Dejurnal.com, Garut — Usia seharusnya menjadi masa ketika seseorang menikmati ketenangan setelah puluhan tahun menjalani kehidupan. Namun bagi Abah Anur, seorang lansia berusia 89 tahun, masa senja justru masih diwarnai dengan kebutuhan hidup yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.
Kisah Abah Anur kembali menjadi perhatian setelah Yudha Puja Turnawan datang melihat langsung kondisinya sekaligus memberikan bantuan berupa sembako dan santunan. Pertemuan tersebut bukan sekadar penyerahan bantuan, tetapi juga membuka kenyataan bahwa masih ada warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian lebih serius dan berkelanjutan.
Di usia yang hampir mencapai sembilan dekade, Abah Anur masih membutuhkan berbagai dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bantuan pangan memang dapat meringankan kebutuhan sehari-hari, namun persoalan yang dihadapinya jauh lebih luas.
Yudha berharap kondisi Abah Anur dapat menjadi perhatian pemerintah sehingga bantuan sosial yang diterimanya tidak hanya datang sesekali, tetapi dapat diberikan secara reguler sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, keberadaan negara harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang berada dalam kondisi rentan, termasuk para lansia yang membutuhkan perlindungan sosial.
“Harapan saya, beliau secara reguler menerima bantuan dari negara. Semoga mendapat perhatian segera dan di usia senjanya, Abah Anur bisa mendapatkan perhatian dari negara,” kata Yudha.
Bukan Sekadar Sembako
Bantuan sembako dan santunan yang diberikan kepada Abah Anur tentu memiliki arti penting. Namun, kebutuhan seorang lansia berusia 89 tahun tidak berhenti pada persoalan pangan.
Yudha juga menyoroti kebutuhan Abah Anur terhadap rumah yang layak huni. Tempat tinggal yang aman dan nyaman menjadi kebutuhan mendasar, terlebih bagi seseorang yang telah memasuki usia lanjut.
Rumah bukan sekadar bangunan untuk berlindung dari panas dan hujan. Bagi seorang lansia, rumah yang layak juga berkaitan dengan keamanan, kenyamanan, kesehatan, serta martabat dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persoalan tempat tinggal Abah Anur diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.
Selain tempat tinggal, kebutuhan alat bantu dengar juga menjadi perhatian. Kondisi pendengaran yang tidak lagi optimal pada usia lanjut dapat membuat komunikasi menjadi lebih sulit dan berpotensi membatasi interaksi seorang lansia dengan orang-orang di sekitarnya.
Pemenuhan alat bantu dengar diharapkan dapat membantu Abah Anur berkomunikasi dengan lebih baik sekaligus meningkatkan kualitas kehidupannya.
Jangan Biarkan Lansia Berjuang Sendirian
Kisah Abah Anur membawa pesan sederhana tetapi penting: bahwa usia lanjut bukan berarti seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan perhatian.
Di balik wajah seorang lansia yang telah berusia 89 tahun, terdapat perjalanan hidup yang panjang. Ada puluhan tahun kehidupan yang telah dilalui, pengalaman, perjuangan, dan kontribusi yang mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah.
Kini, ketika kekuatan fisik semakin terbatas, perhatian dari lingkungan dan negara menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Bantuan dari masyarakat tentu merupakan bentuk kepedulian yang patut diapresiasi. Namun, perlindungan sosial yang bersifat berkelanjutan tetap diperlukan agar kebutuhan dasar lansia tidak bergantung pada datangnya bantuan secara insidental.
Yudha berharap pemerintah dapat segera melakukan penanganan terhadap persoalan yang dihadapi Abah Anur, baik melalui pendataan maupun koordinasi dengan perangkat daerah terkait.
Harapannya, Abah Anur dapat memperoleh bantuan sosial secara reguler, mendapatkan perhatian terhadap kondisi tempat tinggalnya, serta memperoleh alat bantu dengar yang dibutuhkan.
Harapan di Penghujung Usia
Ada kalanya sebuah bantuan tidak diukur dari seberapa besar nilai yang diberikan, melainkan dari pesan yang dibawanya.
Ketika Yudha datang membawa sembako dan santunan, yang dibawa bukan hanya bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Ada harapan agar kisah Abah Anur tidak berhenti sebagai sebuah kunjungan, kemudian kembali terlupakan setelah rombongan meninggalkan rumahnya.
Justru dari kisah inilah diharapkan lahir perhatian yang lebih panjang.
Di usia 89 tahun, Abah Anur tidak seharusnya merasa sendirian menghadapi kebutuhan hidupnya. Masa tua semestinya menjadi masa ketika seseorang memperoleh rasa aman, perhatian dan penghormatan.
Karena itu, perhatian terhadap Abah Anur bukan hanya tentang satu orang lansia. Kisah ini menjadi cermin bahwa masih ada kelompok masyarakat lanjut usia yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata.
Harapan Yudha pun sederhana:
agar di penghujung perjalanan hidupnya, Abah Anur dapat merasakan bahwa negara dan masyarakat masih hadir untuknya.
Sebab, pada akhirnya, ukuran kepedulian sebuah masyarakat bukan hanya terlihat dari bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang kuat dan produktif, tetapi juga dari bagaimana mereka memperlakukan mereka yang sudah lanjut usia, rentan, dan membutuhkan uluran tangan.
Dan bagi Abah Anur, mungkin yang paling berarti bukan sekadar bantuan yang datang hari ini, melainkan kepastian bahwa esok hari masih ada perhatian yang menunggunya.***Willy

















