• Garut
  • Karawang
  • Purwakarta
  • Bandung
  • Ciamis
  • Cianjur
  • Subang
  • Sukabumi
  • indramayu
No Result
View All Result
  • Login
deJurnal.com
Selasa, Oktober 13, 2026
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel
No Result
View All Result
deJurnal.com
No Result
View All Result

in Budaya

Rajah Bubuka Diposisikan di Penghujung GPBG, Budayawan Garut Soroti Minimnya Pemahaman ‘Tetekon’

bydejurnalcom
Senin, 27 April 2026
Reading Time: 2 mins read
Rajah Bubuka Diposisikan di Penghujung GPBG, Budayawan Garut Soroti Minimnya Pemahaman ‘Tetekon’
ShareTweetSend

Dejurnal.com, Garut – Pelaku budaya Garut, Wa Ratno, menyampaikan kekecewaan mendalam terhadap penempatan Rajah Bubuka dalam rangkaian Gelar Pesona Budaya Garut (GPBG). Menurutnya, prosesi sakral tersebut justru ditampilkan menjelang berakhirnya acara, padahal secara makna dan tradisi seharusnya berada di awal kegiatan.

“Namanya Rajah Bubuka itu sejatinya ditempatkan di awal, bukan menjelang akhir,” ujar Wa Ratno kepada Dejurnal.com, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, dalam bahasa Sunda kata bubuka berarti pembukaan. Karena itu, Rajah Bubuka memiliki fungsi penting sebagai doa pembuka, permohonan izin, sekaligus penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.

BacaJuga :

KDM Tinjau Titik Banjir di Margahayu, Penanganan Sungai Jadi Sorotan

Tetap Berakting di Preman Pensiun, Dena WK Uhen Juga Aktif Mengabdi sebagai Ketua RW

Menko AHY Soroti Pemerataan Infrastruktur Digital, Pembangunan Data Center Harus Perhatikan Lingkungan

Menurut Wa Ratno, ketika prosesi tersebut justru dipentaskan di penghujung acara, makna dasarnya menjadi bergeser.

“Kalau ditempatkan menjelang akhir, namanya bukan Rajah Bubuka lagi, tapi rajah penutup,” katanya dengan nada sindiran halus.

Ia menilai persoalan ini bukan sekadar soal teknis susunan acara, tetapi menyangkut pemahaman dasar terhadap nilai dan tata cara budaya Sunda. Sebab, Rajah Bubuka bukan hiburan biasa yang bisa dipindah sesuka hati, melainkan bagian sakral yang memiliki posisi khusus dalam tradisi.

“Kalau pertunjukan lain seperti jaipongan atau silat, ditempatkan di awal atau akhir mungkin tidak jadi persoalan. Tapi ini Rajah Bubuka, yang memang sejak namanya saja berarti pembuka,” tegasnya.

Wa Ratno (foto istimewa)

Wa Ratno juga mengaku prihatin terhadap citra budaya Garut di mata daerah lain. Ia khawatir kekeliruan tersebut justru menimbulkan kesan bahwa pelaku budaya di Garut kurang memahami akar budayanya sendiri.

“Jangan sampai pelaku budaya di luar Garut menilai kita tidak paham budaya sendiri. Masa Rajah Bubuka saja ditempatkan menjelang penutup,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penilaian terhadap kualitas penampilan bukan inti persoalan. Jika ada kekurangan dalam penyajian, hal itu masih bisa dievaluasi. Namun, yang lebih mendasar adalah menjaga esensi, makna, dan penempatan sesuai pakem budaya.

“Kalaupun dianggap penampilannya kurang bagus, itu soal lain. Tapi esensinya Rajah Bubuka itu pembuka, bukan penutup,” ujarnya.

Wa Ratno berharap ke depan para penyelenggara kegiatan budaya lebih memahami tetekon atau aturan baku dalam tradisi, sehingga acara budaya tidak sekadar menjadi tontonan seremonial.

“Jangan sampai gelar budaya, tapi tidak mencerminkan budaya,” pungkasnya.

Makna Rajah dalam Tradisi Sunda

Dsri beberapa literatur yang dikutip dejurnal.com, Rajah dalam budaya Sunda merupakan tradisi lisan berbentuk mantra, puisi, atau nyanyian puitis yang dilantunkan sebagai doa, permohonan izin, dan perlindungan spiritual. Rajah kerap menjadi bagian penting dalam upacara adat, seni pantun, maupun ritual masyarakat tradisional.

