• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Sabtu, Februari 21, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Kalam

Balik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila

bydejurnalcom
Sabtu, 9 Desember 2023
Reading Time: 4 mins read
Balik ke Kabuyutan, Kembali Kepada Pancasila
ShareTweetSend

Oleh : Ki Maher *)

Festival Kabuyutan Garut yang digelar Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut (DKKG) kerja bareng Makara Art Center Univeraitas Indonesia dan Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, telah sukses diselenggarakan pada tanggal 1 – 3 Desember 2023 lalu.

Hal yang menarik dalam Festival Kabuyutan tersebut, kunjungan anjangsana budaya BPIP RI ke Kabuyutan Ciburuy yang berada di Desa Pamalayan Kecamatan Bayongbong dan saresehan budaya yang menggali Kabuyutan dalam Pembudayaan Pancasila.

BacaJuga :

Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan

7 Pejabat Eselon II Dirotasi Ini Pesan Bupati Bandung

Rotasi dan Promosi 154 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bandung Momentum Satu Tahun Pemerintahan Dadang Supritana- Ali Syakieb

Penulis secara pribadi dan bisa jadi publik yang mengikuti gelaran Festival Kabuyutan secara seksama akan terpengarah ketika diberikan wawasan bahwa Pancasila dibuat berdasarkan penggalian nilai budaya bangsa Indonesia yang sangat banyak jumlahnya, termasuk Kabuyutan.

Kabuyutan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dalam kondisionalnya yang banyak hampir kurang terpelihara secara baik, Kabuyutan memiliki histori tak ternilai dalam sejarah bangsa Indonesia.

Penulis sendiri mencoba menggali arti hakiki dari Kabuyutan yang ternyata tidak bisa dilepaskan dari terbentuknya Pancasila yang kini menjadi dasar negara kita.

HANA NGUNI HANA MANGKÉ, Buyut adalah masa lalu yang sekarang. Sebuah fitrah awal bersinambung akhir, yang lampau hingga kini, nu mula baheula tug wekasan ayeuna. Sebuah tatanan sebagai ketetapan dan kesenantiasaan dalam kejernihan dan kebersihan Ada-nya. Kepadanya kita terpaut kuat tak lekang masa. Usaha memutusnya bukan hanya sia-sia, juga malapetaka. Jangankan memutus, mencemarinya saja beresiko siksa melanda. Tak ada pilihan, selain menetapkannya sebagai Kesakralan yang tabu, Pamali.

Buyut adalah Kedirian kita, cetak biru yang mandarah-mendaging, lalu menjadi Pribadi yang sejati. Maka menghadapkan wajah padanya sebuah kemestian bagi setiap diri, Faaqim wajhaka liddiini hanifah.

HANA TUNGGAK HANA WATANG, Buyut adalah Silsilah dan Sejarah. Yang Buyut menyejarah dalam lampah, yang Pribadi bertajali dalam alur waktu dan hamparan ruang. Ibarat Pohon (Syajaroh) ada pangkal dan cabang. Sebuah benih Pohon yang baik (Syajarotun Thoyyibatun) akan ditanam di Tanah, disirami Air. Pasti akarnya akan kuat menghujam ke bumi, batangnya tinggi menjulang ke langit, cabangnya rindang daun menaungi, lalu buahnya melimpah keberkahan untuk dinikmati bersama lagi merata.

Syajaroh ini menjadi Sejarah kita, Maka jangan sesekali mencemari Pohon suci ini, kecuali kita telah menista diri sendiri, Walaa taqrobaa haadzihi Syajaroh, fatakuunaa minadzoolimiin.

HANA GUNA HANA RING DEMAKAN, Buyut adalah Kebudayaan. Sebentuk daya budhi yang melahirkan rasa dan fikir, yang halus nan jernih. Semodel Budaya luhung pun tergelar. Para Uyut, Leluhur, telah berderma bakti merawat, menjaga, mengembangkan yang Buyut ini, hingga mapan jadi ide-ide, sikap, perilaku, pranata, organisasi, sosok juga artefak dalam membentuk kehidupan bersama yang bahagia dan sejahtera.

