Dejurnal.com, Garut – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut menjadi sorotan setelah 132 siswa SMK Al-Ilyas Malangbong mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cikarag 1, Kamis (5/11/2026).
Dari total 416 siswa yang menyantap makanan tersebut, 132 siswa mengeluhkan mual, pusing, hingga sakit perut. Sebanyak 15 siswa di antaranya harus mendapatkan penanganan medis, terdiri dari 11 siswa di Puskesmas Malangbong dan empat lainnya di Puskesmas Citeras.
Kepala SMK Al-Ilyas Malangbong, Raden Deden, membenarkan kejadian tersebut. Salah seorang siswi kelas XII, Indri, mengaku mengalami pusing dan mual setelah mengonsumsi menu MBG berupa ayam dan buah melon hingga harus mendapatkan perawatan medis.
Kepala Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Asep Surahman, mengatakan pihaknya telah mendata 132 siswa yang mengalami keluhan kesehatan. Saat ini, pemantauan masih dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien.
“Kami mencatat ada 132 orang yang terdampak. Sebanyak 11 orang dirawat di Puskesmas Malangbong dan empat orang di Puskesmas Citeras. Sekarang masih dilakukan pemantauan karena dikhawatirkan ada penambahan lagi,” ujar Asep saat mengunjungi Puskesmas Malangbong.
Kejadian ini menjadi perhatian serius karena seluruh makanan berasal dari satu penyedia, yakni dapur SPPG Cikarag 1. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan, mulai dari kualitas bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan hingga pendistribusian makanan.
Pengujian sampel makanan di laboratorium juga penting untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Hingga kini, penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan laboratorium.
Program MBG yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi pelajar harus mengutamakan kualitas dan keamanan pangan. Karena itu, Dinas Kesehatan, pengelola SPPG, serta instansi terkait perlu melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
Keselamatan siswa tidak boleh dikompromikan. Masyarakat kini menunggu kejelasan hasil pemeriksaan serta langkah pertanggungjawaban atas insiden yang menyebabkan 132 siswa mengalami gangguan kesehatan dan 15 di antaranya harus mendapatkan perawatan medis.***Deri Acong


