Rajah Bubuka sendiri lazim dibacakan sebelum acara dimulai sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan leluhur, sekaligus memohon keselamatan. Dalam berbagai tradisi, rajah juga digunakan sebelum membuka lahan, menanam padi, atau memulai pekerjaan penting lainnya.

Sebagai warisan budaya, rajah bukan sekadar rangkaian kata-kata, tetapi perpaduan antara seni sastra, spiritualitas, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang diwariskan turun-temurun.***Raesha/Willy

Ikuti Whatsapp Channel deJurnalcom
Previous Post

Lag Lagi Seorang Pria Yang Diduga Pengedar Obat Terlarang Diringkus Satres Narkoba Polres Garut

Next Post

DPRD Garut Serahkan Rekomendasi Catatan Strategis dan Saran Atas LKP Bupati Tahun Anggaran 2025

Related Posts

Perpustakaan Baru dan Edukasi Keuangan Warnai GENIUS OJK di SMPN 2 Ciamis
deNews

Perpustakaan Baru dan Edukasi Keuangan Warnai GENIUS OJK di SMPN 2 Ciamis

Selasa, 13 Oktober 2026
Pemkab Garut Siapkan Penanganan Darurat dan Evaluasi Jangka Panjang Dampak dari Kebakaran TPA Pasibajing
deNews

Pemkab Garut Siapkan Penanganan Darurat dan Evaluasi Jangka Panjang Dampak dari Kebakaran TPA Pasibajing

Selasa, 13 Oktober 2026
Dugaan Carut-Marut PKBM di Garut Disorot, AMPPJ Siapkan Laporan ke Kejati dan Ombudsman
deNews

Dugaan Carut-Marut PKBM di Garut Disorot, AMPPJ Siapkan Laporan ke Kejati dan Ombudsman

Selasa, 13 Oktober 2026
KDM Tinjau Titik Banjir di Margahayu, Penanganan Sungai Jadi Sorotan
deNews

KDM Tinjau Titik Banjir di Margahayu, Penanganan Sungai Jadi Sorotan

Selasa, 13 Oktober 2026
Tetap Berakting di Preman Pensiun, Dena WK Uhen Juga Aktif Mengabdi sebagai Ketua RW
deNews

Tetap Berakting di Preman Pensiun, Dena WK Uhen Juga Aktif Mengabdi sebagai Ketua RW

Selasa, 13 Oktober 2026
Menko AHY Soroti Pemerataan Infrastruktur Digital, Pembangunan Data Center Harus Perhatikan Lingkungan
Nasional

Menko AHY Soroti Pemerataan Infrastruktur Digital, Pembangunan Data Center Harus Perhatikan Lingkungan

Senin, 12 Oktober 2026

ADVERTISEMENT

DeepReport

Cerita Warga : Situs Makam Tumenggung Ardikusumah di Garut Disebut Makam Astana Kalong

Jumat, 30 Juni 2023

Dana CSR Perusahaan Kandang Ayam Manggis Kepada Warga Jamali Belum Signifikan?

Minggu, 3 November 2019

KabarDaerah

Majelis Hijrah Ponpes Al Mubasir Lahirkan Rambo

Rabu, 8 Oktober 2025

Musibah Rob Pantai Indramayu dan Refleksi Akhir Tahun 2022

Minggu, 1 Januari 2023

Polisi Tetapkan Tersangka, Terkait Kejadian Tengelamnya 3 Pria Dalam Pengobatan Spiritual di Cigudeg Bogor

Rabu, 19 Juli 2023

Penguatan Kader dan Konsolidasi Struktur : PKB Garut Gelar PKP dan Musancab Serentak

Minggu, 23 November 2025

Lupa Matikan Mesin Saat Isi BBM, Sebuah Mobil Meledak Di SPBU Warungkondang

Kamis, 22 Oktober 2020

Jadi Program Kerja Unggulan, Ikatan Alumni SMPN 1 Garut Adakan Kegiatan Donor Darah

Minggu, 27 Maret 2022

deJurnal.com

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Patut Dibaca dan Perlu

  • dePrint
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Karir dan Peraturan Perusahaan Pers
  • Pasang Iklan

Ikuti

No Result
View All Result
  • Beranda
  • deNews
  • dePraja
  • dePolitik
  • deEdukasi
  • deBisnis
  • deHumaniti
  • GerbangDesa
  • dejurnal channel

© 2025 dejurnal.com. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Tidak diperkenankan copy paste