Di sini yang Buyut telah bertansformasi menjadi Kabuyutan. Semisal Pohon Kebudayaan yang berakar, bersilislah dan berbuah berkah. Maka sejarah tidak lain dari laku derma merawat bertumbuh kembangnya Pohon Kebudayaan ini. Sebuah derma utama yang akan mendatangkan anugerah utama pula. Memutusnya sebuah dosa yang akan mengundang karma perlaya.

Kabuyutan semisal warisan Kenabian, yang kepadanya setiap generasi musti tersambung untuk mewariskannya kembali ke generasi berikutnya, Yaa ayyuhaldziina Aamanuu, sholluu alaihi wa sallimuu tasliima.

CARÉK NA PATIKRAMA, Kabuyutan merupa Kebangsaan. Sebuah Tanah Air sebagai rumah bersama dengan kepemimpinan para Bapak Bangsanya ; Rama, Resi, Prabu. Ajaran para Bapak Bangsa menjadi aturan hidup yang ditaati.

Ajaran dan aturan itu syarat pengetahuan, etika dan moralitas. Ajaran itu dalam bahasa kemodernannya dirumuskan menjadi Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan (kebersamaan), Kerakyatan dengan Kepemimpinan Hikmah-Kebijaksanaan dan Permusyawaratan, serta Keadilan kesejahteraan bagi kesuluruhan.

Kabuyutan menjadi way of life, ciri dan cara Kebangsaan dimana ajaran dan aturan living dalam keseharian para penduduknya. Inilah taman kehidupan yang Sakinah. Terjaminnya sandang, pangan, papan dan rasa aman. Firdaus yang dijanjikan kepada mereka yang taat ajaran, Uskun Anta wa Zaujukal Jannah.

MADAN NA RAJAPUTRA, Kabuyutan adalah Martabat. Kabuyutan soal kemuliaan atau kehinaan bagi Kebangsaan. Maka soal pertahanan tiada henti dari invansi musuh menjadi krusial di sini. Jatuhnya Kabuyutan ke tangan musuh menjadi pertanda terkikisnya martabat Kebangsaan. Kejatuhan itu nama lain dari kolonialisme. Akibat kolonisasi dengan segala ismenya yang merebak pastilah kehinaan yang akan mendera. Pada saat itu Kebangsaan bak diperlakukan seperti “Kulit Lasun di Jarian, Kulit Musang di tempat sampah”.

Maka etika Rajaputra dari para Pemuka Bangsa dipertaruhkan di sini. Apakah tetap menjaga “Haadzihi Syajaroh” atau memakan dan menyelinginya di taman dengan “Syajarotun Khuldi” dari ilusi syaitoniyah yang dibisikan?, Hal adulluka ala Syajarotil Khuldi wal Mulki laa yablaa.

Bagi para Pemuka Bangsa, apakah Etika Politik “Yushlihu”yang merawat dan menjaga Kebangsaan, ataukah Etos Egoisme yang “Yufsidu fil Ardi”, merusak dan mengeksploitasi? tentu kita dapat mengkonfirmasinya dengan tanda-tanda zaman hari ini.

Jika itu terjadi, maka pilihan yang paling mungkin eling lan waspada. Mengingat kembali Kabuyutan dan kembali kepadanya, “Fastaghfaru tsumma Tubu”. Mengakui kesalahan adalah sikap kewaspadaan, Robbanaa dzolamnaa Anfusanaa, wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa, lanakuunanna minal khoosiriin.

ALA LWIR NA PATANJALA ; Balik ka Kabuyutan. Tampaknya kerusakan di darat dan laut akibat ulah kekuasaan adalah ciri Zaman Lara. Dan lenyapnya etika publik pada institusi sosial besar (Negara) ciri Zaman Pati, sebuah situasi Lara maju ka Pati.

Hanya yang menyaksikan kelaraan dan kepatian yang bisa berharap kesembuhan dan kehidupan yang baru. Hanya yang menyaksikan (Faman Syahida) zaman panas membakar (Romadhon) mereka yang mampu menahan, puasa (Shoum), dan bangun dari tidur kesadaran (Qiyamul Lail) untuk mengingat kembali pengetahuan otentik nan suci (Nuzulul Qur’an). Lalu tema kebangkitan Zaman Anyar (Hatta mathla’il Fajr) jadi bergema di sini.

