CIAMIS, deJurnal,- Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin Universitas Galuh (Unigal) menghadirkan inovasi sederhana untuk membantu pekerjaan petani. Melalui tugas akhir, mereka membuat mini cultivator atau mesin penggembur tanah yang kini mulai dimanfaatkan Kelompok Tani Manunggal di Lingkungan Karang, Kelurahan Ciamis.
Penerapan alat tersebut dilakukan bersama Kelompok Tani Manunggal RT 05 RW 29, Minggu (9/8/2026).
Kehadiran mesin ini diharapkan dapat mengurangi pekerjaan manual menggunakan cangkul yang selama ini membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar.
Mini cultivator tersebut merupakan karya mahasiswa Rama Adivia dan Rizal Fauzan dengan dosen pendamping Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.T., Ir. Ade Herdiana, S.T., M.T., dan Ir. Heris Syamsuri, S.T., M.T.
Dosen teknik mesin, Ir. Slamet Riyadi, mengatakan pembuatan alat berawal dari kebutuhan kelompok tani terhadap teknologi yang dapat membantu proses pengolahan tanah.
“Ini merupakan bagian dari penelitian tugas akhir mahasiswa untuk membuat teknologi tepat guna yang nantinya bisa membantu kelompok tani dalam kegiatan pertanian, khususnya menggemburkan tanah,” ujar Slamet.
Menurutnya, penggunaan mesin dapat membuat proses pengolahan tanah lebih cepat sekaligus mengurangi beban tenaga petani. Dibandingkan cara manual menggunakan cangkul, efisiensi pekerjaan diperkirakan bisa lebih dari 80 persen.
“Yang paling penting alat ini bisa meringankan tenaga manusia. Harapannya mudah digunakan dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” katanya.
Memiliki Lebar Kerja 40 Sentimeter
Mini cultivator yang dibuat mahasiswa tersebut menggunakan mesin 2 tak berkapasitas 52 cc dengan tenaga 3 HP.
Alat memiliki lebar kerja 40 sentimeter dan menggunakan pisau tipe rotary claw/J blade dengan panjang sekitar 11 sentimeter. Sementara tinggi handel mencapai 1 meter.
Untuk sumber tenaga, mesin masih menggunakan bensin 2 tak. Pengujian di lapangan masih dilakukan untuk melihat kemampuan alat, termasuk efektivitas kerja dan penggunaan bahan bakarnya.
Slamet menyebut alat tersebut masih dalam tahap penerapan dan evaluasi. Hasil penggunaan di lapangan akan menjadi bahan untuk melakukan perbaikan sehingga mesin bisa bekerja lebih efektif.
Ke depan, kapasitas dan tenaga mesin juga masih memungkinkan untuk dikembangkan. Jika hasil penyempurnaan menunjukkan potensi yang baik, karya mahasiswa tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi maupun diarahkan untuk perlindungan hak kekayaan intelektual.
Dibuat dari Desain hingga Finishing
Rama Adivia dan Rizal Fauzan menjelaskan, proses pembuatan alat diawali dengan perhitungan dan desain. Desain disesuaikan dengan kebutuhan kerja di lapangan serta kondisi tanah yang akan diolah.
Setelah desain ditentukan, mahasiswa memilih material yang dinilai kuat dan sesuai. Tahapan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan rangka, pisau hingga proses finishing.
“Pertama dilakukan perhitungan dan desain, kemudian pemilihan material yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Setelah itu baru proses pembuatan rangka, pisau dan finishing,” jelasnya.
Pengerjaan alat membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Waktu tersebut termasuk proses pemilihan material dan pembuatan sejumlah komponen.
Dosen Apresiasi Karya Mahasiswa
Dosen pendamping, Ir. Heris Syamsuri, mengapresiasi hasil tugas akhir tersebut. Menurutnya, karya mahasiswa tidak hanya memenuhi unsur akademik, tetapi juga memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Tugas akhir tersebut telah dikerjakan selama hampir enam bulan. Setelah melalui penelitian, pembuatan alat dan proses revisi, mahasiswa ditargetkan dapat menyelesaikan tugas akhirnya dan mengikuti sidang dalam waktu sekitar satu bulan ke depan.
“Yang kami apresiasi, hasil tugas akhir ini tidak hanya memenuhi unsur akademik dan penelitian, tetapi juga menghasilkan teknologi tepat guna yang bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan rekayasa sekaligus memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
Kelompok Tani Sambut Baik
Ketua Kelompok Tani Manunggal RT 05 RW 29 Lingkungan Karang, Yudi Lex’don, menyambut baik penerapan mini cultivator tersebut.
Menurut Yudi, alat itu dapat menjadi alternatif untuk mengurangi pekerjaan berat dalam proses pengolahan tanah. Selama ini, petani masih banyak menggunakan cara manual dengan cangkul.
Ia berharap alat hasil karya mahasiswa Unigal tersebut tidak berhenti pada tahap uji coba, tetapi terus dikembangkan berdasarkan kebutuhan petani.
“Alat ini sangat membantu karena selama ini pengolahan tanah masih banyak dilakukan secara manual. Mudah-mudahan terus disempurnakan agar semakin sesuai dengan kebutuhan petani,” kata Yudi.
Penerapan mini cultivator ini sekaligus menjadi contoh bagaimana tugas akhir mahasiswa dapat memberikan manfaat langsung. Penelitian yang dikerjakan di lingkungan kampus bisa diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Bagi petani, kehadiran alat tersebut diharapkan membuat proses pengolahan tanah lebih ringan dan efisien. Sementara bagi mahasiswa, penerapan ini menjadi pengalaman penting untuk menguji hasil perancangan mereka dalam kondisi nyata. (Nay Sunarti)

















