensi peserta didik dapat diketahui dan diarahkan sesuai dengan bakat serta minat masing-masing. Di antaranya dalam bidang biantara, mendongeng, bercerita dan berbagai cabang yang dilombakan dalam FTBI.
Selain menggali potensi, Edi menilai proses pembinaan juga memiliki manfaat besar dalam membentuk karakter peserta didik.
“Bagaimana anak tersebut dengan dibina, dilatih dan dibimbing, karakternya bisa tumbuh dengan baik. Misalnya kedisiplinannya, kerja kerasnya, pantang menyerahnya, sehingga mentalnya bisa kuat,” katanya.
Edi menambahkan, pembinaan sejak awal juga diarahkan untuk membangun jiwa sportivitas para peserta. Menurutnya, anak-anak harus memahami bahwa mengikuti sebuah kompetisi bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi juga belajar menerima hasil dengan lapang dada.
“Kalau mereka memiliki jiwa sportif, insyaallah apa pun hasilnya nanti, masuk juara satu, dua, tiga, harapan ataupun tidak, mereka akan legowo menerima,” ungkapnya.
Sikap tersebut, lanjut Edi, menjadi bekal penting bagi peserta didik dalam menjalani proses tumbuh kembang mereka. Anak-anak diharapkan mampu menerima keadaan dirinya, sekaligus terus mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Dan itu sudah bagus, mereka bisa menerima keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Itu modal bagi mereka untuk bisa menjadi anak-anak yang tumbuh sesuai dengan perkembangannya masing-masing,” pungkas Edi.***Sopandi



















