Dejurnal.com, CIAMIS. Inovasi Batik Cakra Galuh yang dikembangkan Mia Sumiari Dewi, guru SMAN 1 Panawangan, mendapat apresiasi dari kalangan akademisi dan budayawan.
Tidak hanya menilai karya tersebut sebagai upaya pelestarian budaya Galuh, akademisi sekaligus budayawan Ciamis, Dr. H. Yat Rospia Brata, Drs., M.Si., yang akrab disapa Kang Yat juga mendorong Mia memperluas kiprahnya agar batik berbasis kekayaan budaya daerah dapat dikenal hingga tingkat nasional.
Apresiasi itu disampaikan Kang Yat saat menghadiri visitasi lapangan tahap III ASN Berprestasi Jawa Barat 2026 di SMAN 1 Panawangan, Kamis (29/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia memberikan sertifikat penghargaan kepada Mia sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan konsistensinya mengembangkan Batik Cakra Galuh.
Kang Yat mengaku telah mengikuti perjalanan Mia sejak gagasan awal pengembangan motif Cakra Galuh untuk dijadikan batik.
Ia melihat Mia sebagai sosok yang memiliki kemampuan menangkap ide dengan cepat, terbuka terhadap masukan, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi karya kreatif.
Menurut Kang Yat, proses pengembangan sebuah karya budaya tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan membuat motif.
Dibutuhkan pemahaman terhadap nilai sejarah, filosofi, dan identitas yang terkandung di dalamnya agar karya tersebut memiliki karakter yang kuat.
Ia menilai Mia memiliki semangat untuk terus belajar dan mengembangkan gagasannya. Karena itu, perjalanan Batik Cakra Galuh dinilai tidak seharusnya berhenti hanya dikenal di Kabupaten Ciamis.
“Sejak awal pengembangan motif Cakra Galuh menjadi batik, saya mengikuti dan memberikan masukan. Mia termasuk orang yang cepat menangkap ide, cerdas, dan mampu mengembangkan gagasan kreatifnya. Saya berharap kiprahnya tidak hanya di Ciamis, tetapi bisa meluas ke tingkat provinsi hingga nasional,” ungkapnya
Dari Cakra Galuh Menuju Pengembangan Batik Nusantara
Bagi Kang Yat, karya batik yang berangkat dari kekayaan budaya daerah memiliki kesempatan untuk diperkenalkan ke berbagai wilayah.
Perjalanan tersebut dapat dimulai dari lingkungan kabupaten dan kota, berkembang ke tingkat provinsi, kemudian menjangkau daerah lain di Indonesia hingga mancanegara.
Dorongan itu tidak hanya berupa apresiasi. Kang Yat juga mengajak Mia melebarkan sayap kreativitasnya ke Kota Banjar melalui pengembangan Batik Cangkoreh.
Motif tersebut memiliki filosofi tersendiri yang dapat digali dan diterjemahkan menjadi karya batik dengan karakter budaya lokal.
Menurutnya, pengembangan Batik Cangkoreh menjadi kesempatan bagi Mia untuk memperluas pengalaman sekaligus membuktikan bahwa kreativitas dalam mengolah kekayaan budaya tidak terbatas pada satu daerah atau satu motif.
Ajakan tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas daerah. Setelah mengembangkan Batik Cakra Galuh yang mengangkat identitas Galuh, Mia didorong untuk mengeksplorasi kekayaan budaya lain sebagai sumber inspirasi karya berikutnya.
Batik Bukan Sekadar Motif, tetapi Identitas Budaya
Kang Yat memandang batik memiliki kedudukan lebih dari sekadar produk sandang atau kerajinan. Di dalam motif batik terdapat cerita, nilai, dan identitas masyarakat yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pengembangan Batik Cakra Galuh menjadi langkah penting dalam memperkenalkan sejarah dan budaya Galuh melalui media yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Karya tersebut juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kreativitas dan inovasi.
Seorang pendidik seperti Mia bahkan memiliki ruang untuk mengenalkan nilai sejarah dan filosofi budaya kepada para siswa melalui karya yang dikembangkannya.
Kang Yat berharap Mia terus menjaga semangat tersebut, memperkaya gagasan, dan tidak berhenti pada capaian yang telah diraih saat ini.
Baginya, keberhasilan sebuah inovasi budaya bukan hanya diukur dari penghargaan yang diterima, melainkan juga dari sejauh mana karya itu dapat dikenal, dikembangkan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Melalui Batik Cakra Galuh dan pengembangan Batik Cangkoreh, Kang Yat melihat peluang bagi Mia untuk memperluas kontribusi di bidang kebudayaan.
Dari Ciamis, karya yang berangkat dari identitas lokal itu diharapkan dapat melangkah ke berbagai daerah di Nusantara, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas. (Nay Sunarti)




