Mengingat kembali akan kejernihan “Air” yang mengalir dari asal usulnya di “Gunung”, mengikuti alirannya sampai ke “Muara” (Lajuning Patanjala), adalah kembali kepada Tanah Air sebagai Kabuyutan awal dan fundamental, Kabuyutan Tembéy. Maka Patanjala sebagai sikap Budaya; yakni keinsyafan dan balik (Taubat), serta Metodologi estu untuk kembali kepada Kabuyutan di Zaman Lara dan Pati saat ini.

Inilah arti kembali kepada Pancasila sebagai Kebudayaan Kebangsaan, untuk mengingatkan kembali yang lama dilupakan, yaitu Pancasila sebagai dasar Politik-Ekonomi Kenegaraan, Nation-State. Sebagaimana Amanat para Uyut pendiri Republik ; Atas nama Bangsa Indonesia dan untuk melindungi segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Balik ka Kabuyutan, Kembali kepada Kebudayaan-Kebangsaan dan Pancasila adalah Amanat yang musti dijalankan. Sebuah Amanat Galunggung, Galuh Hyang Agung.

*) Penulis pelaku budaya di Kabupaten Garut.

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Peringati HDI 2023 Kemensos Gelar Operasi Katarak Gratis Bagi Warga Kota Bandung dan KBB

Next Post

Sambut Pernyataan Tim 9 Terkait Tanah 20 Hektar, Kades Taman Sari Bakal Segera Ambil Langkah Ini

Related Posts

PT.Dahana Siap Produksi Bom BNT-250 Untuk TNI AU Siap Mengudara
Nasional

PT.Dahana Siap Produksi Bom BNT-250 Untuk TNI AU Siap Mengudara

Sabtu, 21 Februari 2026
Komplotan Curanmor dan Penadah Berhasil Diamankan Polsek Karangpawitan
deNews

Komplotan Curanmor dan Penadah Berhasil Diamankan Polsek Karangpawitan

Sabtu, 21 Februari 2026
Puluhan Ribu Keluarga Potensi Rentan Rawan Pangan Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari CPPD Kabupaten  Bandung
deNews

Puluhan Ribu Keluarga Potensi Rentan Rawan Pangan Dapat Bantuan Beras dan Minyak dari CPPD Kabupaten Bandung

Sabtu, 21 Februari 2026
Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan
deNews

Korban Hanyut di Sungai Cimanuk Yang Berasal dari Muarasanding Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan

Sabtu, 21 Februari 2026
Rotasi dan Promosi 154 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bandung Momentum Satu Tahun Pemerintahan Dadang Supritana- Ali Syakieb
deNews

7 Pejabat Eselon II Dirotasi Ini Pesan Bupati Bandung

Jumat, 20 Februari 2026
Rotasi dan Promosi 154 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bandung Momentum Satu Tahun Pemerintahan Dadang Supritana- Ali Syakieb
deNews

Rotasi dan Promosi 154 Pejabat di Lingkungan Pemkab Bandung Momentum Satu Tahun Pemerintahan Dadang Supritana- Ali Syakieb

Jumat, 20 Februari 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Siapa Pengelola dan Penerima Manfaat CSR Peternakan Ayam Manggis Senilai 4 Miliar?

Rabu, 6 November 2019

Terkait CSR Peternakan Ayam Manggis, Tak Seorang Pun Mengaku Terima Signifikan

Sabtu, 9 November 2019

KabarDaerah

Job Fair Spirit Bedas Disnaker Kabupaten Bandung di Cilengkrang Siapkan 300 Loker

Rabu, 25 Juni 2025

Momen Reses Bagi Asep Mulyana : Ajang Silaturahmi Serta Mendekatkan Konstituen Secara Emosional

Senin, 13 Oktober 2025

Pemkab Garut Terima Hibah 3 Unit Mobil Damkar dan 4 Ambulan Dari Pemerintah Jepang

Minggu, 26 Februari 2023

Milangkala Kabupaten Bandung Ke- 384 Pemcam Majalaya Gelar Seni Budaya, Unjuk Kabisa

Kamis, 8 Mei 2025

Warga Desa Gunungsari Digegerkan Penemuan Mayat di Irigasi Belakang RM. Gala

Minggu, 29 Juni 2025

PAW Anggota DPRD Purwakarta Dari Partai Golkar Dilantik

Rabu, 29 Desember 2021

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste